Naskah Akademik Muliti Keaksaraan.indd

advertisement
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 86 Tahun 2014,
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Dasar.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 42 Tahun 2015
Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Lanjutan.
Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015-2019.
Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian,
Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
UNESCO. 1978. Literacy in Asia: A Continuing Challenge. Report of the UNESCO Regional
Experts Meeting on Literacy in Asia (Bangkok, 22–28 November 1977). Bangkok:
UNESCO Regional Office for Education in Asia and Oceania.
........... 1989. Appeal Training Materials For Literacy Personnel (ALTP). Volume 1. Principles
of Curriculum Design for Literacy Training. Bangkok: Unesco Asia and Pacific
Regional Bureau for Education
........... 2004. The Plurality of Literacy and Its Implication of Policies and Programmes. UNESCO
Education Sector Position Paper. Paris: UNESCO.
........... 2006. LIFE 2006-2015. Vision and Strategy Paper (3rd Edition). Hamburg: Unesco
Institute for Lifelong Learning.
......... 2006. Education for All. Literacy for Life. Paris: the United Nations Educational, Scientific
and Cultural Organization.
.......... 2007. Mother Tongue-Based Literacy Programmes: Case Studies of Best Practice in Asia.
Bangkok: Unesco Asia and Pacific Regional Bureau for Education.
.......... 2008. Improving the Quality of Mother Tongue-based Literacy and Learning Case Studies
from Asia, Africa and South America. Bangkok: UNESCO Asia and Pacific Regional
Bureau for Education.
........... 2009. Mother Tongue-based Literacy Programmes: Case Studies of Good Practice in Asia.
Bangkok: UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for Education.
66
Naskah Akademik
Pendidikan Multikeaksaraan
i
KATA SAMBUTAN
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
D
eklarasi Universal Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa setiap
orang berhak memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas
tanpa memandang usia, jenis kelamin, ras, golongan maupun agama
tertentu. Ternyata masih banyak kelompok masyarakat orang dewasa yang belum
mendapatkan haknya dalam memperoleh pendidikan yang layak, bahkan untuk
bisa membaca, menulis, dan berhitung sekalipun. Melalui jalur pendidikan
nonformal, pemerintah mengembangkan layanan program pendidikan masyarakat
untuk mendorong tumbuhnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Berbagai
inisiatif dan inovasi program dikembangkan secara periodik sehingga dapat
menyumbang investasi pendidikan nasional dalam upaya pemenuhan hak warga
negara terhadap akses pendidikan.
Sebagai upaya memenuhi hak asasi manusia tersebut, melalui program pendidikan
masyarakat, dikembangkan program pendidikan keaksaraan dalam rangka
pemberantasan buta aksara orang dewasa dan sebagai pemberdayaan masyarakat
sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Melalui program pendidikan keaksaraan
ini diharapkan orang dewasa yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung
dapat dibelajarkan dengan efektif dan efisien agar memiliki kemampuan dasar
sehingga dapat hidup layak, bermasyarakat dan berpatisipasi dalam pembangunan.
Program pendidikan keaksaraan dikembangkan dalam beberapa layanan
antara lain pendidikan keaksaraan dasar dan pendidikan keaksaraan lanjutan.
Pendidikan keaksaraan lanjutan terdiri dari pendidikan keaksaraan usaha mandiri
dan pendidikan multikeaksaraan.
ii
Naskah Akademik
Khan, Manas S. Hardas, Yongbin Ma. 2005. A Study of Problem Diculty Evaluation for Semantic
Network Ontology Based Intelligent Courseware Sharing wi, pp.426-429, 2005 IEEE/
WIC/ACM International Conference on Web Intelligence (WI’05).
Knowles, M.S. 1979. The Adult Learner: A Neglected Species. Houston: Gulf Publishing Company.
Knowles, M.S. 1980. The Modern Practice of Adult Education: From Pedagogy To Andragog.
Chicago: Follett Publishing Company.
Knowles, M.S., Holton, E.F. and Swanson, R.A. 2005. The Adult Learner. The Definitive Classic
in Adult Education and Human Resource Development. (6th Edition). New York:
Butterworth-Heinemann.
Koentjaraningrat, 1974. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama.
Kusmiadi, Ade. 2007. Model Pengelolaan Pembelajaran Pasca Keaksaraan melalui Penguatan
Pendidikan Kecakapan Hidup Bagi Upaya Keberdayaan Perempuan Pedesaan (studi
pemeberdayaan perempuan pedesaan di Kampung Cibago Kecamatan Cisalak Kab
Subang) Disertasi Doktor pada Pasca Sarjana UPI Bandung; tidak diterbitkan.
Lerner, Daniel. 1978. Memudarnya Masyarakat Tradisional. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Lind, A. 1996. Free to Speak Up – Overall Evaluation of the National Literacy Programme in
Namibia. Edited by Directorate of Adult Basic Education, Ministry of Basic Education
and Culture. Windhoek, Namibia, Gamsberg: MacMillan.
Mezirow, J. 1996. Contemporary Paradigms of Learning. Adult Education Quarterly, Vol. 46, pp.
158–72.
Rifai, A. 2005. Pendekatan Membangun Masyarakat dalam Percepatan Desa Tuntas Buta Aksara.
Makalah Disajikan Dalam Rangka Sosialisasi Gerakan Percepatan Desa Tuntas Buta
Aksara, Dinas Pendidikan Jawa Tengah. 26-9- 2005.
Sandiford, P. J., Cassel, M. and Sanchez, G. 1995 The Impact of Women’s Literacy on Child
Health and its Interaction with Access to Health Services. Population Studies, Vol.
49, pp. 5–17.
Soedjatmoko. 1983. Dimensi Manusia dalam Pembangunan.Jakarta: Penerbit LP3ES.
Dokumen-dokumen terkait yang dijadikan bahan bacaan
Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006 Tentang Gerakan Nasional Perecepatan Penuntasan Wajib
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Dan Pemberantasan Tuna Aksara.
OECD. 2000. Literacy in the Information Age: Final Report of the International Adult Literacy
Survey. Paris: OECD.
Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Dalam Negeri Dan
Menteri Pendidikan Nasional, No. 17/Men.PP/Dep. II/VII/2005, Nomor: 28A TAHUN
2005, No.: 1/PB/2005 Tentang Percepatan Pemberantasan Buta Aksara Perempuan.
Permendiknas Nomor 35 Tahun 2006 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Gerakan Nasional
Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan
Penuntasan Buta Aksara.
Pendidikan Multikeaksaraan
65
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Alisjahbana, S. Takdir. 1966. Essay of a New Anthropology Values as Integrating Forces in
Personality Society and Culture. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.
Barro, R. 1991. Economic Growth in A Cross Section of Countries. Quarterly Journal of
Economics, No. 106, pp. 407–43.
Bashir, A.H. M. and Darrat, A. F. 1994. Human Capital, Investment and Growth: Some Results
from An Endogenous Growth Model. Journal of Economics and Finance, Vol. 18,
No. 1, pp. 67–80.
Becker, W., Wesselius, F. and Fallon, R. 1976. Adult Basic Education Follow-Up Study 1973–75.
Kenosa, Wis., Gateway Technical Institute.
Catanese-Anthony J.dan C. James C. Snyder. 1989. Perencanaan Kota. Edisi Kedua Jakarta:
Erlangga.
Carron, G., Wriria, K. and Righa, G. 1989. The Functioning and Effects of the Kenya Literacy
Programme. IIEP Research Report No. 76. Paris, International Institute for Educational
Planning.
Chambers, R. 1995. “Poverty and Livelihood: Whose Reality Count?” Dalam: People From
Improverishment to Empowemnet. New York: Uner Kirdar dan Leonard Silk (Eds),
New York: University Press.
Davidoff, P. 1965. Advocacy and Pluralism in Planning. Journal of the American Institute of
Planners.
Dodge, Diane Trister, Judy R. Jablon, and Toni S. Bickart. 1994. Constructing Curriculum for the
Primary Grades. Washington, DC: Teaching Strategies, Inc.
Egbo, B. 2000. Gender, Literacy and Life Chances in Sub-Saharan Africa. Cleveland/Buffalo/
Sydney, Multilingual Matters.
Freire, P. and Macedo, D. 1987. Literacy: Reading the Word and the World. S. Hadley, Mass:
Bergin and Garvey.
Friedmann, J. 1992. Empowerment: The Politics of Alternative Development. Oxford: Blackwell
Publishers.
Hanemann, U. 2005. Literacy in Conflict Situations. Background Paper for EFA Global Monitoring
Report 2006, Hamburg: UNESCO Institute for Education.
Hannum, E. and Buchman, C. 2003. The Consequences of Global Educational Expansion.
