46 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Setting penelitian 4.1.1

advertisement
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Setting penelitian
4.1.1 Lokasi Penelitian
4.1.1.1 RS Kesdam IV Diponegoro Semarang
Lokasi penelitian adalah RS Kesdam IV Diponegoro
Semarang. Rumah sakit ini merupakan RS peninggalan
belanda yang bernama Militer Hospital Yuliana. Rumah
sakit ini didirikan atau diresmikan pada tanggal 14
desember 1949 dan merupakan RS tentara yang berada
di Jalan Dr Sutomo Semarang. Penelitian yang dilakukan
peneliti di sini yaitu peneliti mengambil dua perawat yang
bekerja disini dengan pengalaman kerja atau pengalaman
merawat luka sudah lebih dari 5 tahun. Partisipan yang di
pilih peneliti untuk dilakukan wawancara adalah partisipan
dengan inisial YH dan YT dan partisipan untuk objek
amatan peneliti dengan memiliki luka ulkus diabetes
melitus pada kaki dengan jumlah 2 orang.
46
4.1.1.2 Pusat Perawatan Luka Praktek Perawat Mandiri Rose
Prasetya Wound Care
Lokasi penelitian yang ke 2 yang dipakai peneliti
dalam melakukan penelitian adalah di Pusat Perawatan
Luka Praktek Perawat Mandiri Rose Prasetya Wound
Care.Terletak di Jl. Gebang Sari No. 42 RT 04 RW 09
Genuk Semarang. Pusat Perawatan Luka Praktek Perawat
Mandiri Rose Prasetya Wound Care di resmikan pada
bulan januari 2012 dan sudah mengandung ijin praktek
dengan memiliki No. SIPP 449.1/1/BPPT/SIPP/II.
Pemilik dari Pusat Perawatan Luka Praktek Perawat
Mandiri Rose Prasetya Wound Care sudah banyak
melakukan tindakan perawatan luka dengan menggunakan
teknik modern sejak kira - kira 6 tahun yang lalu dengan
mengunjungi rumah – rumah pasien. Pasien di wound Care
ini sudah lebih dari 100 pasien sejak pertama kali Wound
Care ini diresmikan dan mengantongi surat ijin praktek.
Penelitian yang dilakukan peneliti di sini yaitu peneliti
mengambil dua perawat yang bekerja dan sudah memiliki
pengalaman dalam bekerja atau pengalaman merawat
luka. Partisipan yang dipilih peneliti untuk dilakukan
wawancara adalah partisipan dengan inisial SR dan YP
dan partisipan untuk objek amatan peneliti dengan memiliki
47
luka ulkus diabetes melitus pada kaki dengan jumlah 2
orang.
4.1.2 Proses Penelitian
Penelitian
ini
merupakan
penelitian
kualitatif
dengan
pendekatan studi kasus. Penelitian ini hanya ingin mengetahui
tingkat keefektifan dari perawatan luka ulkus diabetes melitus pada
perawatan dengan teknik konvensional dan modern dressing.
Penelitian ini dilakukan di Kota Semarang pada tanggal 12 April
sampai 6 Mei 2016. Data yang diperoleh peneliti didapatkan
melalui proses wawancara dengan 4 partisipan yang ditentukan
oleh peneliti sendiri saat melihat tindakan perawatan luka yang
dilakukan oleh partisipan, observasi dan juga studi dokumentasi.
Kegiatan wawancara dilakukan beberapa hari terakhir sebelum
penelitian selesai. Hal ini dimaksudkan agar peneliti memiliki
banyak waktu untuk mengobservasi klien sekaligus melihat
tindakan perawatan yang diberikan oleh partisipan. Setelah itu
peneliti memilih 4 partisipan untuk peneliti wawancarai. Sebelum
wawancara dilakukan peneliti telah memberikan surat informed
consent
untuk
ditandatangai
sebagai
persetujuan
menjadi
partisipan. Observasi dan studi dokumentasi juga dilakukan oleh
peneliti dalam melakukan penelitian. Peneliti memilih 4 klien
dengan luka ulkus diabetes melitus pada kaki untuk peneliti amati
48
atau observasi. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat data
peneliti dalam melakukan penelitian serta studi dokumentasi untuk
mendukung data dalam penelitian.
Peneliti mengawali proses penelitian dengan mengurus surat
ijin di kantor Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya
Wacana. Peneliti membutuhkan waktu 1 hari untuk mendapatkan
surat dari fakultas untuk selanjutnya diteruskan ke tempat dimana
peneliti akan melakukan penelitian selama kurang lebih 1 bulan.
Selanjutnya peneliti membawa surat resmi permohonan penelitian
dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana
(FIK-UKSW) di instansi dan tempat dimana peneliti akan
melakukan penelitian.
Proses peneliti dalam menentukan partisipan adalah dengan
melihat selama beberapa minggu tindakan perawatan luka yang
dilakukan oleh partisipan kepada objek amatan setelah itu peneliti
melakukan wawancara kepeda partisipan – partisipan tersebut.
Kriteria partisipan untuk diwawancarai dilihat dari pengalam dalam
merawat luka, dan pengalam bekerja sedangkan untuk kriteria
objek amatan atau observasi yaitu memiliki luka di ekstermitas
bawah, berusia kira - kira 40-60 tahun dan melihat data - data
yang terkait dengan klien atau objek amatan peneliti sebagai
pendukung dalam penelitian ini.
49
Hasil observasi yang dipakai peneliti yaitu observasi
partisipastif. Observasi partisipatif dilakukan oleh peneliti dengan
mengambil gambar atau foto kondisi luka selama perawatan luka
dilakukan. Observasi partisipatif dilakukan dengan memperlihatkan
kondisi luka selama perawatan luka. Ini dipakai peneliti untuk
mendukung data penelitian dari peneliti agar peneliti dapat
mengetahui tingkat keefektifan dari masing – masing prosedur.
4.1.3 Gambaran Partisipan Wawancara
Nama
Umur
Jenis
(Inisial)
(Tahun)
Kelamin
YH
24
Laki-laki
Pendidikan
Pekerja
Ket
an
S.Kep Ns
Perawat
Partisipan
Wawancara
Dengan Metode
Konvensional
YT
34
Perempuan
Amd.Kep
Perawat
Partisipan
Wawancara
Dengan Metode
Konvensional
SR
28
Perempuan
S.Kep Ns CWCCA
Perawat
Partisipan
Wawancara
Dengan Metode
50
Modern
YP
25
Laki-laki
S.Kep Ns CWCCA
Perawat
Partisipan
Wawancara
Dengan Metode
Modern
4.1.4 Gambaran Partisipan Observasi
Nama
Umur
Jenis
(Inisial)
(Tahun)
Kelamin
R
61
Perempuan
Pendidikan
Pekerjaan
Ket
SMA
IRT
Partisipan
Observasi
Dengan
Metode
Modern
L
67
Perempuan
SD
Swasta
Partisipan
Observasi
Dengan
Metode
Modern
B
53
Laki-laki
SMA
Swasta
Parstisipan
Observasi
Dengan
51
Metode
Konvensional
S
67
Perempuan
SD
Petani
Partisipan
Observasi
Dengan
Metode
Konvensional
52
4.2 Analisa Data
4.2.1 Tabel analisa data observasi
Hasil Observasi
Pasien 1
Pada pasien 1 dalam perawatan menggunakan
teknik konvensional ketika pertama kali dilihat pada
hari pertama penelitian, luka tampak berwarna
sedikit kehitaman dengan diameter luka yang
Interpretasi
1. Kondisi
awal
1. Kondisi
luka
mempengaruhi
mempengaruhi
kesembuhan luka.
kesembuhan luka.
2. Perawatan
dilakukan
luka
sesuai
SOP
yang ada.
3. Belum
cukup besar kemudian tampak pada daerah sekitar
luka
Sub Tema
terlalu
perubahan yang baik.
luka memiliki warna kemerahan seperti terjadi
infeksi pada luka tersebut. Setelah dilakukan
observasi terus menerus yang peneliti temukan
kondisi luka masih sama seperti sebelumnya.
Pada hari ke 7 perawatan yang dilakukan hanya
53
2. Perawatan luka sesuai
SOP.
3. Belum
terlihat
awal
memunculkan
perubahan
signifikan.
yang
dengan
menggunakan
satu
sarung
tangan,
perawat tidak mengganti sarung tangan bersih
ke sarung tangan steril. Hari-hari berikutnya
belum terlihat perubahan pada luka tersebut.
Perawatan pada luka terus dilakukan dengan
mengunakan alat dan bahan yang disediakan
dari NaCl, Pehidrol, Betadine dan lain-lain dan
mengikuti SOP yang ada. Dua minggu setelah itu
pada hari ke 13 masih tampak kemerahan pada
daerah sekitar luka dan hanya terlihat sedikit
perubahan yaitu warna kehitaman pada luka
sudah hampir hilang bahkan hampir tidak terlihat
namun
kondisi
dari
luka
tersebut
belum
menunjukan perubahan yang begitu banyak.
54
Setelah dua minggu lebih luka yang harusnya
sudah terlihat perubahan namun ini belum
terlalu tampak sama sekali dari kondisi luka
tersebut.
Terlihat sedikit perubahan seperti
jaringan mati mulai menghilang, eksudat masih
tampak dan lain-lain. Namun belum menunjukan
perubahan yang begitu mencolok. Perbedaan yang
peneliti
dapatkan
dari
perawatan
dengan
menggunakan teknik modern setelah hampir dua
minggu
kondisi
luka
mulai
memperlihatkan
perubahan yang signifikan, kondisi luka tampak
sangat baik dari sebelumnya dan bahkan sudah
mulai mengeluarkan jaringan granulasi pada luka
tersebut. Namun pada perawatan luka dengan
55
teknik konvensional ini peneliti belum terlalu
melihat
perubahan
pada
luka
tersebut.
Observasi peneliti lakukan sampai hari ke 24
karena keterbatasan dari waktu serta pasien
pulang.
Pasien 2
1. Kondisi
Pada pasien 2 perawatan yang dilakukan dengan
luka
awal
warna
tampak
kekuningan
dan
sedikit
luka
mempengaruhi
mempengaruhi
kesembuhan luka.
kesembuhan luka.
menggunakan teknik konvensional kondisi luka
yang tampak saat pertama kali di observasi yaitu
1. Kondisi
2. Perawatan
luka
dilakukan sesuai dengan
SOP yang tersedia.
56
awal
2. Perawatan luka sesuai
SOP.
3. Belum
memunculkan
perubahan
yang
mengeluarkan bau yang khas. Perawatan pada
pasien 2 sama dengan pasien 1, yaitu dengan
3. Belum
– lain. Kondisi yang muncul setelah dilakukan
observasi secara terus menerus memunculkan
luka
yang
tetap
sama
terlihat
perubahan yang baik.
menggunakan NaCl, pehidrol, betadine dan lain
kondisi
terlalu
dengan
sebelumnya. Tidak terlalu memunculkan banyak
perubahan dari luka bahkan hampir tidak terlihat
perubahannya. Kondisi luka pada pasien 2 tidak
terlalu berbeda dengan pasien 1 yaitu tidak terlalu
memunculkan perubahan yang dapat dilihat
dengan jelas. Setelah dua minggu kondisi yang
terlihatpun masih sama dan perawatan yang
dilakukan pun tetap menggunakan alat dan bahan
57
signifikan.
yang sama seperti sebelumnya. Observasi peneliti
lakukan sampai hari ke 24 hampir sama dengan
pasien 1 karena keterbatasan waktu.
Pasien 3
Pada pasien 3 perawatan luka yang dilakukan
adalah dengan menggunakan perawatan yang
lebih modern. Hari pertama saat diobservasi
kondisi luka sangat jelek luka tampak hitam dan
1. Kondisi
luka
awal
bau yang khas. Tindakan perawatan luka dengan
luka
awal
mempengarhui
mempengaruhi
kesembuhan pada luka.
kesembuhan luka.
