MENTERIKEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
153
/PMK. 07 /2015
TENTANG
BATAS MAKSIMAL KUMULATIF DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN DAN
BELANJA DAERAH, BATAS MAKSIMAL DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN
DAN BELANJA DAERAH, DAN BATAS MAKSIMAL KUMULATIF
PINJAMAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2016
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
Mengingat
:
a.
bahwa berdasarkan ketentuan
Pasal
105
dan
Pasal 106 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,
Menteri Keuangan menetapkan Batas Maksimal
Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah dan Batas Maksimal Defisit
Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah setiap tahun;
b.
bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian
Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah, dan Pasal 7 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang
Pinjaman Daerah, Menteri Keuangan menetapkan Batas
Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah setiap tahun;
c.
bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Keuangan tentang Batas Maksimal
Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah, dan Batas Maksimal Kumulatif
Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2016;
1.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003 tentang
Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Jumlah
Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2003 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4287);
2.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
www.jdih.kemenkeu.go.id
MENTEHI KEU/\NGAN
l�[PUIJLll< INDONESIA
- 23.
Peraturan Pemerintah No:i:nor 30 Tahun 2011 tentang
Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
. Tahun 2011 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5219);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
PERATURAN MENTER! KEUANGAN TENTANG BATAS
MAKSlMAL KUMULATIF DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN
DAN BELANJA DAERAH, BATAS MAKSIMAL DEFISIT
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH, DAN
BATAS MAKSIMAL KUMULATIF PINJAMAN DAERAH TAHUN
ANGGARAN 2016.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Daerah Otonom yang selanjutnya disebut Daerah adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas­
batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
2.
Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah otonom.
3.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang
selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan
tahunan daerah yang ditetapkan dengan Peraturan
Daerah termasuk APBD-Perubahan.
4.
Batas Maksimal Defisit APBD adalah jumlah maksimal
defisit APBD masing-masing Daerah dalam suatu
tahun anggaran.
5.
Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD adalah jumlah
maksimal
defisit
seluruh
APBD
dalam
suatu
tahun anggaran.
6.
Pendapatan Daerah adalah semua hak Pemerintah
Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih
dalam
periode
tahun
angga:ran
yang
bersangkutan.
www.jdih.kemenkeu.go.id
;' ,.' < i :•,··,:
.
I
·.
... ,
...
\
'���1�s..1.;.�
' •
··,
.
.·
·,,
MCNH':HI l<UJf\NGAN
l{EPUIJUI< lf'JDONFSIA
- 37.
·
Defisit APBD adalah selisih kurang antara Pendapatan
Daerah dan Belanja Daerah pada tahun anggaran yang
sama.
8.
Produk Domestik Bruto yang selanjutnya disingkat PDB
adalah total nilai akhir seluruh barang dan jasa yang
dihasilkan di Indonesia dalam tahun tertentu yang
dihitung menurut harga pasar.
9.
Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah adalah
jumlah total pinjaman seluruh Daerah sampai dengan
tahun anggaran tertentu.
·
10.
Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang
mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau
mertedma manfaat yang bernilai uang dari pihak lain
sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk
membayar kembali.
·
BAB II
BATAS MAKSIMAL KUMULATIF DEFISIT
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
Pasal 2
(1)
Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD Tahun
Anggaran 2016 ditetapkan sebesar 0,3% (nol koma tiga
persen) dari proyeksi PDB Tahun Anggaran 2016.
(2)
Defisit APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan defisit yang dibiayai dari Pinjaman Daerah.
( 3)
Proyeksi PDB sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah proyeksi yang digunakan dalam penyusunan
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Negara
Tahun Anggaran 2016.