Cambridge: American Academy of Arts and Sciences.
Jalal, F. and Sardjunani, N. 2005. Increasing Literacy for a Better and More Promising Indonesia.
Background Paper for EFA Global Monitoring Report 2006. Hamburg: UNESCO
Institute for Education.
Kartawinata, Ade Makmur. 1995. Orang Betawi di Jakarta: Kajian Konsep Ruang Ketahanan
Budaya. Tesis. Bangi: UKM.
64
Naskah Akademik
Dalam upaya meningkatkan dan menjamin pembelajaran pada pendidikan
keaksaraan dapat berjalan dengan baik, maka Direktorat Jenderal Pendidikan
Anak Usia Dini, dan Pendidikan Masyarakat melalui Direktorat Pembinaan
Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan menyiapkan sejurnlah standar dan
perangkat pembelajaran keaksaraan. Standar pembelajaran keaksaraan tersebut
mencakup Naskah Akademik Pendidikan Multikeaksaraan, Standar Kompetensi
Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian sebagai acuan dalam
pelaksanaan kegiatan program keaksaraan. Selain itu, disusun buku bahan ajar
keaksaraan, buku pedoman tutor, dan pedoman penilaian dalam pembelajaran
keaksaraan.
Melalui penyediaan standar pembelajaran tersebut diharapkan pembelajaran
dapat dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan keaksaraan. Untuk itu, kita
sampaikan terima kasih dan sambut dengan baik upaya penyusunan standar dan
perangkat pembelajaran keaksaraan lainnya yang dapat dijadikan sebagai acuan
dalam pembelajaran keaksaraan di lapangan.
Jakarta, Maret 2016
Direktur Jenderal
Harris Iskandar, Ph.D.
NIP 196204291986011001
Pendidikan Multikeaksaraan
iii
KATA PENGANTAR
Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan
P
endidikan Keaksaraan terdiri dari keaksaraan dasar dan keaksaraan
lanjutan. Pendidikan keaksaraan lanjutan merupakan tindak lanjut dari
keaksaraan dasar untuk pemeliharaan keberaksaraan, yang didasarkan pada
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 42 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Lanjutan. Keaksaraan Lanjutan terdiri
dari Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri dan Pendidikan Multikeaksaraan.
Untuk mengimplementasikannya, perlu disusun Naskah Akademik sebagai dasar
untuk menyusun perangkat pembelajaran pendidikan multikeaksaraan.
Pendidikan multikeaksaraan diselenggarakan dalam rangka mengembangkan
kompetensi bagi warga masyarakat pasca-pendidikan keaksaraan dasar. Oleh
karena itu, tujuan pendidikan multikeaksaraan, adalah pendidikan keaksaraan
yang menekankan peningkatan keragaman keberaksaraan dalam segala aspek
kehidupan. Area program yang dapat menjadi kompetensi dari program
pendidikan multikeaksaraan, yang meliputi:
a. pekerjaan, keahlian, dan profesi;
b. pengembangan dalam seni dan budaya;
c. sosial, politik dan kebangsaan;
d. kesehatan dan olah raga;
e. ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. Rekomendasi
1. Untuk menegaskan pelaksanaan pendidikan yang didasarkan pada aspek
filosofis, juridis, dan kebudayaan dalam meningkatkan kesadaran warga
masyarakat guna memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
setara dengan warga masyarakat dunia, dipandang perlu disusun program
pendidikan multikeaksaraan.
2. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu disusun program pendidikan
dan pengembangan kurikulum pendidikan multikeaksaraan yang
menekankan pada peningkatan keragaman keberaksaraan dalam segala
aspek kehidupan, seperti: agama, sosial dan budaya, ekonomi, serta
kesehatan dan lingkungan sebagai upaya pendidikan yang keberlanjutan.
3. Perlu disusun penyelenggaraan program pendidikan multikeaksaraan
yang sejalan dengan kebutuhan belajar dan latar sosial budaya masyarakat
serta relevan dengan tuntutan pembangunan manusia.
4. Untuk keperluan pada butir di atas, perlu disusun hal-hal yang terkait
dengan program pendidikan multikeaksaraan, meliputi: kurikulum
pendidikan multikeaksaraan, panduan pembelajaran dan penyelenggaraan
pendidikan multikeaksaraan, panduan penilaian pendidikan
multikeaksaraan, bahan ajar pendidikan multikeaksaraan, dan petunjuk
teknis pendidikan multikeaksaraan.
Capaian kompetensi tersebut, diwujudkan pada sikap, pengetahuan, dan
keterampilan lulusan. Perwujudan dari sikap ditunjukkan oleh etika yang
mencerminkan sikap orang beriman dan bertanggung jawab menjalankan
peran dan fungsi dalam kemandirian berkarya di masyarakat sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup.
iv
Naskah Akademik
Pendidikan Multikeaksaraan
63
BAB V
PENUTUP
B
ab terakhir ini merupakan penutup dari naskah akademik tentang
pendidikan multikeaksaraan, berisi simpulan dan saran tindak atau
rekomendasi. Simpulan dan saran tindak, sebagai berikut:
A. Simpulan:
1. Pendidikan multikeaksaraan, dalam hubungannya dengan Pembukaan
UUD 1945, yaitu tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, tampaknya
sebagai upaya yang terus-menerus dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan keberaksaraan melalui pendidikan keaksaraan. Untuk itu,
kemampuan yang dapat dijadikan sebagai gerbang atau pintu masuk
menapak kesadaran dalam menempatkan dan memfokuskan warga
masyarakat memiliki pengetahuan yang setara dengan warga masyarakat
dunia.
2. Dalam tataran filosofis kebangsaan, dan dari berbagai perundangan,
peraturan, dan berbagai ketentuan dan kebijakan yang terkait dengan
pendidikan menunjukkan, bahwa pendidikan multikeaksaraan sebagai
upaya mencerdaskan kehidupan warga masyarakat yang tidak kalah
pentingnya dengan upaya lain pembangunan yang diselenggarakan negara
untuk mensejahterakan kehidupan bangsa. Karena itu, penyelengaraan
program pendidikan multikeaksaraan menjadi hal terpenting untuk
membuka kesadaran berbangsa dan bernegara, serta pendidikan yang
berkelanjutan.
3. Pendidikan multikeaksaraan merupakan pendidikan keaksaraan yang
menekankan pada peningkatan keragaman keberaksaraan dalam segala
aspek kehidupan, seperti: agama, sosial dan budaya, ekonomi, serta
kesehatan dan lingkungan.
4. Penyelenggaraan pendidikan keaksaraan semakin mempertegas
peningkatan kemultikeaksaraan warga masyarakat yang dalam
penerapannya perlu mempertimbangkan realitas sosial dan budaya
masyarakat setempat serta lingkungannya.
62
Naskah Akademik
Mengacu pada lima area program pendidikan multikeaksaraan tersebut,
maka perlu ditindaklanjuti penyusunan kurikulum yang meliputi lima tema
multikeaksaraan.
Melalui naskah akademik ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dan dasar
dalam melakukan inovasi dan kreasi dalam pengembangan tema dan subtema
multikeaksaraan sesuai dengan kebutuhan lokalitas masyarakat. Akhirnya, saya
ucapkan selamat memanfatkan naskah akademik ini sebagai upaya meningkatkan
mutu program keaksaraan. Semoga bermanfaat bagi semua pemangku kepentingan
dan praktisi pendidikan keaksaraan di Indonesia.
Jakarta, Maret 2016
Direktur
Dr. Erman
Errma
m n Syamsuddin
NIP 195703041993031015
1 5703041993031
19
Pendidikan Multikeaksaraan
v
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ...................................................................................
KATA PENGANTAR .................................................................................
DAFTAR ISI ...............................................................................................
ii
iv
vi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................
A. Latar Belakang ..........................................................................
B. Landasan dan Filosofis Kebangsaan
dalam Pendidikan Multikeaksaraan ...........................................
C. Tujuan ......................................................................................
D. Ruang Lingkup .........................................................................
1
1
objek dari berbagai proses pembelajaran, tetapi merupakan subjek
pembelajaran itu sendiri. Karena itu, agar pemberdayaan untuk penguatan
kualitas peran dalam masyarakat, diperlukan hal-hal sebagai berikut:
a. menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi peserta
didik berkembang;
b. memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh peserta didik;
c. memberdayakan mengandung pula arti melindungi.
Dengan cara ini lulusan program pendidikan multikeaksaraan bukan hanya
memiliki kemampuan akademik dengan mengikuti program kesetaraan,
tetapi juga dapat meningkatkan kualitas peran dalam masyarakat dan
lingkungan sosial sesuai dengan kompetensi yang menjadi andalannya.