2. Proses
penyembuhan
luka jadi lebih cepat.
3. Perubahan
dari
4. Perawatan
dilakukan
luka
58
proses
3. Menunjukan perubahan
yang signifikan.
luka
sesuai
2. Mempercepat
penyembuhan luka.
terlihat jelas.
keluar eksudat ada nekrosis dan mengeluarkan
1. Kondisi
SOP
4. Perawatan luka sesuai
SOP.
teknik ini berbeda dengan konvesional karena
yand ada.
sudah memakai alat dan bahan yang lebih modern
dari biasanya dan SOP yang dipakaipun berbeda
namun
perawatannya
dilakukan
juga
sesuai
dengan SOP yang sudah ada. Observasi terus
dilakukan pada hari - hari berikutnya namun
kondisi luka masih belum terlihat perubahan masih
sama seperti pertama kali diobservasi. Observasi
terus peneliti lakukan untuk mencari perubahan
dari kondisi luka tersebut. Teknik yang dipakai
dalam perawatan luka ini memiliki keunikan
tersendiri
karena
ternyata
teknik
ini
dapat
membuat perubahan yang begitu signifikan hal
ini peneliti buktikan dengan observasi pada hari ke
59
8
masuk
minggu
perubahannya,
kedua
kondisi
luka
sudah
mulai
terlihat
merah
walaupun masih bau tetapi sudah mulai terlihat
perubahanya. Hal ini peneliti lakukan terus
menerus sampai kondisi luka terlihat lebih baik,
tampak merah, eksudat mulai menghilang, dan
kondisi luka semakin membaik Hampir setiap
minggu menunjukan adanya perubahan. Observasi
peneliti lakukan sampai hari ke 24 dan kondisi dari
luka yang peneliti temukan sudah sangat baik
terlihat perubahan begitu jelas dari pertama kali
peneliti lakukan observasi kondisi luka tampak
merah, eksudat menghilang, bau dari luka
tersebut
hampir
hilang.
Oleh
karena
60
keterbatasan
waktu
maka
peneliti
lakukan
penelitian sampai hari ke 24 tetapi yang peneliti
dapatkan
sangat
banyak
terkait
dengan
perubahan yang terjadi pada luka mulai dari
perubahan
warna
dasarnya,
hampir
memunculkan jaringan granulasi serta kondisi
luka yang semakin membaik walaupun belum
sembuh secara total. Alat dan bahan yang dipakai
dalam metode ini juga menurut peneliti sangat
membantu sehingga membuat kondisi luka jadi
lebih cepat sembuh.
Teknik – teknik yang dipakai dalam metode ini
sangat berbeda. Dalam metode ini lebih diterapkan
kondisi
luka
yang
lembab
berbeda
dengan
61
konvensional yang membuat daerah lingkungan
luka harus tetap kering, karena perawatan dengan
metode
lembab
tidak
akan
menggangu
pertumbuhan sel – sel baru pada luka dan
membuat luka jadi cepat sembuh.
Pasien 4
Pada pasien ke 4 teknik perawatan luka yang di
gunakan sama dengan pasien ke 3 menggunakan
teknik modern dressing dan menggunakan SOP
Modern dressing. Kondisi luka saat pertama kali
1. Kondisi
lukan
awal
1. Kondisi
luka
awal
mempengaruhi
mempengaruhi
kesembuhan pada luka.
kesembuhan luka.
2. Proses
penyembuhan
jadi lebih cepat.
3. Menunjukan
62
perubahan
2. Mempercepat
proses
penyembuhan luka.
3. Menunjukan perubahan
dilakukan observasi yaitu kondisi nya sangat tidak
bagus dimana kondisi luka tersebut warna dasar
yang sangat baik.
4. Perawatan
dilakukan
tampak berwarna kuning banyak mengeluarkan
yang ada.
eksudat serta mengeluarkan bau yang sangat
khas. Pada observasi berikutnya yaitu hari ke 5
yang peneliti temukan masih sama seperti pertama
kali dilakukan observasi. Perawatan pun dilakukan
terus menerus dengan alat dan bahan yang
modern dan juga sesuai dengan panduan yang
ada dan dengan keunikan dari teknik ini seiring
berjalannya waktu dan juga observasi yang
dilakukan saat masuk minggu kedua perubahan
dari luka mulai terlihat walaupun bau yang
dikeluarkan masih sama namun jelas terlihat
63
yang signifikan.
luka
sesuai
SOP
4. Perawatan
luka
dilakukan sesuai SOP.
perubahan. Hal ini berjalan terus menerus pada
hari ke 15 dalam proses observasi warna dasar
pada luka tampak merah, walaupan masih sedkit
mengeluarkan eksudat dan bau namun jelas
perubahannya pada warna dasar luka dimana
kita tahu bahwa warna dasar merah pada luka
menandakan bahwa kondisi luka tersebut akan
sembuh. Ini dibuktikan dari teknik yang dipakai
bahwa memang teknik modern membuat luka jadi
lebih
cepat
sembuh
dengan
menjaga
kelembaban pada luka sehingga tidak menghalagi
pertumbuhan jaringan - jaringan dan sel – sel baru
akibat dari kondisi lingkungan yang kering.
Observasi peneliti lakukan terus sama seperti
64
pasien 3 yaitu sampai hari ke 24 dan yang peneliti
temukan sangat jelas bahwa kondisi dari luka
tersebut terlihat mengalami perubahan yang
sangat baik warna dasar luka tampak sekali
merah,
jaringan
eksduat
menghilang,
Walaupun
perubahan
luka
granulasi
belum
sangat
serta
sudah
bau
sembuh
terlihat
muncul,
berkurang.
total
namun
jelas.
Teknik
perawatan dengan metode ini memang benar jika
membuat kondisi luka jadi cepat sembuh sesuai
dengan observasi yang peneliti lakukan sendiri.
65
4.2.2
Tabel Analisa data wawancara
Pertanyaan 1
Kode
Jawaban
P
:
Bagaimana
mengenai
Interpretasi
pendapat
perawatan
luka
mas
yang
selama ini mas lakukan?
P1Q1A3 RP1 : Dirumah sakit begini… karena
1. Perawatan
luka
Sub Tema
dilakukan
sesuai dengan SOP.
2. Perawatan
luka
1. Perawatan
luka
SOP.
tetap
2. Perawatan
memperhatikan prinsip bersih
memperhatikan
dan steril.
bersih dan steril.
sekarang udah kerja kalau dulu kan
waktu kuliah kita harus benar - benar
sesuai dengan buku SOP itu ya
hmmm.. lalu kita kalau dirumah sakit
kita memang dituntut tetap sesuai
dengan SOP tapi kalau dilapangan
kita sebenarnya…… karena banyak
pasien juga jadi kita harus punya
66
sesuai
luka
prinsip
teknik – teknik lah yang biar kita juga
bisa cepat karena masih harus
megang pasien yang lainnya juga
tapi teknik - teknik itu juga ini… jadi
kita
tidak
meninggalkan
tetap
prinsip bersih dan steril itu tadi.
P : Karena prinsip bersih dan steril
juga berpengaruh pada kondisi luka
benar gak mas?
P1Q1A4
RP1 : Iya benar mas.. jadi selama
saya
melakukan
perawatan
luka
konsep bersih dan steril harus
tetap ada semala beberapa tahun
yang sudah saya jalani selama ini
dalam
perawatan
luka
diabetes
melitus atau luka apapun itu kaya
67
gitu mas… utuk menjaga kondisi
lukanya agar tetap baik gitu….
P : Bisa mba ceritakan bagaimana
pendapat mba mengenai perawatan
luka yang selama ini mba lakukan ?
P2Q1A4
1. Perawatan
merawat
sesuai
luka,
dengan
perawatan
khususnya
kita
merawat
SOP,
tindakan
luka
luka
2. Perawatan
luka
karena
banyak
pasien di rumah sakit juga yaa kita
harus
melakukan
tetap
2. Perawatan
bersih dan steril.
seperti
tindakan
68
sesuai
SOP.
dan steril.
lain yaa harus sesuai dengan SOP
terkadang
luka
memperhatikan
diabetes melitus dan juga luka – luka
tetapi
luka
1. Perawatan
memperhatikan prinsip bersh
dimanapun
-
dilakukan
sesuai dengan SOP.
RP2 : Pendapatnya….. yaa selama
ini
luka
luka
prinsip
perawatan dengan cepat gitu tetapi
harus tetap melihat prisip bersih
dan
steril
dalam
melakukan
perawatan luka yang kita lakukan
gitu
P :
Bisa mba jelaskan bagaimana
pendapat mba mengenai perawatan
luka yang selama ini mba lakukan
1. Proses penyembuhan luka jadi
lebih cepat.
2. Tidak menggunakan betadine
pehidrol dan lain-lain.
P3Q1A4 RP3 : Kalau untuk modern dressing
sendiri itu… eee dalam arti untuk
perawatannya sendiri mungkin itu
akan lebih mahal. Tetapi itu akan
lebih
menghemat
waktu
penyembuhannya dalam arti akan
mempercepat
proses
penyembuhan dari luka sendiri
karena modern dressing itu kan
69
1. Mempercepat
proses
penyembuhan luka.
2. Penggunaan betadine dan
lain-lain tidak dipakai.
basic nya sudah….. aaa eee dari
dressing nya sendiri sudah modern
sudah tidak pake betadine apakah
itu H2O2 yang pehidrol itu jadi kita
sudah gak memakai itu lagi ataupun
yang
metronidasol
serbuk
jadi
memakainya sudah lebih modern.
P : Alat dan bahan pun
sudah
modern yaa mba dan itu akan
menunjang
kesembuhan
lebih
dressing-nya
sudah
cepat?
P3Q1A5 RP3
:
iya
modern dan untuk pencucian luka
sendiri kita juga nda membutuhkan
mengharuskan pake ee dalam arti
betadine
atau
apapun
itu.
kita
70
memakai ee alat dan bahan yang
lebih modern gitu… dan kedua untuk
modern dressing kenapa lebih cepat
menyembuhkan luka itu karena
memakai alat – alat yang ee apa
canggih untuk menunjang proses
penyembuhan
luka
itu
sendiri.
Kondisi luka cepat sembuh karena
kita juga sesuaikan dengan warna
dasar pada luka dan topikal yang
tepat untuk luka itu seperti apa gitu.
P : Berbeda sekali dengan teknikteknik yang lain ya mba kalau
modern yaa sudah modern dan
membuat luka cepat sembuh
71
P3Q1A6 RP3 : Iya sudah sangat modern dan
jelas membuat luka cepat sembuh
mas… benar…
P
:
Bagaimana
mengenai
pendapat
perawatan
luka
mas
yang
1. Menjaga kondisi luka agar
tetap lembab.
selama ini mas lakukan
P4Q1A3 RP4: Maksudnya perawatan luka
yang seperti apa yang mas harapkan
dari jawaban saya?
P : Perawatan luka modern yang
selama ini mas terapkan dalam
merawat luka klien
72
1. Menjaga kelembaban dari
luka.