BAB III
BATAS MAKSIMAL DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN
DAN BELANJA DAERAH
Pasal 3
(1)
Batas Maksimal Defisit APBD Tahun Anggaran 2016
masing-masing Daerah ditetapkan berdasarkan kategori
kapasitas fiskal sebagai berikut:
a.
sebesar 6% (enam persen) dari perkiraan Pendapatan
Daerah Tahun Anggaran 2016 untuk kategori sangat
tinggi;
b.
sebesar 5% (lima persen) dari perkiraan Pendapatan
Daerah Tahun Anggaran 2016 untuk kategori tinggi;
www.jdih.kemenkeu.go.id
rvl[NTEHI l<EUAl\jGf\N
l<FPl.IBLll< JNDONEfJll\
- 4c.
sebesar 4%
(empat persen) dari
perkiraan
Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2016 untuk
kategori sedang; dan
d.
sebesar 3% (tiga persen) dari perkiraan Pendapatan
Daerah Tahun Anggaran 2016 untuk kategori
rendah.
(2)
Defisit APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan defisit yang dibiayai dari Pinjaman Daerah.
(3)
Kategori kapasitas fiskal sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sesuai dengan kategori kapasitas fiskal
sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Keuangan
mengenai
. kapasitas
fiskal
untuk
Tahun.Anggaran 2015.
Pasal 4
Batas Maksimal Defisit APBD Tahun Anggaran 2016 masing­
masing Daerah menjadi pedoman Pemerintah Daerah dalam
menetapkan APBD Tahun Anggaran 2016.
BAB IV
BATAS MAKSIMAL KUMULATIF PINJAMAN DAERAH
Pasal 5
(1)
Batas
Maksimal
Kumulatif
Pinjaman
Daerah
Tahun Anggaran 2016 ditetapkan sebesar 0,3%
(nol
koma
tiga
persen)
dari
proyeksi
PDB
Tahun Anggaran 2016.
(2)
Pinjaman Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
termasuk pinjaman yang digunakan untuk mendanai
pengeluaran pembiayaan.
(3)
Proyeksi PDB sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah proyeksi yang digunakan dalam penyusunan
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Negara
Tahun Anggaran 2016.
BAB V
PELAMPAUAN BATAS MAKSIMAL DEFISIT APBD
YANG DIBIAYAI DARI PINJAMAN DAERAH
Pasal 6
(1)
Pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD harus .
mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan c.q.
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.
(2)
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
diberikan berdasarkan penilaian sebagai berikut:
(1),
www.jdih.kemenkeu.go.id
MCNTCHI l<FUANGf\N
l{EPUOUI( INDONESIA
- 5a.
Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD yang
dibiayai dari pinjaman sebesar 0,3% (nol koma tiga
persen) dari proyeksi PDB sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) tidak terlampaui;
b.
Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah sebesar
0,3% (nol koma tiga persen) dari proyeksi PDB
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1)
tidak terlampaui;
c.
Pinjaman telah disetujui, untuk pmJaman yang
bersumber dari Pemerintah Pusat; dan
d.
Rencana Pinjaman sudah mendapat Pertimbangan
Menteri Dalam Negeri, untuk .pinjaman yang
bersumber dari pemerintah daerah lain, lembaga
keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank,
dan masyarakat.
Pasal 7
(1)
Permohonan persetujuan pelampauan Batas Maksimal
Defisit APBD diajukan oleh kepala daerah kepada
Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan
Keuangan sebelum APBD ditetapkan.
(2)
Format Surat Permohonan Persetujuan Batas Maksimal
Defisit APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 8
(1)
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama
Menteri Keuangan memberikan persetujuan atau
penolakan atas permohonan pelampauan Batas
Maksimal Defisit APBD.
(2)
Persetujuan atau penolakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diberikan paling lama 15 (lima belas) hari
kerja setelah surat permohonan dari kepala daerah
diterima secara lengkap.
Pasal
9
Persetujuan atau penolakan terhadap pelampauan Batas
Maksimal Defisit APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal
8 menjadi pertimbangan dalam proses evaluasi rancangan
peraturan daerah mengenai APBD.
www.jdih.kemenkeu.go.id
MENTEHI l<EUAl\IGAN
Hf.YIJnUI\ lf\IDON[SI/\
- 6 BAB VI
PEMANTAUAN DEFISIT
ANGGARAN FENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
DAN PINJAMAN DAERAH
Pasal 10
(1)
Pemerintah Daerah melaporkan rencana Defisit APBD
Tahun Anggaran 2016 kepada Menteri Keuangan c.q.
