xxi BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1

advertisement
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
2.1
Tinjauan Teoritis
2.1.1
Pengertian Pendapatan
Pendapatan adalah suatu aliran kas masuk atau kenaikan lain aktiva yang
berasal dari penjualan barang atau jasa yang merupakan kegiatan atau aktivitas
utama perusahaan. Pendapatan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup
perusahaan, semakin besar pendapatan yang diperoleh maka semakin besar
kemampuan perusahaan untuk membiayai segala pengeluaran dan kegiatankegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan. Selain itu pula pendapatan juga
berpengaruh terhadap laba rugi perusahaan yang tersaji dalam laporan laba rugi.
Dan yang perlu diingat lagi, pendapatan adalah darah kehidupan dari suatu
perusahaan. Tanpa pendapatan tidak ada laba, tanpa laba, maka tidak ada
perusahaan. Hal ini tentu saja tidak mungkin terlepas dari pengaruh pendapatan
dari hasil operasi perusahaan. Definisi pendapatan menurut Baridwan (2001)
adalah aliran kas masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau
pelunasan utangnya (atau kombinasi) selama suatu periode yang berasal dari
penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa atau dari kerugian lain yang
merupakan kegiatan utama badan usaha. Pendapatan merupakan salah satu unsur
yang paling utama dari pembentukan laporan laba rugi dalam suatu perusahaan.
Banyak yang masih bingung dalam penggunaan istilah pendapatan. Hal ini
disebabkan pendapatan dapat diartikan sebagai revenue dan dapat juga diartikan
sebagai income. Menurut Sugiri dan Sumiyana (1996) mengartikan bahwa
xxi
pendapatan sebagai revenue merupakan aliran masuk atau peningkatan lain suatu
aktiva sebuah entitas pelunasan utang (atau kombinasi dari keduanya) dari
pengiriman atau pembuatan barang pemberian jasa, atau aktivitas lainnya yang
merupakan kegiatan utama dan masih berlangsung dari entitas tersebut.
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23
mendefinisikan pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang
timbul dari aktivitas normal bank selama satu periode yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas dan tidak secara langsung berasal dari kontribusi penanaman
modal. Pendapatan dapat diadakan jika terjadi suatu transaksi atau kejadian yang
menaikkan aset atau menimbulkan aliran masuk kas. Pendapatan hanya meliputi
arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh
entitas untuk entitas itu sendiri. Jumlah yang ditagih untuk kepentingan pihak ke
tiga, seperti pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan, bukan merupakan
manfaat ekonomi yang mengalir ke entitas dan tidak mengakibatkan kenaikan
ekuitas. Oleh karena itu, hal tersebut dikeluarkan dari pendapatan. Hal yang sama
berlaku dalam hubungan keagenan, arus masuk bruto manfaat ekonomi mencakup
jumlah yang ditagih untuk kepentingan prinsipal dan tidak mengakibatkan
kenaikan ekuitas entitas. Jumlah yang ditagih atas nama prinsipal bukan
merupakan pendapatan. Sebaliknya, pendapatan adalah jumlah komisi yang
diterima.
Pendapatan juga mengandung makna yang luas dimana dalam pendapatan
termasuk pula pendapatan bunga, sewa, laba, pendapatan aktiva lain-lain.
Sehingga penyajian pendapatan dalam laporan keuangan dipisahkan antara
xxii
pendapatan operasional dengan pendapatan di luar pendapatan operasional. Dasar
yang digunakan
untuk mengukur besarnya
pendapatan adalah
dengan
menggunakan nilai tukar (exchange value) dari barang atau jasa yang ditukar
dengan cash equivalent atau present value dari tagihan-tagihan yang diharapkan
dapat diterima. Pendapatan juga merupakan produk perusahaan. Pendapatan
dikatakan sebagai produk perusahaan karena pendapatan terbentuk bersamaan
atau selama kegiatan produktif tanpa harus menunggu kejadian atau saat
penyerahan produk kepada pelanggan. Pendapatan harus dinyatakan dalam satuan
moneter untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling
obyektif adalah kalau jumlah rupiah tersebut merupakan hasil dari transaksi atau
pertukaran antar pihak yang independen. Pendapatan juga merupakan suatu
konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua pos dengan berbagai bentuk
dan nama apapun, sehingga antara perusahaan dagang atau jasa bisa memiliki
nama yang berbeda dalam pendefinisian pendapatan.
Boediono (1992) mengemukakan bahwa pendapatan adalah hasil dari
penjualan faktor-faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor produksi.
Sedangkan menurut Winardi (1992 : 171) pendapatan adalah hasil berupa uang
atau materi lainnya yang dapat dicapai dari pada penggunaan faktor-faktor
produksi. Dengan demikian maka yang dimaksud dengan pendapatan jasa adalah
nilai dari seluruh jasa yang dihasilkan suatu badan usaha dalam suatu periode
tertentu.
Adanya penafsiran yang berlainan terhadap pengertian pendapatan bagi
pihak yang berkompeten disebabkan karena latar belakang disiplin yang berbeda
xxiii
dengan penyusunan konsep pendapatan bagi pihak tertentu. Konsep pendapatan
belum dapat dijelaskan secara universal oleh pemakai akuntansi, karena pemakai
informasi laporan keuangan khususnya laporan laba rugi yang memuat tentang
pendapatan berguna untuk masing - masing pemakai laporan yang berbeda – beda
tergantung dari sudut mana ia memandang. Secara garis besar konsep pendapatan
dapat ditinjau dari dua sisi yaitu :
a.
Konsep pendapatan menurut ilmu ekonomi
Pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh
seseorang dalam seminggu dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir
periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada pola
kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Secara garis
besar, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah
keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang
dikonsumsi. Defenisi pendapatan menurut ilmu ekonomi menutup kemungkinan
perubahan lebih dari total harta kekayaan, badan usaha awal periode dan
menekankan pada jumlah nilai yang statis pada akhir periode.