P4Q1A4 RP4 : Kalau boleh saya ulas lebih
mendalam lagi tentang pertanyaan
yang sudah anda ajukan. Jadi begini
kalau saya sekarang memang benar
sudah memakai perawatan yang
lebih
modern
yaitu
tentang
bagaimana perawatan menggunakan
ehh modern dressing yang sudah
ada terus dengan ee bagaimana
teknik yang kita gunakan itu berbeda
dengan
yang
konvensional
yaitu
mungkin seperti kita lebih menjaga
moist nya dari luka itu sendiri
kelembapan dari luka itu sendiri
jadi istilahnya kaya kita memakai
dressing yang lebih modern dari
mulai salapnya trus dari busa yang
dipakai, balutan yang dipakai… dan
73
juga kita harus melihat eeee kondisi
lukanya kita tetap menjaga kondisi
lukannaya bagaimana kondisi luka
itu biar tetap lembab… alasannya
tetap lembab yaa istilahnya agar pas
membuka balutan tidak terjadi luka
baru akibat dari gesekan – gesekan
balutan yang kalau dirawat kondisi
lingkungan
lukanya
kering
bisa
beresiko gitu mas.. Berikutnya yaitu
bagaimana perawatan modern itu
saya lakukan yaitu lihat menejemen
lukanya
dari
grade
lukanya,
pemilihan topikal yang tepat sesuai
dengan lukannya, jadi setiap kasus
pasti berbeda dressing yang kita
pakai, salap yang kita pakai juga
tentunya disesuaikan dengan kondisi
74
luka itu sendiri
P : Kalau modern berarti lebih
menjaga kelembapan dari luka itu
sendiri ya mas.. juga mempercepat
pertumbuhan jaringan granulasi dan
epitalisasi
P4Q1A5 RP4 : Iya benar mas….
75
Kode
Jawaban
Interpretasi
P : Bagaimana strategi yang mas
terapkan
dalam
perawatan
luka
1. Strategi yang dipakai sesuai
dengan SOP yang tersedia
selama ini?
P1Q2A1 RP1:
Kalau
untuk
saya
sendiri,
biasanya kalau untuk merawat luka
karena pasiennya banyak biasannya tu
kita
cuman
singkat
di…
kalau…..seperti…. inilah kita langsung
ke prosesnya ajalah strategi yang saya
pakai. gini yaa saya contohkan yaa
kita tetap pakai sarung tangan yang
bersih lalu kita buka luka itu, setelah
itu kita lihat kalau memang ada
jaringan – jaringan yang mati kita ambil
dengan peralatan steril yang sudah
76
Sub Tema
1. Perawatan luka sesuai SOP
ada.. kita ambil… lalu kita bersihkan
luka itu kita pakai… kalau diruangan
kebanyakan pake ini… jadi betanine
kalau biasanya kan kita kalau sesuai
urutan kita siram dulu pake NaCl itu
jelas.. lalu setelah itu kita oplos antara
NaCl, betadine, dan pehidrol nahh
untuk membersihkan itu… jadi setelah
jaringan tadi yang mati itu di bersihkan
jadi
kita
siram
luka
tersebut
menggunakan cairan itu tadi… yang
sudah kita campur tadi.. jadi biar
singkat lalu kita siram lagi pake NaCl..
lalu kita tutup luka itu menggunakan….
kalau di sini biasanya pake alevin atau
kasa atau kalau memang luka itu kecil
kita pake supratul haaa gitu. itu sih
mas yang biasa saya lakukan belum
77
terlalu banyak meliliki strategi khusus
dalam merawat luka. Hehehehe iyaa
benar kalau sudah senior kan pasti
sudah banyak strategi yang dipakai
khusus gimana caranya gitu tetapi
tetap sesuai dengan yang seharusnya
kita lakukan. Seperti itu sih mas.
P : Bagaimana strategi yang mba
terapkan
dalam
perawatan
luka
1. Strategi yang dipakai sesuai
dengan SOP yang tersedia
selama ini?
P2Q2A1 RP2 : Luka apa dulu?
P : Luka diabetes melitus
P2Q2A2 RP2 : Nahhh kalau luka DM kita
biasanya merawat luka sehari sekali,
78
1. Perawatan
dengan SOP
Luka
sesuai
untuk obat-obatnya kita sesuai dengan
intruksi dari dokter
P : Alat dan bahan yang biasanya mba
pakai dalam merawat luka DM apa
mba?
P2Q2A3
RP2 : Betadine, Pehidrol, terus..
sama ada untuk luka DM ada obatnya
lagi.
P
:
Bisa
mba
jelaskan
cara
pengguananya?
P2Q2A4 RP2 : Kalau betadine nanti dicampur
dengan NaCl…. itu untuk mencuci
luka, kalau pehidrol kita lihat dari
lukanya…
sesuai
kita
sesuaikan
79
dengan lukanya dan dengan intruksi
dokternya sama ada obat buat DM itu
yang ada kusus buat menyerap nana
biasanya dipakai di sini tetapi juga kita
dengar dari intruksi dokternya gitu..
Belum terlalu banyak strategi atau
apapun yang bisa kita lakukan yak
arena kita bekerja atau kita melakukan
sesuatu sesuai dengan SOPnya yaa
mungkin
itu
strategi
kita
dalam
melakukan tindakan perawatan luka
baik itu luka diabetes melitus ataupun
luka apapun.
P : Bagaimana strategi yang mba
terapkan
dalam
perawatan
luka
selama ini?
1. Strategi yang dipakai yaitu
1. Pengkajian
tetap melakukan pengkajian
dilakukan .
dari berbagai aspek untuk
untuk menentukan support
P3Q2A1 RP3 : Kalau untuk strateginya yang
system
80
serta
apa
yang
Penting
untuk
biasanya
kita
lakukan
yaa..
kita
harus dilakukan.
pengkajian luka harus.. sudah pasti..
entah itu dari besar kecilnya luka itu
sendiri, terus isi dari luka itu sendiri
contoh seperti ada eksudat, terus kita
perlu
juga
komplikasi
mengkaji
dari
pasien
tentang
yang
menderita luka itu sendiri. Ini penting
karena untuk ehh support system
selanjutnya
kita
perlu
untuk
menetapkan edukasi apa yang bisa
menunjang
untuk
proses
penyembuhan luka sendiri.
P : Berarti kalau modern semuanya
dikaji
yaa
mba
jadi
asuhan
keperawatannya lebih kompleks gitu ?
81
P3Q2A2 RP3 : Iya benar kalau modern itu
memang
segala
system.
lebih
aspek
sering
dikaji
nutrisi,
benar
agar
dari
support
asuhannya
kompleks gitu. Sebenarnya hal – hal
seperti itu harus terus diterapkan yaa
dalam perawatan luka dengan metode
apapun supaya kita juga tahu kondisi
yang sebenarnya dari klien, apa yang
seharusnya dia lakukan, apa yang
tidak harus dikonsumsi oleh klien. nah
strategi – strategi seperti itu yang
akan lebih menunjang kita untuk apa
yang
seharusnya
kita
lakukan
terhadap klien tersebut untuk proses
penyembuhan luka itu sendiri.
82
P : Bagaimana strategi yang mas
terapkan
dalam
perawatan
luka
selama ini?
1. Pemilihan obat yang sesuai
dengan warna dasar pada
luka.
2. Menjaga kondisi luka agar
tetap lembab.
P4Q2A1 RP4 : Strateginya dari saya pribadi
yang saya pakai yaitu dari pemilihan
balutannya, melihat model lukanya,
apakah
ada
eksudat,
eksudanya
banyak atau tidak terus eee,, Lukanya
apakaah
masih
pokoknya
strateginya
juga
warna
memerah
dasar
gitu..
kita
melihat
dari
lukanya
sebelum kita memilih topikal atau
obat yang pas untuk luka dengan
warna dasar dari luka itu sendiri,
pokoknya pemelihan topikal dari luka
83
1. Tepat dalam pemilihan topical
sesuai warna dasar luka.
2. Menjaga
luka.
Kelembaban
dari
itu sendri harus benar-benar sesuai
dengan kondisi luka agar kesembuhan
lukanya juga semakin cepat sama itu
tadi eee apa… menjaga kelembapan
dari
luka
itu
sendiri
agar
tetap
lembab seperti yang sudah saya
bilang ke masnya tadi di pertanyaan
sebelumnya seperti itu. karena luka
dalam kondisi lembab kan akan lebih
cepat memunculkan jaringan granulasi
dan epitalisasi jaringan itu sih kalau
menurut
teori
modern.
Pokoknya
strategi – strategi yang baguslah yang
harus
kita
pakai
demi
untuk
menunjang kondisi kesembuhan luka
dari
klien
itu
sendiri.
dan
juga
bagaimana caranya kita agar kita
dapat mengurangi rasa cemas dari
84
klien akibat ada luka yang di deritanya
seperi itu mas.
Pertanyaan 3
Kode
Jawaban
P : Apa keuntungan dan kerugian dari
metode yang biasa dipakai?
Interpretasi
1. Bekerja
dikejar
sehingga
meperhatikan
P1Q3A1
RP1 : Keuntungannya ya itu secara
luka.
waktu kita jelas lebih cepat istilahnya..
lalu lebih cepat itupun kita juga tidak
meninggalkan prinsip bersih dan steril
itu… lalu keuntungan lainnya yaa.. itu
sih jadi sehingga kita bisa memegang
85
Sub Tema
waktu
kurang
kebersihan
1. Waktu
menjadi
kendala
dalam perawatan luka.
pasein – pasien yang lain karena
waktu di rumah sakit kan terbatas
dan pasien bukan Cuma satu saja
begitu.. jadi….. ada untungnya juga sih
dengan bekerja lebih cepat maka kita
bisa berpindah ke pasien – pasien
yang lain.
P : Kalau kerugiannya ada gak mas
bisa di jelaskan?
P1Q3A2
RP1 : Kalau kerugian… mungkin
secara kerugian kalau lebih cepat
seperti itu tu… luka itu jadi cepat
kemungkinan untuk luka itu tidak
100 % bersih itu mungkin ada..
jelas…karena kan kita juga bekerja di
kejar waktu ada pasien – pasien yang
86
lain juga yang membutuhkan tindakan
seperti
itu
mas.
Tidak
menutup
kemungkinan kalau hal – hal seperti itu
bisa terjadi dengan kondisi luka yang
di alami oleh klien yang kita rawat.
P : Apa keuntungan dan kerugian dari
metode yang biasa dipakai?
P2Q3A1
RP2 : Keuntungannya itu setiap kali
1. Bekerja
kurang
memperhatikan
kondisi
luka.
bahannya sudah tersedia karena di
sediakan oleh pihak rumah sakit dan
eee…
walaupun
kita
SOP
nya
bekerjanya
waktu
sehingga
kita mau melakukan tindakan alat dan
juga..
dikejar
tersedia
harus
terburu - buru karena banyak pasien
87
1. Waktu
menjadi
kendala
dalam perawatan luka.
yang harus ditangani lagi tapi yaa itu
tadi alat dan bahannya sudah ada.
waktu kita jelas lebih cepat istilahnya..
lalu lebih cepat itupun kita juga tidak
meninggalkan prinsip bersih dan steril
itu… lalu keuntungan lainnya yaa.. itu
sih jadi sehingga kita bisa memegang
pasein – pasien yang lain karena
waktu di rumah sakit kan terbatas
dan pasien bukan Cuma satu saja
begitu.. jadi….. ada untungnya juga sih
dengan bekerja lebih cepat maka kita
bisa berpindah ke pasien – pasien
yang lain.
P : Kalau kerugiannya ada gak mba
bisa di jelaskan?
88
P2Q3A2 RP2: Kalau kerigian… ya mungkin
mungkin ada yaa… secara karena kita
kan bekerja di Rumah Sakit jadi waktu
kita sangat terbatas untuk hanya
mengurusi satu pasien saja.. berbeda
kalau kita hanya punya satu pasien
pastinya kita hanya fokus ke dia saja
tapi di sini kan banyak pasien jadi
waktu kita juga terbatas.. tapi itu tadi
dalam bekerja kita juga harus tetap
hati – hati dan sesuai prosedur yaa
walaupun dikejar - kejar waktu tapi
tetap harus sesuai. dan juga…. atau
mungkin ada dalam bekerja kurang
memperhatikan kebersihan atau apa
gitu sehingga luka jadi lama sembuh
atau hal – hal apalah yang seharusnya
tidak boleh terjadi tetapi terjadi nah itu
89
mungkin yang harus kita perhatikan
lagi seperti itu.
P : Apa keuntungan dan kerugian dari
metode yang biasa dipakai?