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebelum
APBD ditetapkan.
(2)
Rencana Defisit APBD sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan rencana defisit dalam rancangan
peraturan daerah tentang APBD yang disampaikan
kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur
untuk
dievaluasi.
(3)
Dalam hal rencana defisit sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) melebihi batas maksimal defisit APBD
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
dan
Pemerintah
Daerah
belum
menyampaikan
permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (1), Pemerintah Daerah melampirkan
permohonan persetujuan batas maksimal defisit APBD
dalam laporan rencana defisit APBD.
(4)
Format laporan rencana Defisit APBD sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Pasal 11
(1)
Pemerintah Daerah wajib melaporkan posisi kumulatif
pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Menteri
Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan
dan Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal
Keuangan Daerah setiap semester dalam tahun
anggaran berjalan.
(2)
Laporan posisi kumulatif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) disampaikan paling lama 15 (lima belas) hari
kerja setelah semester berkenaan berakhir.
(3)
Format laporan pos1s1 kumulatif p1nJaman dan
kewajiban pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tercantum dalam Lampiran III yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
www.jdih.kemenkeu.go.id
MENTERIKEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
- 7 Pasal
(1)
12
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama
Menteri Keuangan
melakukan pemantauan terhadap
Pemerintah Daerah yang menganggarkan penerimaan
Pinjaman
Daerah
untuk
membiayai
defisit
APBD
dan/ atau untuk membiayai pengeluaran pembiayaan.
(2)
Berdasarkan pemantauan sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1),
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas
nama Menteri Keuangan melakukan evaluasi sebagai
bahan penyusunan Peraturan Menteri mengenai Batas
Maksimal Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan
Belanja
Daerah,
Batas
Maksimal
Defisit
Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, dan Batas Maksimal
Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 201 7.
BAB VII
PENUTUP
Pasal
Peraturan
13
Menteri
mulai
uu
berlaku
pada
tanggal
diundangkan.
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal
7
Agustus 2D15
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG P.S.BRODJONEGORO
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 10 Agustus
2015
MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
YASONNA H. LAOLY
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN
2015
NOMOR
1181
www.jdih.kemenkeu.go.id
LAMPIRAN I
PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
153 / PMI<.07 / 2015
NOMOR
TENTANG
BATAS
MAKSIMAL
KUMULATIF
DEFISIT
ANGGARAN
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH, BATAS MAKSIMAL
DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH,
DAN
BATAS MAKSIMAL KUMULATIF PINJAMAN DAERJ\I-1
TAI-IUN ANGGARAN 2016
MENTERIKEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
FORMAT SURAT PERMOHONAN PERESETUJUAN PELAMPAUAN
BATAS MAKSIMAL DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
KOP SURAT
PEMERINTAH PROVINSI/KABABUPATEN/KOTA
Nomor
: [nomor surat]
Sifat
: [sifat surat]
Lampiran : .......... Berkas
Hal
[kota], [tanggal, bulan, tahun]
: Permohonan Persetujuan Pelampauan Batas Maksimal
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang
dibiayai dari Pinjaman Daerah
Yth.
Menteri Keuangan
c.q.Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan
Di Jakarta
Dengan ini disampaikan bahwa kami menganggarkan penerimaan Pinjaman Daerah dalam rangka
m·embiayai Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan jangka waktu................... (sesuai
naskah perjanjian pinjaman) akan cligunakan untuk ...................................... (sebutkan penggunaan
dan alasannya).
Mengingat jumlah rencana Pinjaman Daerah tersebut melebihi ketentuan sebagaimana cliatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan mengenai Batas Maksimal Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan clan
Belanja Daerah, Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah, Dan Batas Maksimal
Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2016, dengan ini clisampaikan permohonan persetujuan
pelampauan batas maksimal defisit Defisit Anggaran Pendapatan clan Belanja Daerah Tahun Anggaran
2016 yang dibiayai dari Pinjaman Daerah.
Sebagai bahan pertimbangan, terlampir disampaikan
1. Ringkasan Defisit Rancangan Anggaran Penclapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016; dan
2. Copy dokumen surat pernyataan persetujuan pinjaman/pertimbangan Menteri Dalam Negeri atas
pinjaman yang akan dilakukan. *)
Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian.