Bastian (2006 : 105) menyatakan pendapatan adalah arus kas masuk
selama periode laporan dengan tujuan peningkatan aktiva atau ekuitas netto dan
ini berarti peningkatan kontribusi dari pemilik. Sedangkan menurut Sulistiyowati
(2010 : 87) menjelaskan pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas
perusahaan yang normal dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti
penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen, royalty, dan sewa. Dari definisi yang
dikemukakan tersebut, pendapatan menurut ilmu ekonomi mengindikasikan
xxiv
adanya suatu aliran dana (kas) yang terjadi dari satu pihak kepada pihak lainnya.
Pendapatan bagi masyarakat (upah, bunga, sewa dan laba) muncul sebagai akibat
jasa produktif yang diberikan kepada pihak business. Pendapatan bagi pihak
business diperoleh dari pembelian yang dilakukan oleh masyarakat untuk
memperoleh barang dan jasa yang dihasilkan atau diproduksi oleh pihak business,
maka konsep pendapatan (income) menurut ekonomi pada dasarnya sangat
berbeda dengan konsep pendapatan (revenue) menurut akuntansi.
b.
Konsep pendapatan menurut ilmu akuntansi.
Pandangan yang menekankan pada pertumbuhan atau peningkatan jumlah
aktiva yang timbul sebagai hasil dari kegiatan operasional perusahaan pendekatan
yang memusatkan perhatian kepada arus masuk atau inflow. Sedangkan
pandangan yang menekankan kepada penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan
serta penyerahan barang dan jasa atau outflow. Konsep dasar pendapatan pada
dasarnya adalah suatu proses mengenai arus penciptaan barang dan jasa oleh
perusahaan selama jangka waktu tertentu. Dalam definisi tersebut menekankan
pengertian pendapatan pada arus masuk penambahan lain atas aktiva suatu entitas
atau penyelesaian kewajiban-kewajibannya atau kombinasi keduanya yang berasal
dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa atau kegiatan-kegiatan lain
yang merupakan operasi inti.
Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa ada dua penggolongan mengenai
pendapatan yaitu penggolongan secara luas dan secara sempit. Pendapatan secara
luas menitikberatkan kepada keseluruhan kegiatan perusahaan yang menghasilkan
kenaikan aktiva atau berkurangnya hutang dan dapat merubah modal pemiliknya.
xxv
Keseluruhan kegiatan perusahaan itu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan lain
di luar kegiatan utama. Pemfokusan kegiatan perusahaan terhadap kegiatan utama
yang berakibat kepada kenaikan aktiva atau pengurangan hutang dan yang dapat
merubah modal tersebut pendapatan dalam arti sempit. Dalam PSAK nomor 23
Ikatan Akuntan Indonesia (2012 : 23) menyatakan bahwa Pendapatan adalah arus
kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal
perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas, pendapatan dapat di bedakan
yang terdiri dari beberapa jenis, sebagai berikut:
1.
Pendapatan bersih (disposable income)
adalah pendapatan seseorang
sesudah dikurangi pajak langsung.
2.
Pendapatan diterima di muka (unearned revenues) adalah uang muka
untuk pendapatan yang belum dihasilkan.
3.
Pendapatan lain-lain adalah pendapatan yang berasal dari sumber-sumber
diluar kegiatan utama perusahaan, tidak termasuk dalam pendapatan
operasi, misalnya: pendapatan bunga, pendapatan sewa, pendapatan
deviden dan laba penjualan aktiva tetap.
4.
Pendapatan permanen (permanent income) adalah pendapatan rata-rata
yang diharapkan rumah tangga konsumsi selama hidupnya.
5.
Pendapatan uang (money income) adalah pendapatan rumah tangga
konsumsi atau rumah tangga produksi dalam bentuk suatu kesatuan
moneter.
xxvi
6.
Pendapatan usaha (operating revenue) adalah pendapatan yang berasal
dari kegiatan utama perusahaan.
7.
Pendapatan yang diterima di muka (unearned revenue or income) :
a.
Pendapatan (atau penghasilan) yang diterima di muka tetapi belum diakui
sebagai pendapatan (dicatat sebagai utang pendapatan) pada saat
penerimaannya, dan baru akan diakui sebagai pendapatan manakala
perusahaan telah menyelesaikan kewajibannya berupa pengiriman barang
atau penyerahan jasa kepada pihak yang bersangkutan pada waktu yang
akan datang. Unearned revenue dapat diakui secara bertahap sesuai dengan
penyelesaian kewajiban oleh perusahaan.
b.
Pendapatan (pajak) dari sumber-sumber selain jasa-jasa pribadi.
8.
Pendapatan yang masih harus diterima (accrued revenues or accrued
receivable) adalah pendapatan yang sudah dihasilkan (earned) walaupun
piutang yang bersangkutan belum jatuh tempo (belum saatnya ditagih).
2.1.2 Pengakuan Pendapatan
Masalah waktu yang tepat untuk mengakui pendapatan telah mendapat
perhatian besar selama beberapa tahun terakhir. Apalagi terhadap perusahaan yang
bergerak pada bidang jasa konstruksi yang memiliki proyek pekerjaan yang
biasanya relatif panjang dan memerlukan beberapa periode dalam pengerjaannya.
Maka dari itu, pengakuan yang tepat dan akurat diperlukan oleh perusahaan
konstruksi.
Pengakuan suatu jumlah rupiah dalam akuntansi pada umumnya
didasarkan pada konsep objektivitas yaitu bahwa jumlah rupiah tersebut dapat
diukur secara cukup pasti dan ada keterlibatan pihak independen dalam
xxvii
pengukurannya. Dengan kata lain harus ada bukti yang cukup objektif untuk dapat
mengakui. Bila kondisi atau kejadian tertentu menjadikan kriteria tersebut
dipenuhi maka kondisi atau kejadian tersebut akan memicu pengakuan
pendapatan. Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah pendapatan secara
formal ke dalam sistem pembukuan sehingga jumlah tersebut terrefleksi dalam
statemen keuangan. Definisi pendapatan harus dipisahkan dari pengertian
pengakuan pendapatan. Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang dari
landasan konseptual. Oleh karena itu secara konseptual, pendapatan hanya diakui
kalau memenuhi kualitas keterukuran dan keterandalan. Kualitas tersebut harus
dioperasionalkan dalam bentuk kriteria pengakuan pendapatan. Pendapatan harus
diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Pada
umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas. Bila arus masuk dari
kas atau setara kas ditangguhkan, nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin
kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima.