1. Proses penyembuhan luka
jadi lebih cepat.
2. Mecegah amputasi.
P3Q3A1
RP3 : Kalau keuntungannya jelas yang
terus
melibatkan
eee
apa
keluarga
kita
dalam
lebih
setiap
perawatan luka karena kita kan eee
wound care nya lebih ke keluraga juga
yaa..
jadi
setiap
perawatan
proses
penyembuhan luka.
2. Pencegahan
sejak
terhadap amputasi.
tadi.. mempercepat penyembuhan
luka.
1. Mepercepat
pasti
didampingi sama keluarga. Keluarga
selalu ada kemudian keluarga juga jadi
lebih mengerti tentang kondisi luka
yang diderita anggota keluarganya
90
dini
pada akhirnya kan keluarga jadi lebih
paham gitu.
P : Adakah kerugian dari metode yang
di gunakan selama ini?
P3Q3A2 RP3 :Kalau kerugian sih sampe saat
ini belum terlihat.. malah justru lebih..
lebih apa yaa… lebih cepat malah
justru
kita
bisa
mencegah
yang
namanya sejak dini amputasi.. jadi
cegah
sejak
amputansi…
dini
jadi
kita
kita
stop
membantu
keluarga dan pasien untuk mengurangi
dan mengatasi rasa cemas dari
ancaman amputasi
91
P : Berarti kalau metode – metode lain
selain
ini
mungkin
ada
ancaman
amputasi ya mba?
P3Q3A3 RP3 : Iya.. luka sediki ada eksudat
langsung bisa saja diamputasi.. kalau
metode modern lebih mengedepankan
pencegahan
sejak
dini
jangan
sampai terjadi amputasi.
P :Apa keuntungan dan kerugian dari
metode yang biasa dipakai?
P4Q3A1
1. Proses penyembuhan luka
jadi lebih cepat.
RP4 : Keuntungannya ya sudah pasti
sangat banyak kalau dari saya….
kalau modern dressing di tempat
saya…. kalau metode lain maaf saya
membandingkan dengan metode lain..
kalau metode lain mungkin akan selalu
92
1. Mepercepat
penyembuhan luka.
proses
dibuka
balutannya..
tertapi
kalau
dressing yang saya pilih tergantung
dengan ehh karakter lukanya yaa
mungkin 1 minggu 1
sampai 2 kali
atau setiap 14 hari sekali juga ada…
yaa mungkin lebih praktis lah dan lebih
ekonomis serta membuat luka cepat
sembuh ya istilahnya lebih ekonomis
ke pasiennya
P : Apakah ada kerugian dalam
menjalankan metode ini?
P4Q3A2
RP4 : Kerugiannya ya mungkin bukan
lebih ke dressing atau apa ya… tetapi
lebih ke pengetahuan masyarakat kali
ya.. yaa mungkin masyarakat belum
terlalu paham tentang perawatan lebih
93
modern sepertinya… atau mungkin
kerugiannya juga dari kita sendiri yang
belum terlalu banyak memamerkan
produk – produk ini ke pasien – pasien
luka dan mungkin juga tidak semua
pasien bisa.. ehhh maksudnya kan
tidak semua pasien kan mempunyai
maksudnya ekonominya.. ekonominya
yang agak menengah ke atas gitu.
94
Pertnyaan 4
Kode
Jawaban
Interpretasi
P : Adakah ada kendala dalam
menjalankan metode yang biasa mas
pakai?
1. Keterbatasan Waktu yang
menjadi kendala.
2. Kondisi
kendala.
P1Q4A1 RP1 : Kendala paling yaa cuman
kalau yaa.. apa…luka itu besar lalu
mungkin jelek lah kondisi luka itu..
jadi kita harus ini dulu ke dokter kan…
kita harus bilang ke dokter untuk
perawatannya dokter menghendaki
seperti apa lalu kalau emang dokter
sudah mengasih advisnya.. luka itu
dirawat seperti apa lalu kita jalankan
seperti itu kemudian yaa apalagi yaa..
mungkin waktu juga ya yang menjadi
kendala
kita
lagi
Sub Tema
karena
95
luka
1. Waktu
menjadi
kendala
dalam perawatan luka.
menjadi
2. Kondisi luka menjadi kendala
dalam perawatan luka.
keterbatasan waktu itu tadi maka
kita bekerja harus cepat dan sesuai
nah itu yang menjadi kendala juga
buat saya pribadi karena jujur kadang
kala saya kewalahan dan kalang
kabut juga karena pasien – pasiennya
banyak kan mas jadi mau gak mau
kita harus… eee kita dituntut untuk
bekerja cepat itu mungkin kendala
yang akan selalu ada yaa dalam
bekerja dirumah sakit.
P : Kalau di sini kebanyakan luka apa
mas?
P1Q4A2
RP1: Di sini kebanyakan luka DM
mas.
96
P : Adakah ada kendala dalam
menjalankan metode yang biasa mba
pakai?
1. Kondisi
luku
menjadi
kendala.
2. waktu menjadi kendala .
1. Kondisi luka menjadi kendala
dalam perawatan luka.
2. Waktu
menjadi
kendala
dalam perawatan luka.
P2Q4A1 RP2 : Kendala apa yaa.. mungkin
kalau bilang kendala….. mungkin bagi
kita tergantung dari kondisi lukanya
juga ya kalau lukanya cuma ehhh apa
maksudnya kondisi lukanya masih
kecil ya mungkin akan lebih mudah
bagi kita dalam melakukan tindakan
perawatan luka tetapi kalau kondisi
luka yang sudah parah banget ….
luka – luka diabetes melitus kan
kebanyakan kaya gitu pasien datang
berobat dengan kondisi luka yang
sudah sangat parah nah mungkin
97
itu sih yang agak menjadi kendala
maksudnya apalagi kalau luka itu
besar lalu mungkin jelek sampai
sudah
mengeluarkan
banyak
eksudat dan bauhlah.. nah kan kita
harus benar – benar memperhatikan
itu tetapi kita kerja kan bukan cuma di
situ saja banyak yang harus kita kerja
mungkin kendalanya di situ ya mas..
pada akhirnya kan luka itu kita rawat
terburu – buru ya walaupun nanti
diganti balutannya lagi tapii mungkin
saja bisa terjadi ada sedikit kelupaan
apa gitu.. mungkin itu sih kendala
nya….
kembali
yaa
ke
ujung
waktu
–
ujungnya
lagi
karena
keterbatasan waktu gitu loh mas.
98
P :
Adakah ada kendala dalam
1. Pengetahuan
menjalankan metode yang biasa mba
mengenai
pakai
perawatan.
2. Pengetahuan
P3Q4A1 RP3 : Mungkin kendalannya satu
modern dressing itu kan teknologinya
untuk dressing nya sendiri itu kan
banyak
dressing tergantung dengan tipe luka
yang kita tangani nah itu lebih mahal
kesannya.. kesannya lebih mahal…
tetapi
modern
sebenarnya
dressing
karena
pake
mempercepat
penyembuhan luka yang tadinya
harus dirawat 6 bulan ini menghemat
biaya
tapi
setelah
kita
jelaskan
99
1. Pengetahuan
keluarga
keluaraga
terhadap biaya perawatan.
2. Pengetahuan
yang akan dipakai.
pasien dan keluarga akan kaget,
banyak….
biaya
mengenai obat – obatan
lebih canggih mungkin pertama kali
melibatkan
keluarga
keluaraga
terhadap penggunaan obatobatan.
manfaat – manfaatnya ke keluarga….
keluarganya lebih banyak mengerti
nda ada masalah gitu keluarga jadi
lebih
banyak
paham
tentang
tindakan yang akan kita lakukan
karena
itu
tadi
kita
melibatkan
keluarga.
P : Apakah waktu menjadi kendala
selama perawatan ini dilakukan?
P3Q4A2
RP3 : Saya rasa waktu gak akan jadi
masalah justru malah waktu kita akan
lebih banyak dengan pasien dan
keluarga jadi kita benar – benar fokus
dengan luka itu, luka pada pasien itu
dan juga memiliki banyak waktu untuk
berdiskusi
dengan
klien
ataupun
100
dengan keluarga klien tentang kondisi
luka yang dialami oleh klien itu
sendiri.. jadi waktu kita lebih banyak
gitu yaa tujuannya yaa cuma satu sih
yang penting klien dan keluarganya
paham tentang perawatan yang kita
lakukan dan mereka percaya gitu.
P : Adakah ada kendala dalam
menjalankan metode yang biasa mas
1. Pengetahuan
perawat
perlu ditingkatkan lagi.
pakai?
1. Peningkatan
pengetahuan
perawatan terhadap metode
perawatan luka modern.
P4Q4A1 RP4 : Kendalanya mungkin.. kalau
bagi saya kendalanya luka ulkus itu
tidak hanya ulkus tapi banyak ulkus
yang menjurus kebanyakan penyakit
yang lebih baru lagi jadi kita perlu
101
tetap
belajar
terus
mungkin
itu
kendalanya tapi sekaligus menjadi
tantangan bagi kita agar kita benar –
benar
dapat
memahami
metode
modern dressing ini dengan baik
gitu
P : Berarti kendalanya mungkin lebih
ke kita perawat yang merawat luka
yaa..
karena kita memang
perlu
mendalami metode yang kita pakai
kalau tidak ya akan bahaya bagi klien
kita
P4Q4A2 RP4 : Iya benar mas karena juga apa
karakter luka kan tidak hanya ulkus
102
tapi bisa saja akan memunculkan luka
baru - luka baru jadi pendalaman
materi dan pengetahuan kita juga
harus terupdate itu sih kalau kendala
bagi saya… ya saya perlu belajar
dan belajar lagi sih tetapi itu yang
saya bilang tadi menjadi tantangan
tersediri juga bagi saya tapi saya
menikmatinya sih mas
103
Pertnyaan 5
Kode
Jawaban
Interpretasi
P : Keterampilan atau pengembangan
skill mas dapatkan dari mana?
P1Q5A1 RP1 : Didapat dari perkuliahan itu
jelas,
kemudian
dapat
dari
pengalaman juga yang jelas di dalam
Sub Tema
1. Ketrampilan
kan
dapat
–
dan mengikuti seminar.
pengalaman
seminar – seminar.
banyak
merawat luka, itu sih yang paling……
istilahnya
paling
keren
lah
pengalaman itu, karena kalau di
kampus waktu kuliah dulu kan kita
cuman dapat ibaratnya teori terus nda
langsung
ke
pasien
kan
selama
bekerja dan juga mengikuti
pengalaman – pengalaman dalam
yaa
1. Pengembangan
didapat
merawat luka untuk kita lakukan. nah
situ
dari
perkuliahan dan pengalaman
pekerjaan kan pasti di kasih tindakan
dari
didapat
hmmm
104
dari
skill
pengalaman
seperti itu
P : Apakah ada training yang di
rekomendasikan dari mas sendiri?
P1Q5A2 RP1 : Training – training kalau
menurut saya yaa ikut – ikut seminar
itu karena apa ilmu keperawatan kan
berkembang terus kan jadi sangat
penting
bagi
mengetahui
kita
juga
perkembangan
untuk
–
perkembangan itu. Jadi ya dengan
training, Seminar yaa bisa membantu
itu loh mas rekomendasinya.
105
P : Ketrampilan atau pengembangan
Skill didapat dari mana?
P2Q5A1 RP2
:
Di
seminar
–
dapat
dari
seminar,
1. Mengikuti berbagai seminar
dan pelatihan.
kemudian
dari Rumah Sakit untuk kami yang
bekerja didalamnya… yaaa istiahnya
untuk meng update ilmu – ilmu
terbaru tentang apa saja dan juga
didalamnya
ada
didapat
dari
skill
mengikuti
seminar dan pelatihan.
mengikuti
pelatihan – pelatihan yang diberikan
yang
1. Pengembangan
tentang
perawatan – perawatan luka dan juga
penggunaan – pengunaan obat dan
lain sebagainya seperti itu
P : Apakah ada training yang di
rekomendasikan dari mba sendiri?
