5335 - perpusnwu.web.id

advertisement
MANUSKRIP
PENGELOLAAN NYERI AKUT PADA Ny. S DENGAN POST SEKSIO SESARIA
INDIKASI PARTUS LAMA DI RUANG FLAMBOYAN I
RSUD SALATIGA
Oleh:
BEATRIZ GONZAGA MARTINS
0131786
AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2016
PENGELOLAAN NYERI AKUT PADA Ny. S DENGAN POST SEKSIO SESARIA
INDIKASI PARTUS LAMA DI RUANG FLAMBOYAN I
RSUD SALATIGA
Beatriz Gonzaga Martins1, Eko Mardiyaningsih2, Dewi Siyamti3
123
Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo Ungaran
bethymartins2511@gmail.com
ABSTRAK
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang bersifat aktual maupun potensial . Masalah utama
yang muncul pada klien dengan post seksio sesaria adalah nyeri. Tujuan penulisan ini
untuk mengetahui pengelolaan nyeri pada klien post seksio sesaria indikasi partus lama
di RSUD Salatiga.Metode yang digunakan adalah memberikan pengelolaan berupa
perawatan pasien dalam memenuhi kebutuhan agar nyeri dapat berkurang. Pengelolaan
nyeri dilakukan selama 2 hari pada Ny. S. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan teknik wawancara, pemeriksaan fisik, observasi dan pemeriksaan
penunjang.Hasil pengelolaan didapatkan data subyektif klien mengatakan nyeri pda
bekas luka operasi seksio sesaria, dan nyeri merasa berkurang saat dilakukan teknik
relaksasi nafas dalam, skala nyeri 1, jadi masalah nyeri sudah teratasi.Setelah melihat
hasil pengelolaan ini maka teknik relaksasi adalah salah satu strategi yang dapat
digunakan untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh ibu post operasi seksio
sesaria dengan nyeri pada luka post operasi. Saran bagi perawat di rumah sakit agar
merupakan teknik relaksasi nafas dalam terhadap pengontrolan terjadinya gangguan
rasa nyaman nyeri untuk meningkatkan kenyamanan pada pasien.
Kata kunci
Kepustakaan
: Pengelolaan nyeri, post seksio sesaria
: 31 ( 2005- 2017)
LATAR BELAKANG
Persalinan adalah proses pengeluaran
(kelahiran) hasil konsepsi yang dapat
hidup di luar uterus melalui vagina ke
dunia luar. Proses tersebut dapat
dikatakan normal atau spontam jika bayi
yang dilahirkan berada pada posisi letak
belakang kepala dan berlangsung tanpa
bantuan alat-alat atu pertolongan, serta
tidak melukai ibu dan bayi. Pada
umumnya proses ini berlangsung dalam
waktu kurang dari 24 jam dan adapun
komplikasi dalam persalinan (Sondakh,
2013).
Komplikasi dalam persalinan ditandai
dengan adanya kelambatan atau tidak
adanya kemajuan proses persalinan dalam
ukuran satuan waktu tertentu. Hal ini
disebabkan karena adanya kelainan dari
tenaga persalinan yaitu kekuatan his yang
tidak
memadai,
adanya
kelainan
presentasi posisi, gangguan pada rongga
panggul atau kelainan jaringan lunak dari
saluran reproduksi yang menghalangi
denyut
janin.Kelainan-kelainan yang
diperlihatkan sering kali menimbulkan
gangguan
padapersalinan
atau
menimbulkan adanya penyulit didalam
persalinan (Prawirohardjo, 2009).
Penyulit persalinan salah satunya
adalah partus lama atau partus tak maju
yang dapat menimbulkan terjadinya
ruptur uteri imminens dan bisa
mengakibatkan terjadinya perdarahan dan
infeksi, sedangkan penyebab terjadinya
partus lama atau partus tak maju sendiri
karena adanya kelainan letak padajanin,
kelainan pada panggul ibu, kelainan
kekuatan his atau kontraksi dan mengejan
terjadi
ketidakseimbangan
atau
sefalopelvik serta persalinan yang salah (
Manuaba, 2010).
Persalinan lama atau partus lama
diidentifikasikan
sebagia
persalinan
dengan kemajuan yang lama yaitu ibu
mengalami kontraksi lebih lama dari 12
jam.
Pada
umumnya
kehamilan
berkembang dengan normal menghasilkan
kelahiran bayi yang cukup bulan melalui
jalan lahir, namum kadang-kadang tidak
sesuai dengan harapan yang diharapkan.