6
8
9
BAB II KONSEP PENDIDIKAN MULTIKEAKSARAAN ...................... 10
BAB III PENDIDIKAN MULTIKEAKSARAAN DALAM MASYARAKAT ..
A. Arah dan Strategi Pendidikan Multikeaksaraan ..........................
B. Pemberdayaan Peserta Didik .....................................................
C. Relevansi Pendidikan Multikeaksaraan .........................................
17
17
22
25
BAB IV PROGRAM PENDIDIKAN MULTIKEAKSARAAN .................
A. Asesmen Kebutuhan Belajar ......................................................
B. Area Program Pendidikan Multikeaksaraan ...............................
C. Manajemen Pelaksanaan ............................................................
D. Monitoring, Pembinaan dan Tindak Lanjut ..............................
29
29
32
35
56
BAB V PENUTUP .....................................................................................
A. Simpulan ...................................................................................
B. Rekomendasi .............................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
62
62
63
64
Gambar 2. Alur Tindak Lanjut Pendidikan Multikeaksaraan dari Program
Pendidikan Keaksaraan Dasar-Lanjutan Ke Kesetaraan dan Penguatan Kualitas
Peran dalam Masyarakat
vi
Naskah Akademik
Pendidikan Multikeaksaraan
61
Pencapaian kompetensi tersebut, jelas menunjukan satu sisi dari
keterampilan yang didasarkan pada hasil pembelajaran multikeaksaraan,
yang dibuktikan dengan secarik kertas berupa SUKMA-L, dan tentunya
lagi dengan keterampilan itu dapat bermanfaat bagi peningkatan
kualitas peran dalam masyarakat sebagai bekal kehidupan diri maupun
lingkungan sosialnya. Namun terlepas dari sisi keterampilan itu, juga
tidak kalah pentingnya sisi yang lain, adalah pengakuan akademik sebagai
hasil pembelajaran pendidikan multikeaksaraan, dapat digunakan untuk
mengikuti program kesetaraan yang dikenal dengan Paket A, B, dan Paket
C tentunya sejalan dengan peraturan yang berlaku.
Capaian pendidikan kesetaraan ini, bermanfaat bagi mereka yang
menginginkan langkah mengikuti aktivitas di luar konteks lingkungan
sosial, tetapi akan mengikuti aktivitas dalam dunia yang lebih luas, dunia
politik misalnya, yang kini amat memerlukan persyaratan akademik
serupa itu. Proses tindak lanjut itu, sebagaimana tergambarkan pada
Gambar 2. “Alur Tindak Lanjut Pendidikan Multikeaksaraan dari Program
Pendidikan Keaksaraan Dasar-Lanjutan ke Kesetaraan dan Penguatan
Kualitas Peran dalam Masyarakat”.
Berdasarkan alur tindak lanjut pendidikan multikeaksaraan itu, secara
ringkas dapat diungkapkan, bahwa dari pencapaian mengikuti program
pendidikan lanjutan yang dalam hal ini pendidikan multikeaksaraan.
Program ini dimaksudkan untuk menindaklanjuti lulusan mengikuti
program Paket A, B, atau C yang tentunya sejalan dengan ketentuan
yang berlaku. Selain melalui program tersebut, juga lulusan dapat
menindaklanjuti pencapaian program pendidikan multikeaksaraan dengan
penguatan kemampuan keberagaman keaksaraan dengan peningkatan
kualitas peran dalam masyarakat.
Program penguatan ini, merupakan penerapan dari kompetensi yang
menjadi pilihannya, ketika mengikuti program pendidikan multikeaksaraan,
misalnya pengembangan dalam seni dan budaya, maka yang bersangkutan
dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tentang
seni atau budaya sebagai bukan hanya untuk kepentingan pelestarian
kebudayaan di lingkungannya, tetapi sekaligus menjadi bekal kehidupan
baik bagi diri dan keluarga maupun masyarakat sekitarnya.
Program penguatan serupa itu, dapat ditempuh melalui cara pendampingan
dan pemberdayaan, karena dengan cara ini peserta didik tidak dijadikan
60
Naskah Akademik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan data tahun 2014 penduduk buta aksara di Indonesia sebanyak
5.984.075 orang atau 3,70% dari populasi penduduk Indonesia. Dari sejumlah
penduduk buta aksara tersebut, sebagian besar berada pada usia produktif
antara 15 hingga 59 tahun yang semestinya menjadi sumber daya manusia
yang bermutu. Untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut perlu
dilakukan bukan hanya pendidikan keaksaraan yang mendidik masyarakat
mampu membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga pendidikan keaksaraan
untuk pengembangan kemampuan individu agar mampu mengatasi persoalan
kehidupan.
Hal itu, sejalan dengan kesepahaman masyarakat dunia tentang peningkatan
keaksaraan yang ditulis dalam Deklarasi Persepolis yang kemudian melahirkan
Hari Keaksaraan Internasional (International Literacy Day). Di dalam
deklarasi tersebut, dikandung makna untuk mendorong setiap negara selalu
menaruh perhatian terhadap peningkatan keaksaraan dan rumusan konsep
buta aksara sebagai sebuah jalan bagi pengembangan sumber daya manusia
yang berkualitas.
Menyimak deklarasi tersebut menunjukkan bahwa membebaskan masyarakat
dari kebutaaksaraan menjadi salah satu tujuan berdirinya suatu negara dan
kehidupan bernegara sebagaimana diisyaratkan dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni mencerdaskan
kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka setiap warga negara
berhak memperoleh pendidikan, sebagaimana tertuang dalam Instruksi
Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan
Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Tuna
Aksara; yang kemudian ditindaklanjuti melalui Permendiknas No. 35 Tahun
2006 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Gerakan Nasional Percepatan
Pendidikan Multikeaksaraan
1
Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Penuntasan
Buta Aksara; termasuk di dalamnya upaya terus menerus peningkatan
keaksaraan yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Tahun 2015-2019. Berbagai kebijakan tentang upaya
peningkatan keaksaraan penduduk terus dilakukan, sehingga saat ini tersisa
3,70 persen penduduk Indonesia masih buta aksara yang tersebar di enam
provinsi terpadat, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Papua, Sulawesi
Selatan, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagaimana tampak pada grafik
di bawah ini.
6 Provinsi Terpadat Buta Aksara
11 Provinsi dengan Capaian di atas 3.70%
Sumber: Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud, 2014
Grafik 1. Provinsi dengan Persentase dan Jumlah Buta Aksara Tertinggi
Tahun 2014
Keberhasilan menurunkan angka buta aksara tersebut merupakan hasil
dari upaya terus menerus bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka, setelah
merdeka, dan hingga saat ini. Disaat bangsa Indonesia belum merdeka, dari
sebagian mereka yang telah mengenyam pendidikan kolonial dari golongan
sosial yang dikenal dengan sebutan pribumi telah menebarkan kemampuan
akademiknya melalui gerakan mengajarkan baca tulis kepada warga masyarakat
lainnya, walaupun capaian jumlahnya masih sedikit.
Setelah Indonesia merdeka, Pemerintah mencanangkan suatu gerakan
Pemberantasan Buta Huruf (PBH). Gerakan ini begitu gencar dan masif.
Gerakan ini dinilai sebagai gerakan memberadabkan bangsa Indonesia,
atau dengan kata lain mereka yang buta huruf dipersepsikan sebagai orang
yang tidak berbudaya. Konon ungkapan itulah yang menjadi slogan gerakan
membebaskan rakyat dari buta huruf saat itu.
2
Naskah Akademik
Dalam pengertian itu, pendidikan multikeaksaraan mempersiapkan
individu untuk meningkatkan kualitas peran dalam kehidupan bagi diri
dan warga masyarakat, sekaligus dapat meningkatkan kualitas masyarakat
sebagai warga negara. Karena itu, pencapaian kualitas multikeaksaraan
seperti itu, perlu tindak lanjut dari program pendidikan multikeaksaraan,
seperti juga tindak lanjut program pendidikan keaksaraan dasar yang
memperoleh Surat Keterangan Melek Aksara (SUKMA), sebagai bukti
telah menyelesaikan program pendidikannya.
Demikian juga halnya peserta didik program pendidikan keaksaraan
lanjutan khususnya dalam pembelajaran pada program pendidikan
multikeaksaraan, setelah dinyatakan selesai, akan memperoleh SUKMA-L.
Selain tentunya, dengan sertifikat serupa itu, bukan hanya sebagai
tanda peningkatan kualitas keaksaraan yang dapat digunakan dalam
program penyetaraan, tetapi juga hasil pembelajaran multikeaksaraan
itu bermanfaat untuk meningkatkan kualitas peran lulusan program
pendidikan multikeaksaraan dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan
area program yang dipilihnya.