Untuk
menjabarkan
kriteria
kualitas
informasi
menjadi
kriteria
pembentukan pendapatan, terdapat dua konsep penting yang perlu dipahami yaitu
pembentukan pendapatan dan realisasi pendapatan. Pembentukan pendapatan
merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan masalah kapan dan bagaimana
sesungguhnya pendapatan itu timbul atau menjadi ada. Konsep ini menyatakan
bahwa pendapatan terbentuk, terhimpun atau terhak bersamaan dengan dan
melekat pada seluruh atau totalitas proses berlangsungnya operasi perusahaan dan
bukan sebagai hasil transaksi tertentu. Sementara itu, konsep realisasi pendapatan
menjelaskan bahwa Pendapatan terjadi atau terbentuk pada saat produk selesai
xxviii
dikerjakan dan terjual langsung atau pada saat terjual atas dasar kontrak
penjualan. Konsep realisasi pendapatan lebih berkaitan dengan masalah
pengukuran pendapatan secara objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan
daripada bersifat makna pendapatan. Untuk memenuhi kualitas keterukuran dan
reliabilitas dan untuk memenuhi konsep dasar upaya dan hasil, kriteria pengakuan
pendapatan didasarkan atas dua konsep yang saling melengkapi yaitu untuk dapat
mengakui pendapatan, pembentukan pendapatan harus dikonfirmasi dengan
realitas. Terbentuknya pendapatan tidak harus selalu mendahului realisasi
pendapatan. Pendapatan baru dapat diakui kalau dipenuhi syarat-syarat yaitu
keterukuran nilai aset, adanya suatu transaksi, dan proses penghimpunan secara
substansial telah selesai.
Menurut Warren et al. (2006, h.124) dasar pengakuan pendapatan
(revenue) secara umum ada dua cara yaitu:
1.
Dasar Kas (Cash Basis).
Pada dasar kas, pendapatan dan beban dilaporkan dalam laporan laba rugi
pada periode dimana kas diterima atau dibayar. Misalnya, penghasilan
dicatat ketika kas ditirima dari klien, dan upah dicatat ketika kas
dibayarkan kepada karyawan. Laba (rugi) bersih merupakan selisih antara
penerimaan kas (pendapatan) dan pengeluaran kas (beban).
2.
Dasar Akrual (Accrual Basis).
Pada dasar akrual, pendapatan dilaporkan dalam laporan laba rugi pada
periode saat
pendapatan tersebut
dihasilkan
(earned). Misalnya,
pendapatan dilaporkan pada saat jasa diberikan kepada pelanggan tanpa
xxix
melihat apakah kas telah diterima atau belum dari pelanggan selama
periode ini.
Pendapatan menurut Harnanto (2007: 93) adalah Aliran masuk atau
kenaikkan aktiva suatu perusahaan atau penurunan kewajiban (atau keduanya)
yang terjadi dalam suatu periode akuntansi yang berasal dari aktivitas produksi
dan penjualan barang, penyerahan jasa dan aktivitas yang lain yang merupakan
usaha pokok perusahaan.
Prinsip dari pengakuan pendapatan adalah diakui pada saat :
1.
Direalisasi atau dapat direalisasi.
Pendapatan direalisasi, apabila barang atau jasa dipertukarkan untuk kas
atau klaim atas kas (Piutang), sedangkan pendapatan dapat direalisasi
adalah apabila aktiva yang diterima dapat dikonversikan pada jumlah kas
atau klam atas kas yang diketahui.
2.
Dihasilkan atau sudah diperoleh seluruh atau sebagian besar untuk
merealisasikan sudah diselesaikan.
Pendapatan dihasilkan, apabila sebagian besar telah menyelesaikan yang
seharusnya dilakukan agar berhak atas manfaat yang diberikan dari
pendapatan yakni bila proses mencari laba telah selesai.
Selain itu dalam kondisi tertentu, dimungkinkan untuk melakukan
penyimpangan dari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan diatas yaitu:
1.
Pendapatan diakui pada saat selesainya produksi.
Hal ini berlaku bagi produk yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
xxx
a.
Harga jual dapat ditentukan dengan cukup tepat.
b.
Harga pokok produk yang bersangkutan sulit ditentukan.
c.
Satuan-satuan persediaan dapat saling tukar.
2.
Pendapatan diakui secara proporsional selama tahap produksi.
Cara yang lazim dijumpai pada perusahaan kontraktor yang mengerjakan
proyek yang pada umumnya memakan waktu beberapa periode
akuntansi. Laba diakui secara periodik atas dasar persentase pekerjaan
yang
diselesaikan. Hal
ini
dimungkinkan
taksiran
biaya
untuk
menyelesaikan kontrak dan tahap kemajuan dalam penyelesaian kontrak
dapat dipertanggung jawabkan.
3.
Pendapatan diakui pada saat pembayaran diterima.
Apabila tidak ada kepastian yang benar mengenai piutang yang timbul dari
penjualan barang dan jasa, pengakuan pendapatan dapat ditunda sampai
saat diterimanya kas. Ketidakpastian biasanya berhubungan dengan belum
berpindahnya hak atas barang sampai dilunasinya pembayaran, sehingga
terdapat kemungkinan pembatalan transaksi penjualan yang dilakukan.
Menurut Stice et al. (2004) Ada empat metode pengakuan dalam
mengakui pendapatan yaitu :
1.