Kepala Daerah ....................
[tanda tangan& cap basah]
[nama kepala daerah]
Tembusan:
1. Menteri Dalam Negeri c.q Direktur Jenderal Keuangan Daerah
2. Gubernur .................... *) jika cliajukan oleh bupati/walikota
*) tidak perlu clilampirkan jika pinjaman berasal dari masyarakat (obligasi daerah)
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG P. S. BRODJONEGORO
www.jdih.kemenkeu.go.id
LAMPIRAN II
PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
15 3/PMK.07 /2015
NOMOR
TENTANG
BATAS
MAKSIMAL
KUMULATll'
DEFISIT
ANGGARAN
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH, BATAS MAKSIMAL
DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH,
DAN BATAS MAKSIMAL KUMULATIF PINJAMAN DAERAH
TAHUN ANGGARAN 2016
MENTERIKEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
FORMAT SURAT LAPORAN
RENCANA DEFISIT ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
KOP SURAT
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
Nomor
Sifat
Lampiran
Hal
[nomor surat]
[kota], [tanggal, bulan, tahun]
[sifat surat]
.......... Berkas
Laporan Rencana Defisit Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah
Yth.
Menteri Keuangan
c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan
di Jakarta
Sesuai Peraturan Menteri Keuangan mengenai Batas Maksimal Kumulatif Defisit Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan Dan Belanja
Daerah, ban Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2016, dengan ini kami
laporkan rencana Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016 dengan
rincian sebagai berikut:
-
1. Pendapatan Daerah
2. Belanja Daerah
Defisit
3. Penerimaan Pembiayaan
4. Pengeluaran Pembiayaan
Pembiayaan Neto
: Rp..........................
: Rp..........................
: Rp.......................... (..... %)
Rp..........................
Rp..........................
Rp..........................
Penerimaan pembiayaan terdiri dari:
1.
2.
3.
4.
5.
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya
Pencairan Dana Cadangan
Penerimaan Pinjaman dan Obligasi
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yg Dipisahkan
Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman
Rp..........................
Rp..........................
Rp..........................
: Rp..........................
: Rp..........................
Pengeluaran pembiayaan terdiri dari:
1.
2.
3.
4.
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman
: Rp..........................
Rp..........................
: Rp..........................
: Rp..........................
.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tersebut disebabkan karena ...... : .... .........
[sebutkan alasan].
Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian.
Kepala Daerah ....................
[tanda tangan & cap basah]
[nama kepala daetah]
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG P. S. BRODJONEGORO
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BIRO
·
U�M
,
n�f A
u.b.
KEPA A BAGIA
I
GIA
�'°'"'
1. o
NIP 19
0
---
\4''.JQ M
r:f.U �EMENTERIAN
·��,,/
S4021001
www.jdih.kemenkeu.go.id
LAMP!RAN III
PERATURAN MENTER!
153
NOMOR
KEUANGAN
REPUBL!K INDONESIA
/PMK.07/2015
TENTANG
BATAS
MAKS!MAL
KUMULAT!F
DEF!S!T
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH,
ANGGARAN
BATAS MAKS!MAL
DEFIS!T ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAER.'\H,
DAN
BATAS
MAKS!MAL
KUMULATIF
P!NJA.MAN
DAER.'\H
TAHUN ANGGARAN 2016
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
FORMAT LAPORAN POSIS! KUMULATIF PINJAMAN
DAN KEWAJIBAN PINJAMAN
(dalam rupiah)
KOP SURAT
PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
No.
(1)
No. Dan Tanggal Surat
Sumber
Perjanjian Pinjaman
Pinjaman
(2)
(3)
Tujuan
Penggunaan
Pinjaman
(4)
Masa
Masa
Tingkat Suku
Total
Total
Total
Saldo Pinjaman
Pinjaman
Tenggang
Bunga
Penarikan
Pembayaran
Tunggakan
(Outstanding)
(5)
(6)
( 7)
(8)
(9)
(10)
(11)
I
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG P. S. BRODJONEGORO
www.jdih.kemenkeu.go.id