Setiap pada ibu hamil bisa menghadapi
resiko komplikasi yang bisa mengancam
hidupnya (Oxorn, 2010). Partus lama
adalah merupakan fase terakhir dari suatu
partus yang macet dan berlangsung terlalu
lama sehingga sehinga timbul gejala-gejala
seperti dehidrasi, infeksi kelelahan ibu,
serta asfiksia dan Kematian janin dalam
kandungan (Prawirohardjo, 2009).
Partus lama merupakan indikasi yang
paling utama untuk melakukan persalinan
tindakan. Hal ini sering disebabkan oleh
disporposi kepala panggul, kelainan letak
dan gangguan kontraksi uterus (his yang
tidak adekuat). Pada umumnya persalinan
yang mengalami kesulitan untuk berjalan
normal seperti partus lama, distosia atau
komplikasi lain yang disebabkan oleh
banyak faktor yang kompleks, misalnya
kurang pengetahuan akan bahayanya
persalinan, ketrampilan yang kurang
sarana yang tidak memadai, masih
tebalnya kepercayaan kepada dukun serta
rendahnya pendidikan dan rendahnya
sosial ekonomi rakyat (Oxorn, 2010).
Fase laten persalinan dianggap lama
jika berlangsung lebih 20 jam pada
primipara atau 14 jam pada multiparadari
awitan kontraksi teratur hingga awitan
persalinan aktif 9 pembukaan3-4 cm ).
Akan tetapi, persalinan sering kali tidak
memiliki awal yang diskret dan ingatan ibu
bersalin dapat hilang saat merasa gembira
atau takut terhadap momen tersebut.
Perubahan servik progresif merupakan
penanda persalinan; kontraksi uterus
persisten saat tidak terjadi perubahan
serviks tidak boleh dianggap sebagai
persalinan dan harus diperlukan sebagai
persiapan untuk persalinan. Keletian ibu
yang disebabkan oleh kontraksi yang tidak
teratur dan presisten dapat berdampak
besar pada tingkat energi persalinan ibu
dan dapat mempengaruhi klinis untuk
memberi intervensi ketika persalinan
belum benar-benar terjadi. Dalam
penelitian menyatakan bahwa partus tak
maju merupakan indikasi kegawat
daruratan persalinan kala I yang harus
dilakukan seksio sesaria baik pada ibu
maupun janin dan juga tiap kehamilan dan
persalinan
berikutnya
memerlukan
pengawasan yang cermat ( Farley, 2012).
Seksio sesaria adalah suatu tindakan
untuk melahirkan bayi melalui sayatan
pada dinding abdomen dan uterus yang
masih utuh dengan berat janin di atas
1.000 gr atau kehamilan yang lebih dari 28
minggu (Manuaba, 2012).
Indikasi seksio sesaria bisa indikasi
absolut atau relatif. Setiap keadaan yang
membuat kelahiran lewat janin tidak
mungkin terlaksana merupakan indikasi
absolut untuk seksio abdominal. Di
antaranya adalah kessempitan panggul
yang sangat berat dan neoplasma yang
menyumbat jalan lahir. Pada indikasi
relatif, kelahiran lewat vagina bisa
terlaksana
tetapi
keadaan
adalah
sedemikian rupa sehingga kelahiran lewat
seksiosesaria akan lebih aman bagi ibu,
anak atau pun keduanya. Angka seksio
sesaria terus meningkat dari insidensi 3
hingga 4 % 15 tahun yang lampau sampai
insidensi 10 hingga 15 % sekarang ini.
Angka terakhir mungkin bisa diterima dan
benar. Bukan saja pembedahan menjadi
lebih aman bagi ibu, tetapi juga jumlah
bayi yang cedera akibat partus lama dan
pembedahan traumatik vagina menjadi
berkurang. Di samping itu, perhatian
terhadap kualitas kehiduppan dan
pengembangan intelektual pada bayi telah
memperluas indikasi seksio sesaria. Seksio
Sesaria adalah suatu pembedahan guna
melahirkan anak lewat insisi pada dinding
abdomen dan uterus (Oxorn, 2010).
Setelah dilakukan operasi seksio
sesaria pasien perluh diobservasi pasca
operasi yang bertujuan untuk mendekteksi
adanya resiko. Resiko yang biasanya
muncul pada ibu setelah operasi seksio
sesaria yaitu terjadinya infeksi yang dapat
memicu terjadinya sepsis, perdarahan
hebat lokal maupun prevaginal, dan nyeri
pada luka pasca operasi yang diakibatkan
oleh diskontinuitas jaringan. Namun
masalah utama yang sering muncul pada
pasien post seksio sesaria akibat hasil
insisi atau robeknya jaringan pada dinding
uterus adalah nyeri (Manuaba, 2012).