Area program yang dapat menjadi kompetensi dari program pendidikan
multikeaksaraan, yang meliputi:
a. pekerjaan, keahlian, dan profesi;
b. pengembangan dalam seni dan budaya;
c. sosial, politik dan kebangsaan;
d. kesehatan dan olah raga;
e. ilmu pengetahuan dan teknologi.
Capaian kompetensi tersebut, diwujudkan pada sikap, pengetahuan, dan
keterampilan lulusan. Perwujudan dari sikap ditunjukkan oleh etika yang
mencerminkan sikap orang beriman dan bertanggung jawab menjalankan
peran dan fungsi dalam kemandirian berkarya di masyarakat sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup. Demikian juga perwujudan dari pengetahuan
memberi arah bagi penguasaan pengetahuan faktual, konseptual, dan
prosedural tentang pengembangan peran dan fungsi dalam kehidupan
di masyarakat dengan memperkuat cara berkomunikasi dalam bahasa
Indonesia dan berhitung untuk meningkatkan kualitas hidup. Di samping
perwujudan dari keterampilan itu, dapat menunjukkan pada kemahiran
menggunakan bahasa Indonesia dan keterampilan berhitung secara efektif
dalam melakukan pengembangan peran dan fungsi untuk kemandirian
berkarya dalam masyarakat serta meningkatkan kualitas hidup.
Pendidikan Multikeaksaraan
59
Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Unit Pelaksana Teknis
Pendidikan Kecamatan, Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Kecamatan
dan Lembaga Penyelengara Pogram Pendidikan Keaksaraan.
2. Pembinaan
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap penyelenggaraan
pendidikan multikeaksaraan. Dalam pelaksanaannya, setiap penyelenggara
pendidikan multikeaksaraan wajib membuat laporan atas hasil kegiatannya
kepada dinas pendidikan setempat.
3. Tindak Lanjut
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada bab-bab sebelumnya tentang
proses pembelajaran pendidikan multikeaksaraan, menunjukkan bahwa
dalam program pendidikan multikeaksaraan tidak hanya sekadar bisa
baca, tulis dan berhitung, tetapi kemampuan keberaksaraan itu bisa
memberikan bekal dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, pencapaian
kompetensi pendidikan multikeaksaraan dalam prakteknya tidak terlepas
dari kebijakan pembangunan pendidikan nasional sebagai suatu usaha yang
bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas,
maju, dan mandiri. Artinya, sejalan dengan Visi 2025 Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, adalah “Menghasilkan Insan Indonesia
Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna)”. Makna insan
Indonesia cerdas, adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yaitu
cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan kinestetik.
Dengan demikian, untuk mewujudkan kebijakan seperti itu, pendidikan
multikeaksaraan tentunya menjadi syarat bagi setiap insan Indonesia
untuk meraihnya. Insan Indonesia yang tidak mengenal batas-batas usia,
tempat, dan waktu, serta pemerintah sendiri menjamin keberpihakan
kepada peserta didik yang memiliki hambatan fisik, mental, ekonomi,
sosial, ataupun geografis untuk mencapai menjadi insan Indonesia yang
cerdas dan kompetitif .
Lantaran itu, melalui pendidikan multikeaksaraan membuka peluang dan
kesempatan seluas-luasnya bagi setiap individu untuk mengenal dunia
sekitarnya. Pengenalan terhadap dunia sekitarnya, dengan memahami
berbagai faktor yang memengaruhi lingkungan tempatnya hidup, sebagai
bekal untuk dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan, dan sekaligus
memperkuat identitas kebudayaannya.
58
Naskah Akademik
Kondisi bebas buta huruf memang telah tercapai saat itu, namun bisa jadi
pengertian bebas buta huruf pada waktu itu semata-mata tolok ukurnya adalah
terbebaskan dari tidak bisa membaca dan menulis menjadi bisa membaca nama
diri dan menuliskannya. Demikian pula, dia dapat melengkapi dokumen atau
daftar hadir di suatu pertemuan resmi dapat membubuhkan tanda tangannya.
Apakah bebas buta huruf atau mengenal keaksaraan itu sebatas capaian
sebagaimana digambarkan di atas itu?, tentu saja tidak sebatas itu, sebab
jika itu capaiannya tentu kemampuan itu akan lenyap dengan sendirinya
dan kembali menjadi buta huruf. Berkenaan dengan hal itu, Soedjatmoko
(1983:72), mengungkapkan “... Jumlah mutlak kaum buta huruf di negara
ini telah mulai bertambah lagi, juga bertambah banyak mereka yang tak
berhasil mengikuti sistem pendidikan maupun mereka yang putus sekolah,
kemudian mendorong kaum muda pergi dari desa-desa ke pusat-pusat
kota besar”. Katanya lagi, karena sistem pendidikan malah mendidik orang
untuk menjauhi jenis pekerjaan yang diperlukan di desa-desa dan mencari
kesempatan-kesempatan kerja yang lebih menarik di kota-kota.
Dalam konteks itu, urbanisasi sepertinya tidak mensyaratkan apakah ia dapat
membaca atau tidak, sebagaimana dikemukakan Daniel Lerner (1978),
puluhan tahun yang lalu mengatakan urbanisasi cenderung mengurangi buta
huruf, sebab dengan berkurangnya buta huruf ini cenderung meningkatkan
keterbukaan terhadap media informasi. Adanya keterbukaan terhadap media
informasi dapat mendorong meningkatkan partisipasi ekonomi yang lebih
luas dan partisipasi politik yang bersandar pada kemampuan olahpikirnya
semakin tegak.
Menilik apa yang dinyatakan Daniel Lerner tersebut, boleh jadi secara fisik
urbanisasi diartikan sebagai proses perpindahan penduduk dari desa ke
kota, yang telah memiliki kemampuan membaca dan menulis termasuk di
dalamnya kemampuan berhitung tentunya. Namun demikian, dapat pula
arti urbanisasi yang disebutkan Daniel Lerner itu juga mengandung makna
migrasinya proses berpikir masyarakat dari cara berpikir irasional ke berpikir
rasional. Itu artinya, menurut Daniel Lerner, suatu masyarakat yang mobil
harus mendorong kerasionalan karena perhitungan pemilihan membentuk
perilaku individu serta dan menentukan imbalannya. Karena itu, masyarakat
lebih melihat masa depan sosial sebagai sesuatu yang dapat dibentuk daripada
sesuatu yang dianugerahkan dan masyarakat lebih melihat prospek pribadi di
dalam arti hasil karya daripada di dalam arti warisan.
Pendidikan Multikeaksaraan
3
Dengan demikian, karya yang dihasilkan itu sebagai akhir dari proses olahpikir,
nalar atau rasio. Itu artinya, rasionalitas dalam konteks itu, adalah bertujuan
membentuk cara berpikir, dan berlaku adalah alat bagi tujuan, bukan alat
kepercayaan (Lerner, 1978:33). Sejalan dengan pemikiran Daniel Lerner itu,
manusia yang berhasil atau gagal diuji oleh apa yang mereka capai, bukan apa
yang mereka puja.
Terkait dengan pemikiran Daniel Lerner tersebut, menunjukkan bahwa
rasionalitas semata-mata hanya dapat diperoleh melalui kemampuan
membaca dan menulis. Sebab, dengan kemampuan membaca dan menulis
yang tinggi dapat mendukung kemampuan menganalisa. Kemampuan
membaca dan menulis dalam pengertian itu, adalah keahlian dasar dari setiap
orang yang bukan hanya dapat mengenal huruf dan menuliskannya, tetapi
juga dengan kemampuannya itu memperoleh lebih dari sekadar pengetahuan
membaca yang sederhana. Bahkan, dengan kemampuan membaca seperti itu,
akan meningkatkan pula kesadaran untuk menuliskan segala suatu sebagai
hasil olahpikirnya. Selain itu, juga dapat mengungkapkan hasil olahpikirnya
itu secara lisan dengan penuh nuansa keluasan pengetahuan sebagai dasar
argumentasinya atas sesuatu hal yang dinyatakannya itu.