P2Q5A2 RP2 : Training…. yaa kalau training
selama ini yaa kita sudah ada fasilitas
106
dari Rumah Sakit dan sudah di
sediakan secara berkala untuk setiap
karyawan yang bekerja
P
:
Kalau
training
rekomendasikan
dari
yang
mba
di
sendiri
untuk kita gitu seperti apa?
RP2 : Kalau training yang bisa saya
P2Q5A3
rekomendasikan
ya
kalian
harus
banyak mengikuti seminar – seminar
dan
juga
tentang
–
pelatihan
apa
aja
pelatihan
dalam
dunia
keperawatan ya salah satunya yang
seperti kamu sekarang ini harusnya
banyak mengikuti seperti seminar
atau pelatihan seperti itu. contoh
misalnya
di
kampus
kalau
lagi
mengadakan seminar seperti itu ya
107
kalian harus ikut untuk menambah
wawasan kalian dan pengetahuan
kalian
nanti
supaya
ketika
menghadapi dunia kerja kan kalian
juga memiliki ilmu tambahan dari
seminar – seminar tersebut.
108
P : Ketrampilan atau pengembangan
Skill didapat dari mana?
1. Mengikuti berbagai seminar
dan pelatihan.
pelatihan itu sudah pasti jelas…
pelatihan – pelatihan Wound Care,
Pelatihan Wound Ostomy sama
Incontinential itu juga kita kolaborasi
dalam tiga ilmu itu nah kita dapatkan
dari sana skill nya.
P : Kalau pelatihan seperti CWCCA
seperti itu pernah ikut berarti?
RP3 : Iya sudah pasti pernah…
rencananya
nanti
kan
didapat
dari
skill
mengikuti
seminar dan pelatihan.
P3Q5A1 RP3 : Di dapat dari pelatihan –
P3Q5A2
1. Pengembangan
ada
peningkatan setiap saat kan update
nanti bisa ada pelatihan yang lebih
lagi, lebih apa yaa….. kita akan dapat
ilmu yang baru – baru lagi dari
109
pelatihan – pelatihan yang kita ikut
terkait
dengan
dengan
perawatan
menggunakan
luka
metode
modern dressing ini. akan menambah
apa yaa istilahnya pengetahuan kita
lagi karena apa seseorang yang
bekerja
atau
perawatan
melakukan
luka
dengan
tindakan
metode
modern sudah pasti atau diwajibkan
untuk meng update ilmu – ilmu
terbaru atau topikal – topikal yang
terbaru
supaya
pengetahuan
kita
akan metode modern ini juga ikut ter
update. Tidak hanya mengetahui satu
topical saja namun banyak topical
atau obat, karena di modern dressing
ini memiliki banyak obat dan juga
banyak merek yang berbeda – beda
110
jadi akan sangat penting bagi kita
untuk bisa mengetahuinya lebih dan
lebih lagi seperti itu.
P : Apakah ada training yang di
rekomendasikan dari mba sendiri?
P3Q5A3
RP3 : Ada sudah pasti ada apalagi
buat yang pengen mengerti atau
mempelajari
ilmu
terbaru
tentang
perawatan luka, yaa contohnya ikut
CWCCA itu. Itu harus karena apa
sebagai Basic atau dasar dalam
perawatan luka supaya kita punya
rekomendasi di bidang luka itu satu.
yang kedua kalau benar – benar kita
mau terjun lagi itu ada yang namanya
CWCC jadi itu di atasnya CWCCA,
jadi kalau CWCCA itu basic CWCC itu
111
di atasnya lagi yang paling tertinggi
nanti ETN, kalau ETN itu jadi nanti
antara
Wound,
Ostomy,
Incontinetial jadi 3 itu nanti jadi
satu….. nah di ETN sendri jadi nanti
kita berhak untuk aaa… bisa diberi
kewenangan
pembicara,
untuk
dan
juga
menjadi
kita
boleh
mengadakan pelatihan – pelatihan
untuk luka yang dasar.
P : Mba kalau boleh tahu harganya
untuk kita bisa mengikuti pelatihan –
pelatihan seperti tadi dari CWCCA,
CWCC sampai ETN kira – kira berapa
banyak yang harus kita keluarkan?
RP3 : kalau CWCCA kayknya sekitar
112
P3Q5A4 3.000.000,
kalau
CWCC
sekitar
15.000.000 dan yang paling mahal
sudah pasti ETN sekitar 35.000.000
tapi
biasanya
itu
juga
ada
beasiswanya kaya gitu, kalau kita
memiliki skill yang baik nanti kita
dapat beasiswa.
P : Ketrampilan atau pengembangan
Skill didapat dari mana?
1. Mengikuti berbagai seminar
dan pelatihan.
1. Pengembangan
didapat
dari
skill
mengikuti
seminar dan pelatihan.
RP4 : Kalau saya sendiri mengikuti
P4Q5A
pelatihan dari CWCCA Di situ kita
diberi pelatihan dasar khusus dalam
merawat luka dan juga mengenai
113
berbagai macam topikal obat – obat
modern
kemudian
saya
terapkan
sedikit - sedikit seperti ini. dan juga
banyak mengenai topikal – topikal tu
dari teller obat yang bekerjasama
dengan
kita
terbarunya.
untuk
Jadi
obat
–
meraka
obat
akan
menjual dressing – dressing terbaru
seperti
untuk
seperti
apa,
menyerap
eksudat
menghilangkan
bau
seperti apa dan sebagainya seperti itu
mas.
P : Apakah ada training yang di
114
rekomendasikan dari mas sendiri?
RP4 : Kalau menurut saya sebagai
P4Q5A2
dasar,
kalian
pelatihan
wajib
CWCCA
untuk
ikut
untuk
pengetahuan awal kalian mengenai
perawatan
luka
dengan
menggunakan
metode
modern
dressing nanti ada yang lebih tinggi
dari CWCCA lagi tapi saran saya ikuti
yang dasar dulu sampai kalian sudah
paham
mengenai
pengobatan
modern baru setelah itu kalian bisa
lanjut lagi ke yang lebih tinggi untuk
115
dapat ilmu – ilmu terbaru seperti itu.
116
4.2.3
Tabel analisa data sub tema dan tema
Sub Tema
Pertanyaan I
Tema
1. Prosedur perawatan luka dilakukan sesuai SOP
1. Perawatan luka sesuai SOP.
(*ST1Q1P1, ST1Q1P2, ST1Q2P1, ST2Q2P2, ST2OP1, ST2OP1
2. Perawatan luka memperhatikan prinsip bersih dan
ST4OP3, ST4OP4)
steril.
1. Perawatan luka sesuai SOP.
2. Perawatan luka dilakukan dengan memperhatikan prinsip
2. Perawatan luka memperhatikan prinsip bersih dan
bersih dan steril
steril.
( ST2Q1P1, ST2Q1P2)
1. Mempercepat proses penyembuhan luka.
2. Penggunaan betadine dan lain-lain tidak dipakai.
3. Perawatan
luka
modern
mempercepat
proses
penyembuhan luka dengan menjaga kelembaban pada
luka dan pemilihan topikal yang tepat
1. Menjaga kelembaban dari luka.
(ST1Q1P3,
ST2Q1P3,
ST1Q1P4,
ST1Q2P3,
ST1Q2P2, ST1Q3P3, ST1P3P4, ST2OP3, ST2OP4)
117
ST1Q2P4,
4. Kondisi luka awal merpengaruhi kesembuhan pada luka
(ST2Q4P1, ST1Q4P2, ST1OP1, ST1OP2, ST1OP3, ST1OP4,
Pertnyaan 2
ST3OP1,2,3,4)
1. Perawatan luka sesuai SOP.
1. Perawatan Luka sesuai dengan SOP.
5. Waktu
menjadi
kendala
dalam
perawatan
luka
konvensional
( ST1Q3P1, ST1Q3P2, ST1Q4P1, ST2Q4P2)
1. Pengkajian penting untuk dilakukan.
2. Tepat dalam pemilihan topikal sesuai warna dasar
luka.
6. Peningkatan pengetahuan keluarga dan perawat terhadap
perawatan luka modern (ST2Q3P3, ST1Q4P3,ST1Q4P4)
1. Menjaga Kelembaban dari luka.
118
7. Pengembangan skill dan ketrampilan didapat dari seminar
dan pelatihan (ST1Q5P1,2,3,4)
Pertanyaan 3
1. Waktu menjadi kendala dalam perawatan luka.
1. Waktu menjadi kendala dalam perawatan luka.
1. Mepercepat proses penyembuhan luka.
2. Pencegahan sejak dini terhadap amputasi.
1. Mepercepat proses penyembuhan luka.
Pertnyaan 4
1. Waktu menjadi kendala dalam perawatan
luka.
2. Kondisi
luka
menjadi
kendala
dalam
119
perawatan luka.
1. Kondisi
luka
menjadi
kendala
dalam
perawatan luka.
2. Waktu menjadi kendala dalam perawatan luka.
1. Pengetahuan
keluaraga
terhadap
biaya
perawatan.
2. Pengetahuan keluaraga terhadap penggunaan
obat-obatan.
1. Peningkatan
pengetahuan
perawatan
terhadap metode perawatan luka modern.
120
Pertanyaan 5
1. Pengembangan skill didapat dari pengalaman
dan mengikuti seminar.
1. Pengembangan skill didapat dari mengikuti
seminar dan pelatihan.
1. Pengembangan skill didapat dari mengikuti
seminar dan pelatihan.
1. Pengembangan skill didapat dari mengikuti
seminar dan pelatihan.
121
Hasil Observasi
1. Kondisi luka awal mempengaruhi kesembuhan
luka.
2. Perawatan luka sesuai SOP.
3. Belum memunculkan perubahan yang signifikan.
1. Kondisi luka awal mempengaruhi kesembuhan
luka.
2. Perawatan luka sesuai SOP.
3. Belum memunculkan perubahan yang signifikan.
1. Kondisi luka awal mempengaruhi kesembuhan
luka.
2. Mempercepat proses penyembuhan luka.
3. Menunjukan perubahan yang signifikan.
122
4. Perawatan luka sesuai SOP.
1. Kondisi luka awal mempengaruhi kesembuhan
luka.
2. Mempercepat proses penyembuhan luka.
3. Menunjukan perubahan yang signifikan.
4. Perawatan luka dilakukan sesuai SOP.
123
Keterangan :
*ST
: Sub tema
Q
: Question
P
: Partisipan
OP
: Observasi Partisipan
124
4.3 Hasil Penelitian
4.3.1 Grafik Hasil Penelitian
4.3.2 Grafik Perbandingan Perawatan Luka Konvensional dan Modern
( Sumber : Pribadi Peneliti)
Gambar 4.3.3 Luka dengan perawatan luka modern hari ke 20
(Sumber : Pribadi Peneliti)
125
Gambar 4.3.4 Luka dengan perawatan luka konvensional hari ke 20
(Sumber : Pribadi Peneliti)
Grafik dan gambar diatas merupakan gambaran dari hasil observasi
yang
dilakukan peneliti pada kedua metode perawatan luka yaitu
perawatan luka dengan menggunakan teknik konvensional dan
perawatan luka dengan menggunakan teknik modern. Dalam penelitian
ini semua partisipan memiliki keadaan kondisi luka yang sama yaitu
berada pada fase inflamasi sejak pertama kali dilihat kondisi luka dari
masing – masing partisipan. Berdasarkan grafik 4.3.1 diatas dapat
dijelaskan mengenai perbandingan keefektifan dari kedua metode
tersebut yang peneliti lakukan selama 24 hari. Ada 4 partisipan
observasi yang peneliti angkat yaitu 2 partisipan menggunakan teknik
perawatan luka konvensional dan 2 partisipan menggunakan teknik
perawatan luka modern. Dapat dilihat pada grafik diatas bahwa
partisipan yang melakukan perawatan dengan teknik modern memiliki
perubahan pada hari ke 8 yaitu bau pada luka berkurang, tampak
126
kemerahan pada luka serta eksudat pada luka juga berkurang
dibandingan dengan hari – hari sebelumnya dimana didapatkan kondisi
luka yang sangat bau dan berwarna kehitaman serta memiliki banyak
eksudat. Kemudian pada hari ke 12 didapatkan kondisi luka semakin
membaik dengan munculnya warna kemerahan pada luka serta eksudat
dan bau mulai menghilang. Hal ini berlangsung terus menerus hingga
pada hari ke 20 dan ke 24 dimana peneliti temukan luka yang sudah
memunculkan jaringan granulasi, tidak terlihat eksudat sama sekali
serta kondisi luka yang semakin membaik seperti pada gambar 4.3.2.