Full Accrual, berdasarkan metode ini, pendapatan dari penjualan diakui
penuh tanpa memperhatikan apakah pembayaran sudah diakui seluruhnya
atau masih sebagian, asalkan sudah memberi uang muka.
xxxi
2.
Installment Method atau metode penjualan cicilan, menurut metode ini,
pendapatan lebih baik diakui ketika kas diterima daripada saat penjualan.
Penerapan yang paling umum untuk metode ini adalah :
a.
Untuk barang dagangan, laba akan diakui sebesar persentase laba (laba
dibagi penjualan) dikalikan penerimaan cicilan
b.
Untuk real estate, dengan rumusan yang sama dengan barang
dagangan,maka rumus untuk mencari laba yang direalisasi juga dapat
diterapkan pada perusahaan real estate, hanya terdapat beberapa perbedaan
dalam jurnalnya. Hal ini dikarenakan karakteristik perusahaan real estate
berbeda dengan perusahaan dagang.
3.
Cost Recovery Method (Metode Perolehan Kembali Harga Pokok),
menurut metode ini, tidak ada laba yang diakui untuk suatu penjualan
sampai harga pokok barang yang dijual diperoleh kembali melalui
penerimaan kas. Setelah itu, semua penerimaan berikutnya dilaporkan
sebagai pendapatan. Metode ini hanya digunakan apabila keadaankeadaan yang melingkupi suatu penjualan sangat tidak pasti sehingga
pengakuan yang lebih awal tidak mungkin dilakukan.
4.
Reduced Profit Method
Kriteria yang harus dipenuhi apabila suatu perusahaan ingin menerapkan
metode ini, yaitu :
a.
Apabila pembayaran awal yang disyaratkan telah terpenuhi.
xxxii
b.
Pembayaran tiap tahun harus mencakup amortisasi bunga dan hutang
pokok dari pinjaman maksimal penjual yang dapat diperoleh untuk
properti tersebut.
Menurut Smith and Skousen (2008) metode pengakuan pendapatan jasa
konstruksi terbagi menjadi dua yaitu Metode Kontrak Selesai adalah pengakuan
pendapatan dan laba kotor pada saat kontrak selsesai dan Metode Persentase
Penyelesaian adalah pengakuan pendapatan dan laba kotor diakui setiap periode
berdasarkan tingkat kemajuan dalam penyelesain pembangunan dalam bentuk
persentase.
2.1.3
Kontrak Konstruksi
Pada perusahaan konstruksi sebuah kontrak konstruksi merupakan bagian
terpenting dalam proses kerjasama yang akan dilakukan dengan perusahaan
pemberi jasa. Kontrak konstruksi adalah suatu ikatan perjanjian atau negosiasi
antara pemilik proyek dengan agen-agen mengkoordinasikan seluruh kegiatan
proyek dengan tujuan untuk meminimalkan biaya dan jadwal serta menjaga mutu
proyek. Kontrak merupakan dokumen yang penting dalam proyek. Segala hal
terkait hak dan kewajiban antar pihak serta alokasi risiko diatur dalam kontrak.
Pemahaman kontrak mutlak diperlukan oleh Tim proyek dalam menjalankan
proyek agar semua masalah dan risiko yang terkandung di dalamnya dapat diatasi
dan sesuai dengan kemampuan masing-masing pihak untuk mengatasinya.
Soeharto (1995) mendefinisikan kontrak konstruksi sebagai suatu proses dimana
pemilik
proyek
membuat
suatu
ikatan
dengan
agen
dengan
tugas
mengkoordinasikan seluruh kegiatan penyelenggaraan proyek termasuk studi
xxxiii
kelayakan, desain, perencanaan, persiapan kontrak konstruksi dan lain-lain,
kegiatan proyek dengan tujuan meminimkan biaya dan jadwal serta menjaga mutu
proyek.
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.34 paragraf 3
Mendefinisikan Kontrak konstruksi adalah suatu kontrak yang dinegoisasikan
secara khusus untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi aset yang
berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan,
teknologi, dan fungsi atau tujuan pokok penggunaan. Suatu kontrak konstruksi
mungkin dinegoisasikan untuk membangun sebuah aset tunggal seperti jembatan,
bangunan, bendungan, pipa, jalan, kapal, dan terowongan. Kontrak konstruksi
juga berkaitan dengan sejumlah aset yang berhubungan erat atau saling tergantung
satu sama lain dalam hal rancangan, teknologi, dan fungsi atau tujuan pokok
penggunaan. Dalam kontrak konstruksi ada dua jenis kontrak yaitu :
1.
Kontrak harga tetap
Kontrak konstruksi dengan syarat bahwa kontraktor telah menyetujui nilai
kontrak tetap, atau tarif tetap yang telah ditentukan per unit output, yang
dalam beberapa hal tunduk pada klausa-klausa kenaikan biaya.
2.
Kontrak biaya - plus
Kontrak konstruksi yang mana kontraktor mendapatkan penggantian untuk
biaya - biaya yang telah diizinkan atau telah ditentukan, ditambah imbalan
dengan persentase terhadap biaya atau imbalan.
Dalam suatu kontrak konstruksi terdapat bentuk – bentuk kontrak
konstruksi :
xxxiv
1.
Aspek perhitungan biaya
Kontrak disini didasarkan pada cara perhitungan biaya pekerjaan/borongan
yang akan dicantumkan dalam kontrak. Kontrak konstruksi berdasarkan
aspek perhitungan biaya dibagi menjadi 2, yaitu :
a.