Kemampuan mengembangkan membaca dan menulis, yang bukan
hanya sekadar mengenal huruf dan menuliskannya itu, juga diungkapkan
oleh Koentjaraningrat (1974) sebagai ciri sumber daya manusia yang
berkualitas. Menurut Koentjaraningrat, janganlah dilupakan, bahwa untuk
mengembangkan sumber daya manusia berkualitas terlebih dahulu perlu
dibudayakan kebiasaan membaca dan kemampuan menyerap isi bacaan
seefektif dan seefisien mungkin. Kebiasaan membaca dan kemampuan
menyerap isi bacaan serta menuangkannya dalam tulisan merupakan wujud
dari suatu totalitas kelakuan yang lahir dari perkembangan budi manusia yang
selalu tersusun dalam suatu pola atau konfigurasi nilai-nilai (Alisjahbana,
1966). Konfigurasi nilai menurut Sutan Takdir Alisjahbana (STA), timbul
dari aktivitas budi manusia yang terdiri atas: nilai ekspresif, nilai progresif, dan
nilai integratif. Ketiga nilai itu, menurut STA lebih jauh merupakan turunan
dari nilai seni dan agama yang menjadi dasar dari nilai ekspresif. Nilai ilmu
dan ekonomi yang merupakan dasar dari nilai progresif, serta nilai politik dan
solidaritas yang mendasari nilai integratif.
Dari ketiga nilai itu, nilai progresif merupakan daya cipta yang akan
mewujudkan kemampuan berpikir sehingga dapat menumbuhkan kepekaan
4
Naskah Akademik
a. Komponen masukan, mencakup: kurikulum, pendidik dan tenaga
kependidikan, pembiayaan, sarana dan prasarana pembelajaran
b. Komponen proses, mencakup: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan pengawasan.
c. Komponen keluaran, mencakup: jumlah peserta didik yang berhasil,
dan nilai rata-rata ujian.
d. Komponen dampak, mencakup: jumlah lulusan yang bekerja atau
melakukan usaha mandiri atau perannya dalam masyarakat, ratarata penghasilan lulusan setiap bulan, dan partisipasi lulusan dalam
kegiatan di masyarakat.
Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh unit utama di lingkungan
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Dinas
Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Acuan utama
dalam mengukur kesesuaian program yang tercantum dalam kebijakan
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan adalah
Standar Nasional Pendidikan. Apabila dalam pelaksanaan monitoring dan
evaluasi ditemukan masalah atau penyimpangan, maka secara langsung
dapat dilakukan bimbingan, saran-saran dan cara mengatasinya serta
melaporkannya secara berkala kepada Direktorat Pembinaan Pendidikan
Keaksaraan dan Kesetaraan. Karena itu, melalui monitoring dan evaluasi
dapat diketahui berbagai hal yang berkaitan dengan tingkat pencapaian
tujuan atau keberhasilan, ketidakberhasilan, hambatan, tantangan, dan
ancaman tertentu dalam mengelola dan menyelenggarakan program
pendidikan multikeaksaraan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota,
Unit Pelaksana Teknis Pendidikan kecamatan dan lembaga penyelenggara
program pendidikan multikeaksaraan.
Evaluasi kegiatan pembelajaran dilaksanakan oleh lembaga penyelenggara
dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan hasil pembelajaran. Evaluasi
dilakukan secara periodik untuk mengetahui perkembangan kemampuan
peserta didik dalam hal mendengarkan, berbicara, membaca, menulis,
dan berhitung, serta perannya di dalam kehidupan masyarakat. Pada
akhir program, dilakukan evaluasi akhir untuk mengetahui pencapaian
kompetensi peserta didik. Evaluasi pembelajaran merujuk pada acuan
penilaian pendidikan keaksaraan.
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilaksanakan oleh Direktorat
Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Dinas Pendidikan
Pendidikan Multikeaksaraan
57
D. Monitoring, Pembinaan, dan Tindak Lanjut
1. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data dan
informasi serta analisis data yang berlangsung terus menerus untuk
memastikan dan mengendalikan keserasian pelaksanaan program dengan
perencanaan yang telah ditetapkan, serta kualitas program sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. Dalam konteks kebijakan, sistem ini
bertujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian dan kesesuaian antara
rencana program pendidikan keaksaraan lanjutan yang didalamnya
tercakup pendidikan multikeaksaraan sebagai Kebijakan Direktorat
Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Tahun 2015 dan hasil
yang dicapai berdasarkan program yang dilaksanakan melalui program
pendidikan multikeaksaraan bagi lembaga penyelenggara pendidikan
masyarakat dalam rangka mengatasi masalah peningkatan keaksaraan
masyarakat.
Monitoring dan evaluasi dilakukan dalam konteks peningkatan mutu
penyelenggaraan program pendidikan multikeaksaraan yang ditempuh
melalui proses perencanaan dan pelaksanaan program di tingkat pusat
dan daerah. Proses ini sekaligus sebagai upaya pemberdayaan dan
peningkatan kapasitas dan kapabilitas lembaga penyelenggara pendidikan
multikeaksaraan - secara sinergis dan berkesinambungan, sehingga
program pendidikan multikeaksaraan dapat dilaksanakan dengan baik
dalam waktu yang telah ditetapkan.
Monitoring dan evaluasi yang dilakukan, pada hakekatnya, untuk
mengukur kesesuaian pencapaian indikator kinerja atau target kerja yang
ditetapkan dalam penyelenggaraan program pendidikan multikeaksaraan
dengan target yang dapat dicapai melalui strategi tertentu. Monitoring
dan evaluasi dilakukan terhadap kinerja lembaga penyelenggara yang
mencakup aspek teknis, administrasi dan pengelolaan kegiatan dan/atau
program kegiatan. Oleh karena itu, indikator kinerja yang digunakan
memiliki kriteria yang berlaku spesifik, jelas, relevan, dapat dicapai, dapat
dikuantifikasikan, dan dapat diukur secara obyektif serta fleksibel terhadap
perubahan/penyesuaian.
Penyelenggaraan program multikeaksaraan terdapat berbagai aspek yang
perlu dilakukan monitoring dan evaluasi, yaitu masukan, proses, keluaran,
dan dampak. Masing-masing aspek tersebut dijelaskan sebagai berikut:
56
Naskah Akademik
pada invensi dan teknologi. Tentunya, untuk dapat menumbuhkan nilai
progresif seperti itu, melek aksara menjadi syarat utama. Melek aksara yang
bukan sekadar mengenal huruf dan menuliskan susunan huruf-huruf menjadi
rangkaian kata dan kalimat yang tidak bermakna, tetapi lebih jauh dari
sekadar itu, ialah melek aksara sebagai penjelmaan dari aktivitas budi yang
mampu mendakwa keupayaan berpikir untuk menentukan kadar perubahan
(Kartawinata, 1995). Perubahan yang terjadi sebagai pertanda keupayaan dan
tabiat berpikir yang lebih maju.
Dalam pengertian tersebut, juga menandakan adanya perubahan dalam
konfigurasi nilai dan penilaian yang telah tersusun sebelumnya, dari yang lebih
mengutamakan nilai ekspresif kemudian diperkokoh oleh tumbuhnya nilai
progresif atas kemampuannya menyerap keaksaraan, di samping meneguhkan
pula nilai integratif. Itu artinya, perubahan yang disebabkan melek aksara
serupa itu, mampu mendorong invensi sebagai bagian dari daya cipta yang
seimbang dalam tataran nilai baik yang ekspresif, progresif maupun integratif
yang sanggup menggerakkan, memberi arah dan merangsang inspirasi
atas keragaman kehidupan manusia yang terkait dengan kebudayaan dan
transformasi sosial.
Sejalan dengan pemikiran itu, pendidikan keaksaraan bagi pembangunan
sumber daya manusia yang bermutu tidak hanya sekadar mendidik
masyarakat agar mampu membaca, menulis, dan berhitung, namun
pendidikan keaksaraan merupakan pengembangan kemampuan individu
agar mampu mengatasi persoalan kehidupan. Dengan kata lain, pendidikan
keaksaraan diarahkan untuk mengembangkan kemampuan menggunakan
aksara dan angka dalam bentuk bahasa tulis, lisan, dan penguasaan informasi
dan teknologi komunikasi pada tingkat yang diperlukan untuk berfungsi di
tempat kerja, berusaha mandiri, dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam masyarakat modern, kemampuan keaksaraan seperti itu dibutuhkan
untuk menentukan pengambilan keputusan, pengembangan pribadi,
keterlibatan aktif dan pasif baik di tingkat lokal, nasional maupun masyarakat
global. Di samping itu, pendidikan keaksaraan itu juga memiliki berbagai
manfaat terutama dalam rangka penanggulangan masalah lingkungan dan
kemiskinan yang ditentukan oleh perbedaan latar kebudayaan. Demikian
pula pendidikan keaksaraan dapat menjadi wahana untuk mengembangkan
masyarakat demokratis melalui penerapan strategi pembelajaran yang mampu
mengembangkan kesadaran sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Pendidikan Multikeaksaraan
5
Itulah sebabnya, pendidikan keaksaraan hendaknya selalu dikaitkan dengan
arah kebijakan pembangunan nasional dan penyelenggaraannya mengacu
kepada kebutuhan belajar warga masyarakat dan latar budaya setempat.