Partisipan ke 2 dengan perawatan modern juga memiliki perubahan
pada hari ke 10 dimana kondisi luka yang sebelumnya bau dan
berwarna kekuningan jadi berkurang serta ekusdat yang sebelumnya
banyak sudah mulai berkurang. Hari ke 15 luka tampak mulai membaik
dengan warna dasar luka yang mulai memerah walaupun masih bau
dan masih mengeluarkan eksudat. Pengamatan terus peneliti lakukan
pada hari ke 20 hingga hari ke 24 dan peneliti temukan warna dasar
luka tampak merah, eksudat berukurang, hampir memunculkan jaringan
granulasi serta bau yang sudah mulai menghilang. Terjadi perubahan
yang begitu signifikan dari kedua partisipan dengan metode modern
dressing dan kondisi luka dari kedua pasien juga semakin membaik.
Berbeda dengan partisipan yang melakukan perawatan luka dengan
metode konvensional dimana hampir tidak terlihat perubahan sama
sekali bahkan kondisi luka untuk kedua partisipan dengan teknik ini
127
belum mencapai tahap munculnya jaringan baru. Terlihat sedikit
perubahan dan terjadi hanya pada hari ke 12 dimana bau dari luka mulai
berkurang namun kondisi luka masih sama seperti biasanya yaitu
tampak kehitaman pada luka, dan pada hari ke 20 peneliti temukan hal
yang sama dimana hanya terjadi sedikit perubahan pada luka yaitu luka
masih tampak sedikit kehitaman dan belum memunculkan jaringan
granulasi seperti pada gambar 4.3.3. Pasien ke 2 dengan metode
konvensional juga mengalami hal yang sama yaitu hanya memunculkan
sedikit perubahan pada hari ke 18 dengan hanya mengeluarkan sedikit
eksudat dan sedikit berbau. Pada hari ke 20 luka tidak mengeluarkan
eksudat dan bau pada luka mulai menghilang. Perawatan terus menerus
dilakukan dari minggu ke minggu namun perubahan yang diharapkan
belum begitu terlihat pada luka dari kedua pasien dengan menggunakan
metode ini. Observasi dilakukan sampai dengan hari ke 24 namun
kondisi luka tidak menunjukan berubahan yang berarti, dan belum
memunculkan jaringan granulasi dibandingkan dengan metode modern
dressing yang memunculkan perubahan yang sangat jelas dari minggu
ke minggu.
Selain
pengamatan
yang
dilakukan
peneliti
untuk
melihat
perbedaan, faktor lain yang mendukung adalah penggunaan topikal
yang dipakai pada kedua metode ini pun berbeda. Penggunaan topikal
di modern dressing memiliki efek yang lebih baik pada luka karena alat
dan bahan yang dipakai pun sudah sangat modern dan sesuai dengan
128
kondisi luka yang ditemukan. Penggunaan topikal yang sering dipakai
dalam metode ini yaitu Hydro Gel, Alevin, Iodosop Infra Red, Alginat,
Kasa dan Plester. Masing – masing topikal memiliki keunggulan masing
– masing untuk proses penyembuhan luka yang lebih cepat. Berbeda
dengan teknik konvensional yang masih memakai peralatan dan
pengobatan pada umumnya atau yang biasa dipakai seperti Betadine,
NaCl, Pehidrol, Hepafiks, Kasa, dan Plester. Selain itu juga, beberapa
hasil wawancara yang peneliti temukan yang mendunkung keefektifan
dari metode perawatan dengan teknik modern dibandingkan dengan
teknik konvensional.
Berdasarkan hasil pengamatan pada grafik 4.3.1 diatas dapat
disimpulkan bahwa partisipan yang melakukan perawatan dengan
menggunakan teknik modern dapat memunculkan perubahan yang jelas
yaitu warna dasar pada luka berwarna merah, bau berkurang, eksudat
berkurang sampai hilang dan disertai dengan munculnya jaringan
granulasi yang lebih cepat dibandingkan dengan partisipan yang
melakukan perawatan luka dengan teknik konvensional dimana hampir
tidak terlihat perubahan sama sekali dari kondisi luka.
4.4.Tema Penelitian
Hasil penelitian memaparkan mengenai beberapa tema yang
diangkat dari sub - sub tema yang ditemui selama di lapangan. Peneliti
129
mendapatkan 7 tema besar yang mendasari hasil penelitian. Adapun tema
tersebut adalah :
4.4.1
Prosedur
perawatan
luka
dilakukan
sesuai
Standar
Operasional Prosedur (SOP)
Kedua
perawatan
luka
dengan
menggunakan
teknik
konvensional dan modern dilakukan sesuai dengan standar
operasional prosedur. Berdasarkan hasil wawancara bahwa
setiap perawat melakukan perawatan luka sesuai dengan
standar
operasional
prosedurnya
masing-masing
baik
konvensional maupun modern.
4.4.2
Perawatan luka dilakukan dengan memperhatikan prinsip
bersih dan steril
Kedua metode perawatan luka dilakukan berdasar pada
prinsip bersih dan steril untuk menjaga kondisi masing –
masing luka agar terhindar dari bakteri yang dapat
mempengaruhi kondisi luka.
4.4.3
Perawatan luka modern mempercepat proses penyembuhan
luka dengan menjaga kelembaban pada luka dan pemilihan
topikal yang tepat
Metode perawatan luka dengan menggunakan teknik modern
memiliki keefektifan yang lebih dibandingkan dengan metode
konvensional.
Metode
ini
dapat
mempercepat
proses
penyembuhan dari luka dengan menjaga kelembaban pada
130
area sekitar luka karena ketika kondisi luka tetap lembab
maka tidak akan memunculkan luka baru pada daerah
sekitar luka sehingga tidak mempengaruhi pertumbuhan sel
– sel baru akibat dari kondisi sekitar luka yang kering. Hal ini
akan sangat cepat memunculkan jaringan granulasi pada
luka. Selain itu pemilihan topikal yang tepat sesuai dengan
kondisi luka juga berpengaruh pada kesembuhan luka yang
lebih cepat karena ketika kita memilih topikal yang tepat
maka kondisi lukapun akan semakin cepat membaik
(P3Q1A4, P3Q1A5, P4Q1A4, P4Q2A1, P3Q3A1).
4.4.4
Kondisi luka awal mempengaruhi kesembuhan luka
Kondisi luka awal dan warna pada luka berpangaruh pada
kesembuhan luka karena ketika kondisi luka terlihat tidak
baik atau warna dasarnya hitam maka proses kesembuhan
dari luka tersebut juga sangat lama. Namun sebaliknya juga
kondisi luka semakin membaik dan warna dari luka tersebut
berwarna kemerahan menandakan bahwa kondisi luka
tersebut akan cepat sembuh. Jadi kondisi awal dan warna
pada luka sangat berpengaruh untuk kesembuhan luka
(P1Q4A1, P2Q4A1 ).
4.4.5
Waktu menjadi kendala dalam perawatan luka konvensional
Waktu menjadi kendala dalam perawatan luka konvensional
dikarenakan waktu yang disediakan terbatas dan pasien
131
yang harus di berikan pengobatan pun bukan hanya 1
melaikan ada banyak pasien. Hal ini yang menjadi kendala
dalam perawatan luka dengan teknik konvensional karena
keterbatasan dari waktu yang disediakan
untuk hanya
menangani 1 pasien saja.
(P1Q3A1, P1Q3A2, P2Q3A1, P2Q3A2, P1Q4A1, P2Q4A1).
4.4.6
Peningkatan pengetahuan keluarga dan perawat terhadap
perawatan luka Modern
Perawatan dengan dengan metode modern akan sangat
lebih baik jika klien dan keluarga paham akan perawatan
tersebut serta paham akan topikal – topikal yang dipakai.
Oleh karena itu peningakatan pengetahuan kepada klien dan
keluarga menjadi sangat penting agar pengobatan berjalan
lancar.
4.4.7
Pengembangan skill dan keterampilan didapat dari seminar
dan pelatihan
Keterampilan dan pengembangan skill yang didapat oleh
partisipan adalah kebanyakan dengan mengikuti seminar dan
berbagai pelatihan yang tersedia. Keterampilan yang dimiliki
oleh masing – masing perawat, selain pengalaman yang
mereka miliki akan sangat lebih baik juga jika mereka tetap
menjaganya dengan tetap mengikuti berbagai seminar yang
132
sudah ada untuk meningkatkan lagi pengetahuan dan
keterampilan skill yang dimiliki.
4.5 Pembahasan
4.5.1 Prosedur perawatan luka dilakukan sesuai SOP
SOP
merupakan
acuan
atau
pedoman
dalam
melaksanakan pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian
kinerja instasi pemerintah sesuai dengan prosedur dan tata kerja
yang bersangkutan. Tujuan SOP adalah untuk mewujudkan good
governance atau mewujudkan kinerja pemerintah yang lebih baik
dengan menciptakan komitmen mengenai apa yang dikerjakan
oleh satuan unit kerja instansi pemerintahan agar berjalan dengan
baik. SOP juga merupakan satu perangkat instruksi kegiatan yang
dibakukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (Depkes RI,
2004).
SOP yang telah ditetapkan bukan hanya di institusi
pemerintahan, perusahaan namun juga di setiap rumah sakit
telah memiliki SOP masing – masing dalam bekerja. Di rumah
sakit SOP selalu terkait dengan gambaran pengetahuan perawat
terhadap keselamatan klien, karena SOP selalu dipakai sebagai
standar dalam melaksanan setiap tindakan keperawatan dan di
dalam SOP juga terkandung setiap prosedur keselematan kerja
terhadap klien. Penelitian Bawelle, dkk., (2013), dan Ridwan
133
(2008), menyatakan bahwa, gambaran pengetahuan perawat
tentang keselamatan pasien yang terkandung dalam SOP
menunjukkan hasil yang sangat baik terhadap kinerja perawat
karena tingkat pengetahuan perawat yang tinggi terhadap SOP
dan keselamatan pasien akan diikuti dengan tingkat kepatuhan
yang tinggi pula dalam menjalankan setiap tindakan sesuai
dengan prosedur keselamatan.