Fixed Lump Sum Price
Kontrak ini menyatakan bahwa kontraktor akan melaksanakan proyek
sesuai dengan rancangan biaya tertentu. Jika terjadi perubahan dalam
kontrak, perlu dilakukan negosiasi antara pemilik dan kontraktor untuk
menetapkan besarnya pembayaran (tambah atau kurang) yang akan
diberikan kepada kontraktor terhadap perubahan tersebut. Kontrak ini
dapat diterapkan jika perencanaan benar-benar telah selesai, sehingga
kontraktor dapat melakukan estimasi kuantitas secara akurat. Pemilik
dengan anggaran terbatas akan memilih jenis kontrak ini, karena
merupakan satu-satunya jenis kontrak yang memberi nilai pasti terhadap
biaya yang akan dikeluarkan. Selain itu Fixed Lump Sum Price dapat juga
diartikan volume kontrak tidak boleh diukur ulang, harga penawaran tidak
boleh diubah kecuali pada salah satu volume dan harga satuan. Resiko
akibat perubahan karena koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab
penyedia jasa. Penyedia jasa menanggung semua resiko. Jenis kontrak ini
bersifat tetap dan pasti. Pemenang tender harus menyelesaikan kontrak
pengadaan barang dan jasa sampai pekerjaan tersebut selesai sesuai
dengan jangka waktu penyelesaian yang sudah ditentukan. Apabila ada
xxxv
risiko dalam penyelesaian pekerjaan tersebut menjadi tanggungjawab
pemenang tender. Dalam kontrak lump sum, pemilik dasarnya telah
ditetapkan seluruh risiko kepada kontraktor, yang pada gilirannya dapat
diharapkan untuk meminta markup yang lebih tinggi dalam rangka untuk
mengurus kontinjensi yang tidak terduga.
b.
Unit Price
Kontrak jenis ini adalah suatu kontrak yang menitik beratkan biaya per
unit volume, per unit panjang ataupun per unit berat. Kontrak ini dipakai
jika kualitas dan bentuk dari pekerjaan tersebut secara mendetil dapat
dispesifikasikan, tetapi jumlah volume atau panjangnya tidak dapat
diketahui dengan tepat. Volume kontrak diukur ulang, harga penawaran
dapat berubah tetapi harga satuan tidak dapat berubah. Resiko akibat
perubahan karena koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab penyedia jasa
dan pengguna jasa sama-sama memikul semua resiko. Adanya opname
menimbulkan peluang kolusi. Jenis kontrak ini bersifat tetap dan pasti,
berdasarkan harga satuan pekerjaan dengan spesifikasi tertentu. Sehingga
pembayarannya dilakukan atas dasar pengukuran bersama atas volume
pekerjaan. Dalam kontrak harga satuan, risiko estimasi tidak akurat dalam
jumlah yang tidak pasti untuk beberapa tugas utama yang telah dihapus
dari kontraktor. Namun, beberapa kontraktor dapat mengajukan tawaran
seimbang ketika menemukan perbedaan yang besar antara estimasi dan
perkiraan pemilik dari kuantitas. Tergantung pada kepercayaan kontraktor
pada perkiraan sendiri dan kecenderungan pada risiko, seorang kontraktor
bisa sedikit menaikkan harga unit pada tugas diremehkan sambil
xxxvi
menurunkan harga unit pada tugas-tugas lainnya. Jika kontraktor benar di
dalam pengkajian, maka dapat meningkatkan keuntungan secara
substansial sejak pembayaran dilakukan pada jumlah yang sebenarnya
tugas, dan jika sebaliknya adalah benar, maka bisa kehilangan atas dasar
ini.
2.
Aspek perhitungan jasa
Kontrak disini didasarkan pada cara pembayaran jasa yang akan
dibayarkan oleh pengguna jasa kepada penyedia jasa. Kontrak berdasarkan
aspek perhitungan jasa dibagi menjadi 3, yaitu :
a.
Biaya Tanpa Jasa (Cost Without Fee)
Pada jenis kontrak ini kontraktor dibayar berdasarkan atas semua biaya
pengeluarannya. Kontrak jenis ini biasanya untuk proyek-proyek
pembangunan tempat ibadah, yayasan sosial dan lain-lain.
b.
Biaya Ditambah Jasa (Cost Plus Fee)
Pada kontrak jenis ini, kontraktor akan menerima pembayaran atas
pengeluarannya, ditambah dengan biaya untuk overhead dan keuntungan.
Besarnya biaya overhead dan keuntungan, umumnya didasarkan atas
persentase biaya yang dikeluarkan kontraktor. Kontrak jenis ini umumnya
digunakan jika biaya aktual dari proyek belum bisa diestimasi secara
akurat, karena perencanaan belum selesai, proyek tidak dapat digambarkan
secara akurat, proyek harus diselesaikan dalam waktu singkat, sementara
rencana dan spesifikasi belum dapat diselesaikan. Kekurangan dari kontrak
xxxvii
jenis ini, yaitu pemilik tidak dapat mengetahui biaya aktual proyek yang
akan dilaksanakan.
c.
Biaya Ditambah Jasa Pasti (Cost Plus Fixed Fee)
Pada jenis kontrak ini imbalan/ jasa bervariasi tergantung besarnya biaya,
jumlah fee sudah ditetapkan. Berisiko bagi pengguna jasa karena tidak ada
batasan biaya yang diperlukan.
d.
Cost Plus Kontrak Persentase Tetap
Untuk beberapa jenis konstruksi yang melibatkan teknologi baru atau
sangat menekan kebutuhan, pemilik kadang-kadang terpaksa menanggung
semua risiko terjadinya overruns biaya. Kontraktor akan menerima biaya
pekerjaan aktual langsung ditambah persentase tetap, dan memiliki sedikit
insentif untuk mengurangi biaya pekerjaan. Lebih lanjut, jika ada
kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan proyek tersebut, pembayaran
lembur untuk pekerja yang umum dan selanjutnya akan meningkatkan
biaya pekerjaan. Kecuali ada alasan kuat, seperti urgensi dalam
pembangunan instalasi militer, pemilik tidak harus menggunakan jenis
kontrak.
e.