Dengan demikian, keaksaraan merupakan prasyarat penting bagi setiap warga
negara untuk menjadi individu pembelajar. Kemampuan keaksaraan membuka
kesempatan luas bagi setiap individu mengenal dunia sekitarnya, memahami
berbagai faktor yang memengaruhi lingkungannya, berpartisipasi aktif
dalam pembangunan dan kehidupan demokrasi, serta memperkuat identitas
kebudayaannya. Keaksaraan juga penting bagi tumbuhnya kemampuan
multiaksara yang diperlukan untuk mencari, memperoleh, menguasai, dan
mengelola informasi di abad ini, di mana seseorang secara kritis mampu
membaca sekaligus menilai teks dan konteks secara mandiri dalam nuansa
belajar sepanjang hayat. Kemampuan multiaksara serupa itu, tampaknya
dapat dicapai melalui pendidikan keaksaraan yang menitikberatkan pada
pendidikan multikeaksaraan.
Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan di atas, maka menyelenggarakan
pendidikan multikeaksaraan bagi masyarakat pasca-penyandang buta
aksara sangat penting dan strategis bagi upaya meningkatkan kemampuan
keberaksaraan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
B. Landasan dan Filosofis Kebangsaan dalam Pendidikan Multikeaksaraan
Dengan mencermati latar belakang permasalahan dan pentingnya
penyelengaraan pendidikan keaksaraan yang menitikberatkan pada
pendidikan multikeaksaraan, maka penting untuk menempatkan pendidikan
multikeaksaraan pada filosofi yang lebih mendasar dan menyeluruh. Landasan
tersebut adalah Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia;
sebagai cita-cita moral bangsa, dan merupakan pondasi sekaligus penuntun
kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai amanat Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kesadaran untuk selalu menempatkan kembali pendidikan multikeaksaraan
pada Pancasila sebagai dasar/landasan kehidupan berbangsa dan bernegara
menjadi semakin dirasakan penting apabila mempertimbangkan dua alasan
pokok. Yang pertama adalah kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara
yang sejak era Reformasi semakin tersisihkan dari horison wacana publik dan
semata-mata dipahami sebagai teks-teks yang sekadar “bunyi-bunyian” penuh
6
Naskah Akademik
peserta didik); dan (e) tetapkan bentuk dan cara penyajian laporan hasil
penilaian yang akan digunakan.
Bentuk dan penyajian laporan penilaian dapat menggunakan metode
Deskriptif. Cara ini dipergunakan karena mampu mendeskripsikan tingkat
kompetensi yang dicapai peserta didik, sehingga memudahkan pendidik
maupun peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya. Beberapa
kompetensi multikeaksaraan yang perlu dilaporkan secara deskriptif adalah:
a. Kompetensi membaca, menggambarkan kemampuan membaca yang
dapat diperagakan peserta didik sesuai dengan tingkat kemampuan
yang telah dicapainya.
b. Kompetensi menulis, menggambarkan kemampuan menulis yang
dapat diperagakan peserta didik sesuai dengan tingkat kemampuan
yang telah dicapainya.
c. Kompetensi berhitung, menggambarkan kemampuan menghitung
menggunakan lambang bilangan yang dapat diperagakan peserta didik
sesuai dengan tingkat kemampuan yang telah dicapainya.
d. Kompetensi berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, menggambarkan
kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar yang dapat diperagakan peserta didik sesuai dengan
tingkat kemampuan multikeaksaraan yang telah dicapainya.
Selain itu perlu dilaporkan pula capaian atas kompetensi yang sesuai
dengan kurikulum pendidikan multikeaksaraan, yaitu:
a. Kompetensi inti yang mencakup sikap spiritual, sikap sosial,
pengetahuan, dan keterampilan yang berfungsi sebagai pengintegrasi
muatan pembelajaran pendidikan multikeaksaraan dalam mencapai
kompetensi lulusan.
b. Kompetensi dasar yang mencakup sikap spiritual, sikap sosial,
pengetahuan, dan keterampilan dalam muatan pembelajaran pada
pendidikan multikeaksaraan.
Sertifikasi diberikan kepada peserta didik yang telah memenuhi kompetensi
lulusan pendidikan multikeaksaraan dengan memperoleh sertifikat berupa
Surat Keterangan Melek Aksara Lanjutan (SUKMA-L) yang diterbitkan
oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang ditandatangani oleh Kepala
Bidang yang menangani pendidikan nonformal. Untuk kelengkapan
surat keterangan tersebut, Nomor SUKMA-Lanjutan dikeluarkan oleh
Direktorat yang menangani pendidikan keaksaraan dalam hal ini adalah
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan.
Pendidikan Multikeaksaraan
55
keterampilan, sikap, dan keyakinan. Dodge dan Bickart (1994)
menyatakan bahwa penilaian merupakan proses memperoleh informasi
tentang karakteristik belajar peserta didik yang digunakan untuk membuat
keputusan tentang pendidikannya.
Dalam membuat keputusan tentang nilai yang objektif, pendidik harus
memiliki hasil belajar peserta didik seperti pengetahuan, keterampilan,
dan kemajuan belajar yang diperoleh melalui pengamatan, dokumentasi,
dan review pekerjaan peserta didik secara terus-menerus. Karena itu,
penilaian terdiri atas tahap pengumpulan data tentang perkembangan dan
aktivitas belajar, menentukan kebermaknaan tujuan program, memadukan
informasi ke dalam perencanaan program, dan mengkomunikasikan hasil
penilaian kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Metode dan instrumen penilaian pendidikan multikeaksaraan dapat
berupa observasi, penilaian mandiri oleh peserta didik, tugas praktik,
hasil pekerjaan peserta didik, tes tertulis, dan penilaian portofolio. Dalam
menentukan nilai pada peserta didik, tutor menggunakan skor yang
diperoleh peserta didik kemudian membandingkannya dengan kreteria
yang telah dirumuskan.
Dengan cara ini peserta didik dapat memperoleh keuntungan apabila penilaian
diberikan secara teratur, karena penilaian itu dipandang sebagai kegiatan untuk
meningkatkan mutu pembelajaran dan bukan sebagai penentuan nilai akhir.
Melalui penilaian yang teratur peserta didik akan mengetahui kekuatan dan
kelemahannya dalam mengikuti program pembelajaran, dan pendidik dapat
memberikan saran tentang cara-cara mengembangkan kemampuan peserta
didik.
Penilaian hasil belajar multikeaksaraan yang dilakukan hendaknya lebih
difokuskan pada penilaian berbasis kompetensi. Pengembangan instrumen
untuk mengukur hasil belajar multikeaksaraan dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut: (a) telaah kembali Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) Pendidikan Multikeaksaraan yang meliputi: kompetensi
inti, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar; (b)
tetapkan aspek yang akan diukur (sikap, pengetahuan, dan keterampilan);
(c) pilih teknik dan alat penilaian yang akan digunakan (penilaian tertulis,
penilaian kinerja atau unjuk kerja/perbuatan, atau penilaian hasil karya
54
Naskah Akademik
retorika warisan Orde Baru. Hal ini tidak terjadi begitu saja melainkan suatu
konsekuensi logis yang muncul akibat beberapa kekeliruan pemahaman dan
kesewenangan penyelenggaraan kekuasaan negara di masa lalu yang terlalu
mengekang, sentralistik, dan monolitik. Akibatnya, setelah terbukanya ruang
demokrasi dan kebebasan berpolitik maka secara sporadis terjadilah arus
penyebaran serta pemerataan kekuasaan yang menciptakan multipolaritas
dalam kehidupan sosial politik. Multipolaritas ini, yang memang sebetulnya
baik untuk kehidupan berbangsa, tetapi menciptakan juga kebingungan
tersendiri dalam memahami Pancasila yang karena trauma masa lalu sering
diposisikan secara keliru. Kekeliruan dalam memahami Pancasila sebagai pilar,
bukan sebagai dasar negara adalah suatu bentuk contoh dari kebingungan
pemahaman tersebut.
Yang kedua adalah dengan semakin terbukanya arus informasi dan kemajuan
teknologi informasi yang melanda kehidupan bangsa Indonesia di satu sisi dan
di sisi lainnya, masih dijumpai kehidupan bangsa yang masih dikategorikan
miskin sehingga dalam kehidupannya lebih mengutamakan mencari nafkah
yang amat terbatas daripada meningkatkan kemampuan melek aksara apalagi
menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tentunya, kerentanan melek aksara
akan sangat berpengaruh terhadap mutu sumber daya manusia Indonesia.