Menurut pengamatan peneliti, SOP memang harus di
jadikan acuan dalam memberikan setiap pelayanan terhadap
pasien karena berpedoman pada SOP adalah salah satu upaya
untuk menjaga keselamatan pasien. Berpedoman pada SOP
dapat
memperlancar
tugas
perawat
dalam
melaksanakan
pekerjaan. Selain itu juga dapat meningkatkan keselamatan
pasien, karena dengan menjaga keselamatan pasien maka akan
meningkatkan pelayanan dan menghindari tuntutan malpraktek
dan dapat menghindari risiko tertular infeksi tertentu. Sari, dkk.,
(2014), dan Simamora (2012), menyatakan bahwa setiap perawat
dalam melakukan tindakan apapun diharuskan sesuai dengan
acuan atau standar yang tersedia, karena bekerja sesuai dengan
acuan atau standar akan meminimalisir terjadinya infeksi baik
kepada pasien maupun ke diri sendiri serta tingkat keselamatan
terhadap pasien jadi lebih tinggi. SOP yang dipakai di rumah sakit
maupun di wound care sedikit berbeda. SOP yang dipakai di
134
rumah sakit untuk perawatan luka biasanya sama untuk luka
diabetes tipe apapun dan juga memiliki warna dasar yang
berbeda, namun SOP yang dipakai di wound care disesuaikan
dengan warna dasar dan juga kondisi dari luka serta dimulai
dengan pencucian dari luka tersebut sehingga menjadikan
perawatan luka modern ini jadi lebih efektif dan efisen untuk
kesembuhan pasien.
Kepatuhan terhadap SOP merupakan komponen penting
dalam
manajemen
keselamatan
pasien.
Namun
dalam
menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab kepatuhan
terhadap penggunaan SOP masih belum terlihat. Penelitian
Loekqijana, dkk., (2014), menyatakan bahwa, faktor yang
mempengaruhi kepatuhan pelaksanaan SOP adalah usia dan
lama bekerja. Perawat yang sudah berusia lebih tua memiliki
strategi sendiri dalam melakukan tindakan sehingga tindakan
yang harusnya berpedoman pada SOP menjadi berkurang. Selain
usia, lama dalam bekerja juga mempengaruhi kepatuhan perawat
dalam melaksanankan tugas sesuai standar. Orang yang lama
bekerja memiliki pengalaman yang banyak dalam menjalankan
setiap tindakan sehingga hampir semua tindakan dilakukan
berdasarkan
menyebabkan
pengalaman
dalam
bekerja.
Hal
ini
yang
kepatuhan
seorang
perawat
terhadap
SOP
berkurang.
135
Secara
keseluruhan
dalam
melakukan
tindakan
keperawatan atau apapun setiap perawat diwajibkan untuk
mengikuti standar yang telah di tetapkan dari institusi masing masing. Ketika mengikuti pedoman atau acuan maka kerja kita
akan lebih aman karena kita bekerja sesuai dengan apa yang
sudah ditetapkan. Ketika kita bekerja sesuai dengan SOP maka
akan memperlancar tugas kita dalam bekerja, mengarahkan kita
agar sama - sama disiplin, dan dapat mewujudkan pelayanan
yang berkualitas dan berkinerja tinggi.
4.5.2
Perawatan luka dilakukan dengan memperhatikan prinsip bersih
dan steril
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan di rumah
sakit, memegang peranan penting dalam upaya mencapai
tujuan pembangunan kesehatan.
kesehatan
bergantung
pada
Keberhasilan pelayanan
partisipasi
perawat
dalam
memberikan tindakan keperawatan yang berkualitas terhadap
pasien. Untuk mewujudkan itu di perlukan tenaga keperawatan
yang memiliki kemampuan serta bekerja berdasar pada standar
praktek yang ada. Salah satunya adalah menjaga prinsip bersih
dan steril dalam setiap perawatan luka yang dilakukan. Menurut
Setiardjo (2009), Potter dan Perry (1995) dalam Setiyawati
(2008),
menyatakan
bahwa
136
dalam
melakukan
tindakan
keperawatan akan menjadi penting untuk tetap memperhatikan
prinsip
bersih
dimaksudkan
dan
agar
steril
dapat
agar
bebas
mengantisipasi
dari
dan
kuman.
Ini
mencegah
terjadinya infeksi pada luka karena pencegahan infeksi pada
luka adalah kunci dari keberhasilan kesembuhan luka.
Menurut pengamatan peneliti, perawatan pada luka
sangat penting untuk tetap memperhatikan prinsip bersih dan
steril, luka akan menjadi cepat sembuh jika kebersihan dari luka
tetap terjaga. Selain itu, perawat juga dituntut untuk bekerja
dengan benar karena kebersihan luka juga ditunjang dengan
kesempurnaan perawat dalam menjalankan tugas secara
benar. Lubis (2004), Perry dan Potter (2005), mengatakan
keberhasilan pengendalian infeksi pada tindakan perawatan
luka bukan hanya ditentukan oleh canggihnya peralatan yang
ada tetapi ditentukan oleh kesempurnaan petugas dalam
melaksanakan perawatan klien secara benar. Kesempurnaan
menjalankan tugas dengan benar
salah satunya dengan
memegang prinsip bersih dan steril agar pengendalian
kebersihan infeksi dapat berhasil. Infeksi biasanya diakibatkan
dari pemberian pelayanan kesehatan yang tidak sesuai atau
sering terjadi pada fasilitas – fasilitas pelayanan kesehatan.
Ketika perawat bekerja sesuai dengan prinsip – prinsip yang
benar maka akan tercapai keberhasilan dalam menjalankan
137
tugas serta akan tercapai keberhasilan dalam pencegahan
infeksi.
Selain berdasar pada SOP dan mengikuti prinsip bersih
dan steril, ada faktor – faktor lain yang mendukung kejadian
infeksi pada luka sehingga menghambat penyembuhan pada
luka. Hasil penelitian Puspitasari, dkk., (2009), dan Hardian
(2008), menyatakan bahwa, faktor paling dominan yang
mempengaruhi penyembuhan luka adalah personal hygiene,
dan status gizi (konsumsi) dari klien. Faktor – faktor tersebut
saling berhubungan satu sama lain dalam proses penyembuhan
luka, karena sebaik apapun makanan yang dikonsumsi oleh
pasien apabila kesadaran akan menjaga kebersihan dirinya
kurang maka akan tetap menghambat proses penyembuhan
luka.
Berdasarkan data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa,
dalam setiap tindakan yang kita lakukan kepada pasien harus
berdasar pada prinsip - prinsip dan pedoman yang sudah
disediakan karena ketika seorang petugas bekerja sesuai
dengan prinsip - prinsip yang benar maka akan tercapai
keberhasilan dalam menjalankan tugas serta akan tercapai
keberhasilan dalam pencegahan infeksi pada klien.
138
4.5.3
Perawatan luka modern mempercepat proses penyembuhan
luka dengan menjaga kelembaban pada luka dan pemilihan
topikal yang tepat
Perawatan luka yang diberikan pada pasien dapat
meningkatkan proses perkembangan luka. Perawatan yang
diberikan bersifat memberikan kehangatan dan lingkungan yang
lembab pada luka. Kondisi yang lembab pada permukaan luka
dapat meningkatkan proses perkembangan perbaikan luka,
mencegah dehidrasi jaringan dan kematian sel. Dalam penelitian
Slater (2008), Irawaty, dkk., (2009), dan Bradley, dkk., (1993),
menyatakan bahwa, perawatan luka dengan konsep lembab
akan mengurangi risiko infeksi sehingga akan mempercepat
proses penyembuhan luka dan dapat dengan cepat memperbaiki
jaringan – jaringan yang hilang serta dapat meningkatkan proses
angiogenesis, proliferasi sel, granulasi dan epitelisasi, juga
mengurangi hari pergantian balutan dan mengurangi beban
biaya yang diperlukan.
Menurut pengamatan peneliti, keefektifitas perawatan
dengan menggunakan teknik modern pada
memberikan
perbedaan
dan
luka jelas dapat
perkembangan
yang
sangat
signifikan dengan pemilihan topikal dan perawatan yang tepat
dapat mempercepat proses penyembuhan dari luka. Selain itu
penerapan prinsip lembab pada luka juga dapat menigkatkan
139
proses
penyembuhan
yang
lebih
cepat.
Muha
(1999),
mengatakan bahwa perawatan luka yang diberikan harus
bersifat menjaga kelembaban dari luka karena perawatan luka
lembab dapat memfailitasi proses penyembuhan luka yang lebih
cepat. Efek yang menguntungkan dari lingkungan luka yang
lembab yaitu dapat mencegah dehidrasi jaringan dan kematian
sel, mempercepat angiogenesis, mempercepat pertumbuhan
jaringan granulasi dan mencegah terjadinya luka baru pada area
sekitar luka.
Keefektifan perawatan luka modern memang jelas
memberikan dampak yang positif terhadap luka. Selain faktor faktor diatas yang mempengaruhi penyembuhan, ada beberapa
faktor lain mempengaruhi proses penyembuhan luka. Kartika,
dkk., (2015), menyatakan bahwa, kekebalan tubuh menjadi
bagian penting yang mempengaruhi proses penyembuhan luka,
dimana peran sistem kekebalan tubuh dalam proses ini tidak
hanya untuk mengenali dan memerangi antigen baru dari luka,
tetapi juga untuk proses regenerasi sel. Selain itu kadar gula
darah. Peningkatan gula darah akibat hambatan sekresi insulin
menyebabkan nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel, akibatnya
terjadi penurunan protein dan kalori tubuh. Kemudian juga nutris,
karena nutrisi memainkan peran tertentu dalam penyembuhan
luka. Misalnya, vitamin C sangat penting untuk sintesis kolagen,
140
vitamin A meningkatkan epitelisasi, dan seng (zinc) diperlukan
untuk mitosis sel dan proliferasi sel.
Dalam perawatan luka dengan menggunakan teknik
konvensional dan teknik modern dressing telah membuktikan
bahwa balutan modern mempunyai tingkat perkembangan
perbaikan dan penyembuhan luka diabetes yang lebih cepat dan
lebih baik. Balutan modern juga dikenal dapat memfasilitasi
penyembuhan luka yang lebih cepat dibandingkan dengan
menggunakan balutan konvensional. Hal ini disebabkan karena
balutan modern lebih menjaga kelembaban pada daerah
lingkungan luka dan juga pemilihan balutan yang tepat serta
pemilihan topikal yang sesuai dengan kondisi dan fase pada
luka.
4.5.4
Kondisi luka awal mempengaruhi kesembuhan pada luka
Persiapan dasar luka menjadi penting dalam proses
penyembuhan luka, karena dengan kita memahami kondisi luka
dan warna dasar saat pertama kali luka itu dibuka maka akan
sangat memudahkan kita untuk melakukan suatu tindakan pada
luka tersebut. Persiapan dasar luka pada perawatan luka yang
harus dilakukan yaitu dengan mencuci luka, karena dengan
mencuci luka maka akan meningkatkan, memperbaiki dan
mempercepat proses penyembuhan luka. Selain mencuci luka
141
penting untuk kita memahami warna pada luka. Bryant (2000),
menjelaskan dua jenis nekrosis yang terdapat pada luka yaitu
Slough dan Escer. Slough merupakan jaringan nekrosis basah,
mudah lepas dan berwarna kuning, sedangkan Escer adalah
jaringan nekrosis yang mengalami granulasi, tipis, menempel
pada luka. Biasanya berwarna cokelat sampai hitam. Selain
beberapa jenis warna pada luka diatas ada juga kondisi luka
yang berwana kemerahan dimana kita tahu jika luka mengalami
perubahan warna menjadi merah maka proses pertumbuhan
jaringan baru dan proses penyembuhan luka menjadi cepat.
Dengan demikian memahami warna pada luka, akan membantu
dalam memilih perawatan yang tepat dan benar.
Menurut pengamatan peneliti, selain kondisi awal luka ada
beberapa faktor juga yang harus diperhatikan dalam proses
perawatan luka karena selain kita memahami kondisi luka dan
warna dasar luka diawal, kita perlu untuk memahami beberapa
faktor lain seperti pada pemilihan balutan yang tepat, karena
pemilihan
balutan
yang
tepat
akan
berpengaruh
pada
kesembuhan luka dan mempercepat kondisi kesembuhan dari
luka itu sendiri. Bryant (2013), menyatakan bahwa, jika
pemilihan balutan salah maka akan memperburuk kondisi luka
tersebut. Namun ketika kita memahami dan tepat dalam
pemilihan balutan maka akan memperbaiki kondisi dari luka
142
tersebut. Tujuan pemilihan balutan yaitu untuk membuang
jaringan mati, mengontrol kejadian infeksi, mempercepat proses
penyembuhan luka dan kontrol bau.