Kontrak Cost Plus Biaya Tetap
Di bawah ini jenis kontrak, kontraktor akan menerima biaya pekerjaan
aktual langsung ditambah biaya tetap, dan akan memiliki beberapa insentif
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat karena biaya adalah tetap
terlepas dari durasi proyek. Namun, pemilik masih menganggap risiko
xxxviii
biaya langsung pekerjaan overrun sementara kontraktor tersebut mungkin
resiko erosi dari keuntungan bila proyek tersebut diseret di luar waktu
yang diharapkan.
f.
Biaya Variabel Plus Kontrak Persentase
Untuk jenis kontrak, kontraktor setuju untuk hukuman jika biaya aktual
melebihi perkiraan biaya pekerjaan, atau hadiah jika biaya yang
sebenarnya berada di bawah estimasi biaya pekerjaan. Sebagai imbalan
untuk mengambil resiko atas taksiran sendiri, kontraktor diperbolehkan
persentase variabel biaya-pekerjaan langsung untuk biaya nya. Selain itu,
durasi proyek biasanya ditentukan dan kontraktor harus mematuhi batas
waktu penyelesaian. Jenis kontrak mengalokasikan resiko yang cukup
untuk Kelebihan biaya kepada pemilik, tetapi juga memberikan insentif
kepada kontraktor untuk mengurangi biaya sebanyak mungkin.
g.
Perkiraan Target Kontrak
Ini adalah bentuk lain dari kontrak yang menentukan hukuman atau hadiah
kepada kontraktor, tergantung pada apakah biaya yang sebenarnya lebih
besar dari atau kurang dari biaya yang diperkirakan langsung pekerjaan
kontraktor. Biasanya, persentase tabungan atau over run untuk dibagikan
oleh pemilik dan kontraktor adalah ditentukan dan durasi proyek
ditentukan dalam kontrak. Bonus atau denda mungkin akan diatur untuk
tanggal penyelesaian proyek yang berbeda.
xxxix
h.
Dijamin Kontrak Maximum Cost
Bila ruang lingkup proyek didefinisikan dengan baik, pemilik dapat
memilih untuk meminta kontraktor untuk mengambil semua risiko, baik
dari segi biaya proyek aktual dan waktu proyek. Setiap perintah perubahan
kerja dari pemiliknya harus sangat kecil jika sama sekali, karena
spesifikasi kinerja yang diberikan kepada pemilik pada awal konstruksi.
Pemilik dan kontraktor sepakat untuk biaya proyek yang dijamin oleh
kontraktor sebagai maksimum. Mungkin ada atau mungkin tidak ketentuan
tambahan untuk berbagi tabungan jika ada dalam kontrak. Jenis kontrak ini
sangat cocok untuk operasi turnkey.
3.
Aspek cara pembayaran
Kontrak disini didasarkan pada cara pembayaran prestasi pekerjaan yang
sudah dilakukan oleh penyedia jasa. Kontrak berdasarkan aspek cara
pembayaran dibagi menjadi 3, yaitu :
a.
Cara Pembayaran Bulanan (Monthly Payment)
Yaitu prestasi pekerjaan kontraktor dihitung setiap bulan dan dibayar
setiap bulan. Kelemahan cara pembayaran ini adalah berapapun kecilnya
prestasi penyedia jasa pada suatu bulan tertentu, tetap harus dibayar. Untuk
menutupi kelemahan cara pembayaran ini sering dimodifikasi dengan
mempersyaratkan jumlah pembayaran minimum yang harus dicapai untuk
setiap bulan diselaraskan dengan prestasi yang harus dicapai sesuai jadwal.
Seringkali penyedia jasa mengkompensasi kurangnya prestasi kerja
xl
dengan prestasi bahan dengan cara menimbun bahan di lapangan. Untuk
mengatasinya bisa dipersyaratkan bahwa bahan yang ada di lapangan tidak
dihitung
sebagai
prestasi,
kecuali
pekerjaan
yang
betul-betul
selesai/terpasang atau bisa juga barang-barang setengah jadi
b.
Cara Pembayaran atas Prestasi (Stage Payment)
Pembayaran dilakukan atas dasar prestasi/ kemajuan prestasi. Besarnya
prestasi dinyatakan dalam persentase. Cara Pembayaran Termin atau
Prestasi (Stage Payment). Seringkali prestasi yang diakui penyedia jasa
bukan saja prestasi fisik (pekerjaan selesai) tetapi termasuk pula prestasi
bahan mentah dan setengah jadi walaupun barang-barang tersebut sudah
berada di lapangan (front end loading)
c.
Pra Pendanaan Penuh dari Penyedia Jasa (Contractor’s Full Pre-financed)
Penyedia jasa mendanai terlebih dahulu sampai pekerjaan selesai 100 %
diterima baik oleh pengguna jasa baru dibayar oleh penyedia jasa.
Pengguna jasa memberi jaminan kepada penyedia jasa berupa jaminan
Bank Kontrak bentuk ini biasanya nilainya lebih tinggi.
4.
Aspek pembagian tugas
Kontrak disini didasarkan pada cara pembagian tugas pada pihak yang
terkontrak. Kontrak berdasarkan aspek pembagian tugas dibagi menjadi 6,
yaitu :
xli
a.
Bentuk Kontrak Konvensional
Pengguna Jasa menugaskan Penyedia Jasa untuk melaksanakan salah satu
aspek pembangunan saja. Setiap aspek satu Penyedia Jasa dimana
perencanaan, pengawasan, pelaksanaan dilakukan Penyedia Jasa yang
berbeda. Oleh karena itu pengawas pekerjaan secara khusus diperlukan
untuk mengawasi pekerjaan.
b.
Bentuk Kontrak Spesialis
Penggunan jasa menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan
spesialis untuk masing-masing keahlian. Keuntungan dari kontrak ini
adalah mutu pekerjaan lebih handal, penghematan waktu, dan Keleluasaan
serta kemudahan mengganti penyedia jasa.
c.
Bentuk Kontrak Rancang Bangun (Design Construction/Built, Turn-key)
Dalam bentuk kontrak ini, penyedia jasa bertugas membuat perencanaan
yang lengkap dan melaksanakannya dalam suatu kontrak konstruksi.