Suatu sumber daya manusia yang bermutu, adalah manusia yang tidak
hanya mampu dan tahan hidup dalam masa perubahan, tetapi juga beradab
dan beriman di tengah arus globalisasi dan luberan teknologi informasi
yang mengalir semakin deras di masa depan. Sebagai suatu fenomena yang
mendunia, globalisasi merupakan bentuk proses perkembangan zaman yang
tidak dapat dihindari apalagi ditolak.
Di tengah arus globalisasi ini tuntutan melek aksara yang tidak hanya sekadar
mengenal huruf dan angka, tetapi menggunakan kemampuan membaca dan
menulis untuk kepentingan meningkatkan kualitas kehidupannya. Namun
jika sebaliknya, capaian melek aksara hanya untuk kepentingan teknis birokrasi
agar dapat dinyatakan bebas buta aksara, justru realitas itu dapat menjadi
kendala pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu,
sekaligus juga mengikis akar kebangsaan tempatnya hidup. Kerentanan ini jika
tidak diantisipasi berdampak langsung pada keutuhan bangsa dan ketahanan
Negara Kesatuan Republik Indonesia di dalam menghadapi tantangantantangan zaman. Agar kemampuan melek aksara dapat dijadikan wacana
merespon tantangan-tantangan zaman, tentunya juga menjadi faktor penentu
Pendidikan Multikeaksaraan
7
ketahanan serta keutuhan bangsa di masa depan. Pendidikan keaksaraan
merupakan bentuk upaya dalam mengantisipasi kerentanan masyarakat di
tengah arus globalisasi yang akan mengalir semakin deras.
Dalam konteks inilah, pendidikan keaksaraan senantiasa mengacu kepada
Pancasila sebagai dasar kehidupan bernegara sekaligus sebagai cita-cita moral
yang mengarahkan serta memandu dinamika kehidupan berbangsa. Itu
artinya, peningkatan keaksaraan yang terarah pada Pancasila ini pula yang
membuat bangsa Indonesia memiliki karakternya yang khas sebagai subyek
manusia di dalam pembangunan nasional dan pergaulan internasional. Hal
ini, menjadi semakin penting, bahwa ketahanan suatu bangsa terletak pada
kekuatan sosial yang manusianya terlepas dari buta aksara.
Dalam kaitan ini kiranya tepat jika dikatakan, bahwa pendidikan
multikeaksaraan sebagai subyek mandiri yang merupakan kekuatan sosial
tersendiri yang akan menentukan ketahanan sekaligus efektivitas ideologi
negara dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ideologi
diartikan sebagai seperangkat nilai dan keyakinan yang terarah pada tindakan,
maka Pancasila juga merupakan ideologi negara yang terarah pada tindakan
konkret dan nyata untuk melindungi segenap rakyat Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial. Oleh karena itulah capaian warga negaranya dari melek aksara
akan senantiasa memainkan peran utama sebagai warga negara yang secara
aktif mengajak seluruh masyarakat untuk mengalami kembali keutamaan
Pancasila sebagai dasar negara di tengah arus globalisasi yang mengandung
dampak positif maupun negatif. Tujuannya tidak lain adalah untuk
menguatkan dan merekatkan kembali konsensus dasar didirikannya Negara
Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila sebagai dasarnya. Itu sebabnya,
pendidikan multikeaksaraan bukan hanya dapat mencerdaskan kehidupan
bangsa sejalan dengan Pancasila sebagai ideologi negara, tetapi juga dapat
menjadi jalan terang yang dituntut oleh kaidah-kaidah dasar untuk mencapai
tujuan berbangsa dan bernegara.
C. Tujuan
Secara umum, naskah akademik program pendidikan multikeaksaraan
bertujuan untuk menyediakan acuan bagi semua pihak yang berkepentingan
terkait dalam menyelenggarakan program pengembangan kurikulum
8
Naskah Akademik
terutama bagi pendidik. Orang dewasa yang menyelesaikan pengalaman
belajar dan menyelesaikan tugas belajar dengan perasaan termotivasi
terhadap materi yang telah dipelajari, mereka akan lebih mungkin
menggunakan materi yang telah dipelajari. Dengan demikian dapat
diasumsikan bahwa semakin orang dewasa memiliki pengalaman belajar
yang termotivasi, maka orang dewasa semakin menjadi pembelajar
sepanjang hayat.
Membangkitkan minat belajar. Mengaitkan pembelajaran dengan minat
belajar orang dewasa adalah sangat penting, dan, karena itu, tunjukkanlah
bahwa pengetahuan yang dipelajari itu sangat bermanfaat bagi mereka.
Demikian pula tujuan pembelajaran yang penting adalah membangkitkan
hasrat ingin tahu orang dewasa mengenai pelajaran yang akan datang, dan
karena itu pembelajaran akan mampu meningkatkan motivasi intrinsik
orang dewasa untuk mempelajari materi pembelajaran yang disajikan
oleh pendidik. Dengan demikian, pendidik yang terampil akan mampu
menggunakan cara untuk membangkitkan dan memelihara rasa ingin tahu
orang dewasa di dalam kegiatan pembelajaran. Cara yang dilakukan oleh
pendidik dapat membangkitkan hasrat ingin tahu orang dewasa tentang
apa yang terjadi, dan mengapa peristiwa itu terjadi, dan begitu seterusnya.
8. Penilaian dan Sertifikasi
Penilaian merupakan proses pengumpulan dan analisis data atau informasi
untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan atau nilai tambah dari
kegiatan pendidikan. Untuk mencapai ke arah itu penilaian merupakan
kegiatan yang bersifat sistematis dan kompleks. Sistematis karena
penilaian menggunakan teknik-teknik atau prosedur yang harus diikuti
secara runtut. Kompleks karena penilaian bukan sekadar kegiatan yang
berkaitan dengan perumusan tujuan, perumusan tes, atau analisis data,
melainkan lebih dari itu, yakni mencakup kegiatan pembuatan keputusan
tentang nilai.
Kompleksitas kegiatan itu mengakibatkan seorang pendidik dihadapkan
pada berbagai masalah seperti keterbatasan waktu, biaya, keahlian,
keinginan penyelenggara program multikeaksaraan dan beberapa faktor
lainnya. Di samping itu pendidik juga dihadapkan pada masalah tentang
tanggung jawab, dan kewajiban sebagai seorang pendidik profesional.
Dalam konteks itu, Khan, Hardas, dan Ma (2005) menyatakan,
bahwa penilaian merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan,
Pendidikan Multikeaksaraan
53
Dalam hal ini, biaya investasi, operasional, dan personal pendidikan
multikeaksaraan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah
daerah menjadi tanggung jawab masing-masing sesuai dengan
kewenangannya. Demikian pun, biaya investasi, operasional, dan personal
pendidikan multikeaksaraan yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi
tanggung jawab masyarakat sebagai penyelenggara. Meskupun begitu,
pemerintah atau pemerintahan daerah dapat membantu pembiayaan yang
diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan batas kewenangannya.
7. Motivasi
Pembelajaran orang dewasa yang tepat sasaran harus memenuhi kebutuhan
individu. Pendekatan pembelajaran seperti ini disebut sebagai pendekatan
terpusat pada peserta didik atau pendekatan yang diarahkan oleh peserta
didik. Dalam pendektan ini, orang dewasa termotivasi belajar untuk
memenuhi kebutuhan belajar dan minat dalam kehidupan sehari-hari. Apa
yang ingin dipelajari oleh orang dewasa adalah berkaitan dengan pekerjaan
atau kehidupan sehari-hari sehingga kebutuhan dan minat belajar orang
dewasa merupakan faktor yang sangat penting untuk dijadikan sebagai
pijakan dalam mengelola kegiatan pembelajaran orang dewasa.
Motivasi memegang peran penting dalam mengarahkan kegiatan
belajar orang dewasa. Apabila terdapat dua orang dewasa yang memiliki
kemampuan sama dan memiliki peluang dan kondisi yang sama untuk
mencapai tujuan belajar, orang dewasa yang termotivasi akan memperoleh
hasil belajar lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa yang tidak
termotivasi. Hal ini dapat diketahui dari pengalaman dan pengamatan
sehari-hari. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa apabila orang
dewasa tidak memiliki motivasi belajar, tidak akan terjadi kegiatan belajar
pada diri orang dewasa tersebut. Walaupun begitu, hal itu kadangkadang menjadi masalah karena motivasi bukanlah suatu kondisi. Apabila
motivasi orang dewasa itu rendah, prestasi belajarnya akan rendah.