Selain yang peneliti sebutkan dan beberapa teori
sebutkan diatas mengenai perkembangan dan penyembuhan
luka, ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi
penyembuhan luka. Faktor – faktor yang mempengaruhi
penyembuhan luka diantaranya faktor lokal dan faktor sistemik
dan intrinsik yang diadaptasi dari Hess, (2002). Faktor lokal
yang terdiri dari lingkungan dan Infeksi serta faktor sistemik dan
intrinsic yang terdiri dari usia, nutrisi, sirkulasi oksigen, obat,
penyakit kronik, dan lama mengalami luka.
Proses penyembuhan luka merupakan proses normal
yang terjadi pada tubuh manusia. Penyembuhan luka terjadi
karena kita memahami kondisi luka dengan benar, seta
pemilihan balutan yang tepat. Selain faktor - faktor tersebut
terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi proses
penyembuhan luka, yaitu faktor lokal juga faktor intrinsik dan
sistemik yaitu faktor yang secara langsung mempengaruhi
abnormalitas dari luka.
143
4.5.5
Waktu menjadi kendala dalam perawatan luka konvensional.
Hasil penelitian Sheehan (2003), dan Rowel (1970),
menyatakan bahwa, luka yang ditutup dengan balutan lembab
mempunyai laju epitelisasi dua kali lebih cepat dari pada luka
yang dibiarkan kering. Lingkungan lembab meningkatkan
migrasi sel epitel ke pusat luka sehingga luka lebih cepat
sembuh. Hal yang sama dilakukan dalam penelitian Adisaputra
(2015), yang menyatakan bahwa perawatan luka konvensional
juga biasanya memerlukan NaCl untuk membasahi daerah
sekitar luka agar tercipta suasana lembab dan kasa sebagai
balutan pada luka. Pemilihan balutan merupakan tahap penting
untuk mempercepat proses penyembuhan pada luka. Pemilihan
balutan harus mampu mempertahankan kelembaban dari luka
agar
kondisi
luka
tetap
lembab
sehingga
memerlukan
penggantian kasa yang sering karena luka harus sering
dikompres dan diganti sebelum kasa mengering.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Ismail, dkk., (2009);
Soetoni (2009), dan Junaidi (2009), menyatakan bahwa luka
akan menjadi cepat sembuh apabila eksudat dapat dikontrol,
luka tidak lengket, dan terhindar dari infeksi. Namun pada
kenyataanya, perawatan luka konvensional tidak dapat menjaga
kelembaban luka dengan baik karena larutan fisiologis seperti
144
NaCl akan menguap sehingga kasa menjadi kering. Kondisi
kering menyebabkan kasa lengket pada luka sehingga mudah
terjadi trauma ulang dan bahkan rasa sakit pada pasien. Selain
itu sebagian besar perawat percaya bahwa penyembuhan luka
yang terbaik adalah dengan membuat lingkungan luka tetap
kering dan menggunakan cara konvensional untuk merawat
luka.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, hampir setiap
perawatan luka dengan teknik konvensional dilakukan secara
bersamaan dan jarang dalam perawatan luka konvensional
balutan diganti sebelum kasa mengering. Peneliti temukan
setiap penggantian balutan dengan metode ini selalu dalam
kondisi kasa yang sudah tidak lembab atau kasa yang sudah
kering. Hal tersebut menyebabkan kondisi dari luka yang hampir
tidak terlihat perubahan dan mudah untuk terjadi infeksi. Selain
itu
perawatan
luka
dengan
teknik
konvensional
juga
membutuhkan waktu yang banyak karena hampir setiap hari
luka harus diganti balutannya. Hal ini yang kerap menjadi
kendala dalam perawatan luka karena waktu yang disediakan di
rumah sakit sangat terbatas. Thomson (2002), juga mengatakan
bahwa tingkat kejadian infeksi pada luka dengan teknik
konvensional yang menggunakan
balutan kering memiliki
prsentase sebesar 9 % dibandingkan dengan balutan lembab
145
yang hanya sebesar 2,5 %. Balutan luka yang kering akan
menghambat proses penyembuhan dari luka dibandingkan
dengan balutan luka yang lembab dimana dapat meningkatkan
laju epitelisasi dan dapat mengontrol inflamasi.
Secara keseluruhan dapat di tarik kesimpulan bahwa,
perawatan luka konvensional tidak dapat menjaga kelembaban
luka dengan baik. Selain itu, perawatan luka konvensional juga
memerlukan penggantian kasa yang sering dan diganti balut
sebelum kasa mengering. Kendala yang sering dihadapi dalam
perawatan luka konvensional juga yaitu keterbatasan dari waktu
selama perawatan luka sehingga membutuhkan ketelitian dalam
melakukan perawatan luka dan tindakan yang cepat selama
perawatan.
4.5.6
Peningkatan pengetahuan keluarga dan perawat terhadap
perawatan luka modern.
Bryant (2000), dan Agustina (2009), menjelaskan bahwa
perkembangan pengetahuan tentang cara - cara penyembuhan
luka modern menjadi suatu tren tersendiri dalam dunia
kesehatan yang berdampak pada kebutuhan peningkatan
kualitas pengetahuan dan ketrampilan tenaga kesehatan.
Dengan
demikian,
perawat
146
dituntut
untuk
mempunyai
pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan
proses perawatan.
Isu lain yang harus dipahami oleh perawat adalah
berkaitan dengan cost effectiveness. Manajemen perawatan
luka modern sangat mengedepankan isu tersebut dimana
perawat dituntut untuk memahami produk - produk dengan baik
sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang
sesuai dengan kebutuhan pasien agar pasien dan keluarga
benar - benar mengerti tentang apa yang akan dilakukan. Pada
dasarnya, pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan
pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan
(safety). Hasil penelitian Basri (2015), menyatakan bahwa,
perawatan luka modern memiliki penyembuhan lebih cepat
sehingga waktu perawatan akan lebih singkat. Hal ini
berdampak
pada
biaya
perawatan
yang
lebih
rendah,
dibandingkan perawatan luka konvensional yang proses
penyembuhan lebih lambat dan membutuhkan waktu perawatan
lebih lama sehingga biaya akan lebih besar. Hal ini terkait
dengan pemilihan balutan dan topikal yang tepat serta
pengetahuan dan ketrampilan perawat dimana keberhasilan
penyembuhan luka tergantung kepada kemampuan perawat
memilih balutan yang tepat, efektif dan efesien, sehingga waktu
perawatan luka bisa lebih efektif dengan biaya yang tidak terlalu
147
besar. Saat ini juga telah dikeluarkan undang – undang yang
mengatur tentang praktek perawat mandiri yaitu undang –
undang
nomor
148
tahun
2010
tentang
izin
dan
penyelenggaraan praktek mandiri. Perawat diberi kewenangan
untuk menjalankan praktik keperawatan di fasilitas pelayanan
kesehatan di luar praktik mandiri maupun berupa praktek
mandiri. Hal ini menjadi penting bagi perawat untuk lebih
meningkatkan skill dan pengetahuan yang sudah dimiliki agar
perawat dapat menjalankan tugas pelayanannya kepada klien
maupun keluarga klien dengan baik.
Menurut
pengamatan
peneliti,
pengetahuan
dan
ketrampilan seorang perawat memang harus ditingkatkan
sesuai
dengan
perkembangan
ilmu
dan
pengetahuan.
Khususnya perawatan luka yang saat ini sedang berkembang.
Pengetahuan tentang ilmu – ilmu terbaru serta pengetahuan
terhadap topikal – topikal terbaru harus terus ditingkatkan
karena akan berdampak pada tingkat kesembuhan pasien yang
semakin lebih baik. Gitaraja, dkk., (2015), menjelaskan bahwa,
minimnya pengetahuan perawat tentang perawatan
luka
menyebabkan
dan
luka
yang
tidak
kunjung
sembuh,
menyebabkan klien harus berulang kali kontrol. Berdasarkan hal
tersebut
semua
tenaga
148
kesehatan
diharuskan
memiliki
pemahaman yang cukup untuk melakukan tindakan pengobatan
luka dengan metode modern dressing .
Secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengetahuan perawat serta keluarga dan masyarakat tentang
metode perawatan luka modern menjadi hal yang sangat
penting untuk diketahui. Ketika keluarga memiliki pengetahuan
yang baik terhadap perawatan luka yang berkualitas, maka
akan meningkatakan proses penyembuhan yang lebih cepat
serta biaya yang lebih murah. Perawat juga diharuskan memiliki
kemampuan dan ketrampilan yang baik dalam merawat luka.
Dengan demikian, maka perawatan luka yang dilakukan akan
semakin baik dan peningkatan penyembuhan terhadap pasien
juga akan semakin tinggi.
4.5.7
Pengembangan skill dan keterampilan didapat dari seminar dan
pelatihan.
Dalam pandangan Adisasmito (2010), dan Sarti (2010),
tenaga kesehatan merupakan orang yang mengabdikan diri
dalam
bidang
kesehatan.
Tahapan
dalam
mencapai
ketersediaan sumber daya tenaga kesehatan yaitu mulai dari
perencanaan,
tahap
pendidikan
dan
pelatihan,
serta
pendayagunaan tenaga pada tempat pelayanan kesehatan.
Dengan memiliki tenaga kerja yang berkompetensi dan memiliki
149
motivasi tinggi, telah mempunyai aset yang sangat mahal.
Dalam pelakasanaan setiap tendakan perawat dituntut untuk
memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik. Kompetensi
merupakan sebuah pernyataan terhadap apa yang seseorang
harus
lakukan
ditempat
kerja
untuk
menunjukkan
pengetahuannya, keterampilannya dan sikap sesuai dengan
standar yang ada, karena dengan begitu apapun yang
dilakukan akan berjalan dengan baik dan berdasar pada hal hal diatas.
Dalam UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan:
pasal 1 (10) mengatakan :
‘Kompetensi adalah kemampuan setiap individu yang
mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan
sikap kerja yang sesuai’.
Dalam melakukan perawatan dibutuhkan keterampilan
dan skill dari masing - masing perawat. Perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan (Care giver) dituntut memiliki skill
dan
keterampilan
yang
baik
dalam
setiap
tindakan
keperawatan. Potter & Perry (2009), menjelaskan bahwa,
sebagai seorang pemberi pelayanan, perawat memiliki peranan
penting untuk mempertahankan kualitas dan fungsi hidup yang
tinggi sehingga kertampilan dan skill dari seorang perawat
memang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh setiap
150
perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Untuk memiliki
ketrampilan dan kualitas yang baik salah satu caranya adalah
dengan meng-update ilmu yang sudah dimiliki agar setiap
tenaga kesehatan baik perawat maupun tenaga medis lainnya
dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih
praktis dan dapat mengimplementasikan pengetahuan yang
mereka miliki agar dapat membantu dan menyelesaikan
tindakan - tindakan keperawatan. Semua itu dapat dijalankan
dengan baik jika perawat memiliki ketrampilan dan skill yang
baik dalam bekerja serta mampu mengembangkan lagi semua
ilmu yang dimiliki.
Secara
keseluruhan
pengembangan
skill
dan
ketrampilan dari perawat ketika dilakukan dengan baik akan
sangat membantu dalam proses perawatan pasien. Perawat
yang memiliki kemampuan dan memiliki etika dalam merawat
pasien akan mendapatkan nilai lebih terhadap apa yang telah
dilakukan. Setiap tenaga kesehatan baik perawat maupun
tenaga medis lainnya diharuskan memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang lebih agar dapat mengimplementasikan
pengetahuan yang dimiliki untuk membantu dan menyelesaikan
tindakan - tindakan keperawatan.
151
Download