Nyeri merupakan sensasi subjektif
rasa tidak nyaman yang biasanya
berkaitan dengan kerusakan jaringan
aktual atau potensial. Secara umum, nyeri
diartikan sebagai suatu keadaan yang
tidak menyenangkan akibat terjadinya
rangsangan fisik maupun dari serabut
dalam serabut saraf dalam tubuh ke otak
dan diikuti oleh reaksi fisik, fiologis,
maupun emosional ( Musrifatul, 2008 ;
Padila, 2014).
Dari data yang diperoleh langsung dari
Rekam Medis RSUD Kota Salatiga,
didapatkan jumlah pasien dengan Seksio
Sesaria dengan indikasi Partus Lama yang
dirawat di Ruang Flamboyan I dalam tahun
2015 berjumlah 20 orang dari bulan
Januari sampai Desember, dan tertinggi
terdapat pada bulan Maret dan Mei.
Sehingga penulis tertari untuk
mengambil judul Pengelolaan Nyeri akut
Pada Ny. S Dengan Post Seksio Sesaria
Indikasi Partus Lama Di Ruang Flamboyan I
RSUD Salatiga.
METODE PENGELOLAAN
Metode yang digunakan adalah
wawancara dan memberikan pengelolaan
berupa mengajarkan teknik relaksasi nafas
dalam. Pengelolaan dilakukan selama 2
hari pada Ny. S
TINDAKAN KEPERAWATAN
Intervensi yang disusun pada hari
Jumat, tanggal 8 April 2016 pukul 09:30
WIB yaitu dengan diagnosa Nyeri
berhubungan
dengan
Diskontinuitas
Jaringan.
Intervensi pertama yaitu kaji tingkat
nyeri dan kualitasnya. Intervensi kedua
yaitu monitor keadaan umum dan tandatanda vital. Intervensi ketiga yaitu bimbing
melakukan teknik relaksasi nafas dalam.
Intervensi keempat yaitu berikan posisi
yang nyaman. Intervensi kelima yaitu
berikan obat analgetik.
HASIL PENGELOLAAN
Untuk mengetasi hal tersebut
implementasi yang dilakukan adalah
mengkaji tingkat nyeri dan kualitasnya,
memonitor keadaan umum dan tandatnda vital, membimbing melakukan teknik
relaksasi nafas dalam, memberikan posisi
yang nyaman dan memberikan obat
analgetik.
PEMBAHASAN
Langkah
pertama
dari
proses
keperawatan adalah pengkajian, dimulai
dari perawatan dengan menerapkan
pengetahuan dan pengalaman untuk
mengumpulkan data tentang klien
(
Potter & Perry, 2005).
Pengkajian nyeri merupakan cara
perawatan untuk menggali pengalaman
nyeri dari sudut pandang klien. Nyeri
dapat diukur menggunakan metode
PQRST: P (Provocate): mengkaji tentang
penyebab terjadinya nyeri. Q (quality):
deskripsi klien tentang nyeri dengan
kalimat seperti terbakar atau tertusuk. R
(region)
mengkaji
lokasi
nyeri,
menanyakan kepada klien nyeri di bagian
tubuh mana. S (Scale): kualitas nyeri yang
diungkapkan klien menggunakan skala
yang bersifat kuantitas seperti skala
deskriptif. T (time): mengkaji tentang
durasi nyeri, kapan nyeri muncul,
beberapa lama dan seberapa sering nyeri
muncul (Hidayat, 2008).
Sedangkan pengkajian skala nyeri
didasarkan pada skala nyeri Harward yang
menggunakan skala longitudinal yang
terdiri dari angkah 0 sampai 10. Angkah 0
menggambarkan tidak ada nyeri, 1 sampai
3 menggambarkan nyeri ringan, 4 sampai
6 menggambarkan nyeri sedang, 7 sampa
9 menggambarkan nyeri berat dan 10
menggambarkan nyeri sangat berat dan
tidak bisa dikontrol ( Mubbarok, 2007).
Penulis melakukan pengkajian pada
Ny. S pada hari Jumat tanggal 8 April 2016
di Ruang Flamboyan I RSUD Salatiga
dengan keluhan utama klien mengatakan
nyeri pada post operasi. Dari pengkajian
didapatkan data subyektif pada klien
dengan, P: nyeri muncul saat bergerak, Q :
nyeri seperti ditusuk-tusuk, R : nyeri pada
perut bagian bawah, S : skala nyeri 5, T :
nyeri hilang timbul. Sedangkan data
obyektifnya : tekanan darah 120/80
mmHg, nadi 80×/menit, dan klien terlihat
menahan nyeri saat bergerak.