Perbedaan antara design construction/built, dan turn-key adalah dari
sistem
pembayarannya,
dimana
pada
design
construction/built
pembayaran secara termijn sesuai pekerjaan. Sedangkan turn-key
pembayarannya sekaligus setelah pekerjaan selesai.
d.
Bentuk Kontrak Engineering, Procurement dan Construction (EPC)
Pada bentuk kontrak ini proses mulai dari perencanaan, pengadaan dan
peralatan dan pemasangan / pengerjaan menjadi tanggung jawab penyedia
jasa. Pengguna jasa hanya memberikan TOR atau pokok-pokok acuan
xlii
tugas. Kontrak ini biasa dipakai untuk pembayaran pekerjaan-pekerjaan
dalam industri.
e.
Bentuk Kontrak BOT/BLT
Pada jenis kontrak ini Investor membangun pada lahan pemilik (Build).
Setelah itu Investor mengelola selama kurun waktu tertentu (Operate) dan
setelah masa pengoperasian selesai fasilitas tersebut dikembalikan kepada
pemilik (Transfer).
f.
Bentuk Swakelola (Force Account)
Yaitu suatu tindakan pemilik proyek yang melibatkan diri dan bertanggung
jawab secara langsung dalam pelaksanaan proyek tersebut.
2.1.4 Pengakuan Pendapatan Jasa Konstruksi Menurut PSAK No. 34
Standar Akuntansi Keuangan secara khusus mengatur tentang pengakuan
pendapatan dan biaya kontrak dengan menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) No. 34 tentang Akuntansi Kontrak Konstruksi. Tujuan PSAK
No. 34 adalah untuk menggambarkan perlakuan akuntansi pendapatan dan biaya
yang berhubungan dengan kontrak konstruksi. Oleh karena sifat dari aktivitas
yang dilakukan pada kontrak konstruksi, tanggal saat aktivitas pada kontrak mulai
dilakukan dan tanggal saat aktivitas tersebut diselesaikan biasanya jatuh pada
periode akuntansi yang berlainan. Oleh karena itu, persoalan utama dalam
akuntansi kontrak konstruksi adalah alokasi pendapatan kontrak dan biaya kontrak
pada periode dimana pekerjaan konstruksi tersebut dilaksanakan Pernyataan ini
menggunakan kriteria pengakuan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan
dan Penyajian Laporan Keuangan untuk menentukan kapan pendapatan dan biaya
xliii
suatu kontrak konstruksi harus diakui sebagai pendapatan dan beban dalam
laporan laba rugi.
Ikatan Akuntan Indonesia (2012, h.34.9) dalam PSAK No. 34, penentuan
pendapatan dan beban dengan memperhatikan tahap penyelesaian suatu kontrak
sering disebut sebagai metode persentase penyelesaian. Metode ini digunakan
pada jasa konstruksi untuk kontrak jangka panjang. Menurut metode ini,
pendapatan kontrak dihubungkan dengan biaya kontrak yang terjadi dalam
mencapai tahap penyelesaian tersebut, sehingga pendapatan, beban dan laba yang
dilaporkan
dapat
diatribusikan
menurut
penyelesaian
pekerjaan
secara
proporsional. Metode ini memberikan informasi yang berguna mengenai luas
aktivitas kontrak dan kinerja selama suatu periode.
Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 34, yaitu :
1.
Kontrak konstruksi adalah suatu kontrak yang dinegosiasikan secara
khusus untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi aset yang
berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal
rancangan, teknologi dan fungsi atau tujuan atau penggunaan pokok.
2.
Kontrak Harga Tetap adalah kontrak konstruksi dengan syarat bahwa
kontraktor telah menyetujui nilai kontrak yang telah ditentukan, atau tarip
tetap yang telah ditentukan per unit output, yang dalam beberapa hal
tunduk pada ketentuanketentuan kenaikan biaya.
3.
Kontrak Biaya - Plus adalah kontrak konstruksi di mana kontraktor
mendapatkan penggantian untuk biaya-biaya yang telah diijinkan atau
xliv
telah ditentukan, ditambah imbalan dengan persentase terhadap biaya atau
imbalan tetap.
4.
klaim adalah jumlah yang diminta kontraktor kepada pemberi kerja atau
pihak lain sebagai penggantian untuk biaya-biaya yang tidak termasuk
dalam nilai kontrak. Klaim dapat timbul, umpamanya, dari keterlambatan
yang disebabkan oleh pemberi kerja, kesalahan dalam spesifikasi atau
rancangan, dan perselisihan penyimpangan dalam pengerjaan kontrak.
5.
Retensi adalah jumlah termin (progress billings) yang tidak dibayar hingga
pemenuhan kondisi yang ditentukan dalam kontrak untuk pembayaran
jumlah tersebut atau hingga telah diperbaiki.
6.
Termin (progress billings) adalah jumlah yang ditagih untuk pekerjaan
yang dilakukan dalam suatu kontrak baik yang telah dibayar ataupun yang
belum dibayar oleh pemberi kerja.
7.
Uang muka adalah jumlah yang diterima oleh kontraktor sebelum
pekerjaan dilakukan.
Perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, memperoleh sumber
pendapatan utama dari penyelesaian kontrak kontruksi. Ikatan Akuntan Indonesia
dalam Pernyataan Standar Keuangan (2012, h.34.2) menyebutkan bahwa
pendapatan kontrak terdiri dari :
1.
Nilai pendapatan semula yang disetujui dalam kontrak.
2.
Penyimpangan dalam pekerjaan kontrak, klaim dan pembayaran intensif :
a.
Sepanjang hal ini memungkinkan untuk menghasilkan pendapatan
b.
Dapat diukur secara andal
xlv
Kontrak konstruksi dirumuskan dalam berbagai cara, dalam Pernyataan
ini, digolongkan sebagai kontrak harga tetap dan kontrak biaya - plus. Beberapa
kontrak konstruksi dapat mempunyai baik karakteristik kontrak harga tetap
maupun kontrak biaya-plus, misalnya kontrak biaya-plus dengan nilai maksimum
yang disetujui.