Nyeri yang dialami Ny. S disebabkan
karena adanya diskontinuitas jaringan
kulit akibat sayatan pada tindakan seksio
sesaria.
Insisi
akan
menyebabkan
terputusnya jaringan kulit dan serabut
saraf yang ada dikulit ( kerusakan sel-sel
kulit). Kerusakan seluler ini dapat
disebabkan karena stimulus, terminal,
kimiawi, mekanik, atau stimulus listrik
akan menyebabkan pengeluaran substansi
yang menghasilkan nyeri. Substansi ini
akan mempengaruhi sensitivitas ujungujung saraf atau reseptor nyeri kemudian
dilepaskan ke jaringan ekstraseluler.
Implus saraf akan menyebar ke sepanjang
erabut saraf di dalam sistem saraf pusat.
Selain tempat sinaps dengan neuron
motorik. Setelah mencapai medulla
spinallis,
implus
motorik
akan
dikembalikan melalui serabut lengkungan
refleks bersama serabut saraf eferen
(motorik) menunju oto ot perifer yang
dekat dengan lokasi stimulasi. Otot sekitar
lokasi stimulasi akan berkontraksi dan
menyebabkan respon individu untuk
melingdungi area nyeri ( Potter & Perry,
2005).
KESIMPULAN
Pengkajian yang telah dilakukan oleh
penulis pada Ny. S dengan post operasi
seksio sesaria indikasi partus lama.
Didapatka data dari data subyektif, klien
mengatakan nyeri pada post operasi,
dengan hasil pengkajian nyeri didapatkan
data subyektif: Provocative = nyeri muncul
saat bergerak, Quality = nyeri seperti
ditusuk-tusuk, Region = nyeri pada perut
bagian bawah, Scale = skala nyeri sedang (
skala 5), Time = nyeri dirasakan hilang
timbul. Sedangkan data obyektif: tekanan
darah 120/80 mmHg, nadi 80×/ menit,
klien terlihat menahan nyeri saat
bergerak. Dan ntervensi yang dapat yaitu:
kaji tingkat nyeri dan kualitasnya, monitor
keadaan umum dan tanda-tanda vital
pasien, bimbing melakukan teknik
relaksasi nafas dalam, berikan posisi yang
nyaman dan berikan obat analgetik sesuai
terapi.Evaluasidari pengelolaan nyeri yang
penulis lakukan selama 2 hari pada Ny. S
dengan masalah nyeri sudah teratasi
dengan skala nyeri 1.
SARAN
Bagi Instansi Kesehatan atau
Rumah Sakit: Diharapkan untuk terus
meningkatkan mutu dalam pemberian
asuhan keperawatan pada pasien
khususnya pasien post operasi seksio
Sesaria indikasi Partus lama dengan
meningkatkan peran dan fungsi sebagai
perawat,
dan
dalam
melakukan
pengelolaan nyeri sehingga masalah nyeri
tidak memperburuk keadaan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Farley, L. C & Tharpe, L. N. (2012). Kapital
Selekta Praktik Klinik Kebidanan.
Jakarta: EGC.
Hidayat, A. A. ( 2008). Pengantar Konsep
Dasar Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Manuaba, (2010). Ilmu Kebidanan
Penyakit Kandungan dan KB
untuk Pendidikan Bidan Edisi 2.
Jakarta:EGC
Mansjoer, A.(2013). Asuhan Keperawatan
Maternitas, Jakarta: Salemba
Medika.
Mubbarok, (2007). Buku Ajar Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakarta: EGC.
Musrifatul, U. (2008). Ketrampilan Dasar
Praktik Klinik untuk kebidanan.
Jakarta: salemba Medika.
Oxorn, H.&Forte, V. W. (2010). Patologi &
Fisiologi persalinan. Yogyakarta:
Yayasan Essentia Medika.
Padila.
(2015).Asuhan
Keperawatan
Maternitas II.Yogyakarta: Nuha
Medika.
Prawiroharjo, S. (2009).Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal
Dan
Neonatal.Edisi 1. Jakarta:Penerbi
t Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Potter, A. P & Perry, (2005). Fundamental
Keperawatan Edisi 4 Volume 1.
Jakarta: EGC
Sondakh, J.S.J. (2013). Asuhan kebidanan
Persalinan & Bayi Baru Lahir.
Jakarta: EGC.
Download