Jika hasil kontrak konstruksi dapat diestimasi secara andal, maka
pendapatan kontrak dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak
konstruksi diakui masing-masing sebagai pendapatan dan beban dengan
memperhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal akhir periode
pelaporan. Menurut metode persentase penyelesaian (percentage of completion),
pendapatan kontrak diakui sebagai pendapatan dalam laporan laba rugi dalam
periode akuntansi di mana pekerjaan dilakukan. Biaya kontrak biasanya diakui
sebagai beban dalam laporan laba rugi dalam periode akuntansi di mana pekerjaan
yang berhubungan dilakukan. Namun, setiap ekspektasi selisih lebih total biaya
kontrak terhadap total pendapatan kontrak segera diakui sebagai beban.
Perusahaan perlu memiliki suatu sistem pelaporan dan anggaran keuangan yang
efektif. Perusahaan menelaah dan bila perlu, merevisi estimasi pendapatan kontrak
dan biaya kontrak sesuai dengan kemajuan kontrak. Kebutuhan revisi tersebut
tidak harus mengindikasikan bahwa hasil kontrak tersebut tidak dapat diestimasi
secara andal. Selama tahap awal suatu kontrak sering terjadi hasil kontrak tidak
dapat diestimasi secara andal. Walaupun demikian, besar kemungkinan bahwa
perusahaan akan memulihkan biaya kontrak yang terjadi. Oleh karena itu,
pendapatan kontrak diakui hanya sepanjang biaya yang terjadi diharapkan dapat
xlvi
dipulihkan. Karena hasil kontrak tidak dapat diestimasi secara andal, tidak ada
laba diakui. Tetapi, walaupun hasil kontrak tidak dapat diestimasi secara andal,
besar kemungkinan total biaya kontrak melebihi total pendapatan kontrak. Dalam
hal ini, setiap selisih lebih total biaya kontrak terhadap total pendapatan kontrak
diakui sebagai beban. Berdasarkan
pernyataan
tersebut dapat diuraiakan
pengertian tentang masing-masing dari pendapatan kontrak dan biaya kontrak
dalam kontrak konstruksi yang tercantum pada PSAK No.34, sebagai berikut :
1.
Pendapatan kontrak
Pendapatan kontrak terdiri dari jumlah pendapatan semula dan
penyimpangan
dalam
pekerjaan
kontrak
seperti
klaim
dan
penyimpangan, sepanjang hal ini memungkinkan untuk menghasilkan
pendapatan dan dapat diukur secara andal. Pendapatan kontrak dapat
diukur pada nilai wajar dari imbalan yang diterima atau akan diterima.
Pengukuran kontrak dipengaruhi oleh beragam ketidakpastian yang
bergantung pada hasil dari peristiwa di masa depan. Estimasi sering kali
perlu untuk direvisi sesuai dengan realisasi dan hilangnya ketidakpastian.
Oleh karena itu, jumlah pendapatan kontrak dapat meningkat atau
menurun dari satu periode ke periode berikutnya. Misalnya :
a.
Suatu kontraktor dan suatu pemberi kerja mungkin menyetujui
penyimpangan atau klaim yang meningkatkan atau menurunkan
pendapatan kontrak pada periode setelah periode di mana kontrak
pertama kali disetujui.
xlvii
b.
Nilai pendapatan yang disetujui dalam kontrak dengan nilai tetap dapat
meningkat karena ketentuan-ketentuan kenaikan biaya.
c.
Nilai pendapatan kontrak dapat menurun karena denda yang timbul akibat
keterlambatan kontraktor dalam penyelesaian kontrak tersebut.
d.
Bila dalam kontrak harga tetap terdapat harga tetap per unit output,
pendapatan kontrak meningkat bila jumlah unit meningkat.
2.
Biaya kontrak
Biaya kontrak meliputi biaya-biaya yang dapat diatribusikan kepada
suatu kontrak untuk jangka waktu sejak tanggal kontrak itu dipero leh
sampai dengan penyelesaian akhir kontrak tersebut. Akan tetapi, biayabiaya yang berhubungan langsung dengan suatu kontrak dan terjadi untuk
memperoleh kontrak juga dimasukkan sebagai bagian dari biaya kontrak
apabila biaya-biaya ini dapat diidentifikasikan secara terpisah dan dapat
diukur secara andal dan besar kemungkinan kontrak tersebut dapat
diperoleh. Jika biaya-biaya yang terjadi untuk memperoleh kontrak
diakui sebagai beban pada periode terjadinya, maka biayabiaya tersebut
tidak dimasukkan dalam biaya kontrak apabila kontrak tersebut dicapai
pada periode berikut. Biaya suatu kontrak konstruksi terdiri dari:
a.
Biaya yang berhubungan langsung dengan kontrak tertentu. Dapat
dikurangi
dengan keuntungan insendental
yang tidak termasuk
pendapatan kontrak mis penjualan sisa bahan
b.
Biaya yang dapat diatribusikan pada aktivitas kontrak secara umum dan
dapat dialokasikan pada kontrak tersebut.
xlviii
c.
Biaya lain yang secara khusus dapat ditagihkan ke pelanggan sesuai isi
kontrak.
2.2
Rerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teori dan penelitian sebelumnya maka kerangka
pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Pendapatan PT. Adhi
Karya (Persero)
Pengakuan pendapatan
PSAK No. 34
Pengakuan pendapatan
perusahaan
Pengakuan Pendapatan
yang Wajar
Gambar 1
Rerangka pemikiran
2.3
Proposisi Penelitian
Dengan diterapkannya pengakuan pendapatan jasa konstruksi yang sesuai
dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.34 tentang
Akuntansi Kontrak Konstruksi perusahaan mampu melaporkan pendapatan jasa
konstruksi pada laporan keuangan secara wajar.
xlix
Download