Motivasi bukan saja penting karena menjadi faktor penyebab belajar,
namun juga memperlancar belajar dan hasil belajar. Secara historik,
pendidik selalu mengetahui kapan orang dewasa perlu dimotivasi selama
proses belajar sehingga aktivitas belajar berlangsung lebih menyenangkan,
arus komunikasi lebih lancar, menurunkan kecemasan orang dewasa,
meningkatkan kreativitas dan aktivitas belajar. Pembelajaran yang diikuti
oleh orang dewasa yang termotivasi akan benar-benar menyenangkan,
52
Naskah Akademik
pendidikan multikeaksaraan yang relevan dengan tuntutan kebutuhan
belajar kelompok sasaran dan latar sosial budaya masyarakat, serta tuntutan
pembangunan manusia itu sendiri. Secara khusus, penyusunan naskah
akademik ini bertujuan untuk menyiapkan pedoman:
1. Penyelenggaraan program pendidikan multikeaksaraan yang sesuai dengan
kebutuhan belajar dan latar sosial budaya masyarakat.
2. Pengelolaan kurikulum pendidikan multikeaksaraan berbasis kebutuhan
belajar kelompok sasaran dan sosial budaya masyarakat.
D. Ruang Lingkup
Naskah akademik ini memuat pandangan, argumen dan konsep-konsep
tentang program pengembangan kurikulum pendidikan multikeaksaraan
yang relevan dengan kebutuhan belajar sasaran program dan latar sosial
budaya masyarakat serta tuntutan pembangunan manusia umumnya. Untuk
itu, ruang lingkup Naskah Akademik ini sebagai berikut: arah dan strategi
pendidikan multikeaksaraan, rancangan program pendidikan multikeaksaraan,
dan kurikulum pendidikan multikeaksaraan.
Pendidikan Multikeaksaraan
9
BAB II
KONSEP PENDIDIKAN
MULTIKEAKSARAAN
K
eaksaraan sebagai konsep memiliki makna yang sangat luas, dinamik dan
selalu berubah, karena pemahaman terhadap keaksaraan dipengaruhi
oleh pengalaman personal, pemikiran, temuan-temuan penelitian,
kebijakan pemerintah, dan nilai-nilai budaya di masyarakat. Dalam komunitas
pendidikan internasional, keaksaraan dipandang sebagai proses perolehan
keterampilan dasar yang bersifat kognitif, menuju pada penggunaan keterampilan
yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan sosial ekonomi,
mengembangkan kecakapan kesadaran sosial dan refleksi kritis sebagai dasar
bagi perubahan personal dan sosial. Hal yang dinyatakan terakhir itulah yang
kemudian dikenal sebagai pendidikan multikeaksaraan yang menekankan pada
peningkatan keragaman keberaksaraan dalam segala aspek kehidupan.
Dalam arti lain, pendidikan keaksaraan yang demikian itu, menekankan interelasi
antara keaksaraan dan pembangunan sehingga memunculkan konsep keaksaraan
yang mengarah pada pendidikan multikeaksaraan. Dalam hal ini, pendidikan
multikeaksaraan tidak semata-mata dipandang sebagai kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung, melainkan juga mempersiapkan individu untuk berperan
dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan sebagai warga negara.
Pemahaman ini sejalan dengan Deklarasi Persepolis yang menyatakan, bahwa
pendidikan keaksaraan tidak hanya proses belajar keterampilan membaca,
menulis, dan berhitung, melainkan juga memberi kontribusi pada pembebasan
dan pembangunan kemanusiaan. Itu artinya, dalam melaksanakan pendidikan
keaksaraan harus mampu mengembangkan masyarakat untuk memeroleh
kesadaran kritis terhadap kondisi kontradiktif yang mereka hadapi. Keaksaraan
juga harus mampu merangsang inisiatif dan partisipasi masyarakat dalam
menciptakan kegiatan untuk mengubah dan mengelola lingkungannya dan
membangun kemanusiaan. Karena itu, keaksaraan harus mampu membuka jalan
bagi semua orang untuk menguasai teknik dan hubungan antarmanusia.
10
Naskah Akademik
kemampuan keberaksaraannya. Selain itu, penyelenggara baik tenaga
kependidikan maupun pendidik perlu menyediakan prasarana untuk
terselenggaranya pembelajaran multikeaksaraan, meluputi: ruang belajar,
atau tempat praktek keterampilamn yang tentunya pula sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran multikeaksaraan, dan jika memungkinkan perlu
juga disediakan ruang administrasi. Kesemuannya itu, dimaksudkan
untuk mengatur dan mengelola secara kreatif, dan inovatif segala aktivitas
yang terkait dengan pendidikan multikeaksaraan.
Tentunya, ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran itu, yang
mampu mendukung suasana pembelajaran yang efektif, adalah sarana dan
prasarana belajar yang mampu menimbulkan suasana menyenangkan.
Para pakar psikologi, menyatakan bahwa, lingkungan belajar dapat
memengaruhi aktivitas belajar orang dewasa. Karena lingkungan seperti itu,
dapat meningkatkan hubungan inter-personal yang berkualitas sehingga
memengaruhi aktivitas belajar peserta didik yang terlibat di dalamnya.
Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan
belajar, adalah bahwa aktivitas belajar yang efektif memerlukan adanya
kekayaan sumber daya dan kemudahan dalam memperoleh sumber daya
tersebut, baik sumber daya manusia maupun materi.
Syarat minimal sarana dan prasarana belajar yang harus dipenuhi adalah
buku-buku, poster, dan buku panduan. Sebelum kegiatan belajar dimulai,
lingkungan fisik hendaknya ditata sehingga tampak menyenangkan.
Misalnya saja, meja dan kursi disusun dalam bentuk tapal kuda, lingkaran
kecil, setengah lingkaran, dan sejenisnya. Apabila letak papan tulis kurang
tepat penempatannya, akan lebih baik ditata terlebih dahulu. Demikian
pula apabila udara terasa pengap atau panas, perlu diperhatikan ventilasi
udara agar peserta didik merasa senang. Di samping itu, perlu diperhatikan
pula sarana belajar lainnya diatur penempatannya agar tidak mengganggu
peserta didik ketika sedang mengikuti proses pembelajaran.
6. Pembiayaan
Untuk melangsungkan aktivitas penyelenggaraan pendidikan
multikeaksaraan, selain tersediannya sarana dan program pembelajaran,
juga tidak kalah pentingnya adalah pembiayaan pendidikan. Pembiayaan
pendidikan multikeaksaraan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan
biaya personal. Masing-masing pembiayaan itu, dalam pelaksanaannya
menjadi tanggung jawab dari setiap penyelenggara.
Pendidikan Multikeaksaraan
51
dan lingkungannya ini, peserta didik dapat memperoleh manfaat karena
melibatkan diri dalam perencanaan, analisis, dan menerapkan kegiatan
belajarnya dan dengan cara ini mereka akan menjadi perserta didik yang
mandiri.
Peran pendidik dalam metode pembelajaran ini, adalah melibatkan diri
dalam proses inkuiri, analisis, dan pembuatan keputusan dengan peserta
didik dan bukan sebagai transmiter pengetahuan kepada peserta didik,
kemudian mengujinya untuk mengetahui daya serap peserta didik. Sejalan
dengan bertambahnya usia dan pengalaman, akan terjadi perbedaan
karakteristik orang dewasa sehingga metode pembelajaran dalam program
pendidikan multikeaksaraan perlu memberikan peluang perbedaan gaya,
waktu, tempat, dan langkah-langkah peserta didik untuk mengikuti
pembelajaran multikeaksaraan.
Apa yang ingin dicapai oleh peserta didik dalam mengikuti program
pendidikan multi keaksaraan, adalah faktor yang sangat penting dalam
mengelola program pembelajaran. Pada mulanya, peserta didik tidak
memiliki kepercayaan diri dalam mengikuti program pembelajaran.
Namun demikian, makin besarnya peluang untuk berpartisipasi aktif dalam
pembelajaran, mereka makin mengetahui makna keikutsertaannya dalam
pembelajaran multikeaksaraan dan meningkatkan kepercayaan diri dalam
proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan berbagai persoalan
yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan cara ini, metode pembelajaran
pendidikan multikeaksaraan, adalah mengarahkan peserta didik untuk
mengambil kendali belajarnya sendiri dan melibatkan diri dalam layanan
pendidikan multikeaksaraan. Selain tentunya, melalui metode pembelajaran
yang dilangsungkan secara tatap muka, tutorial, dan pendampingan.
5. Sarana dan Prasarana
Sarana belajar disesuaikan dengan suasana, tempat, media, dan
konteks pembelajaran orang dewasa. Sarana belajar disesuaikan
dengan kemampuan pendidik atau fasilitator dalam menyediakan
sarana pembelajaran seperti tersedianya perangkat, peralatan, media
pembelajaran, dan sumber belajar lainnya. Pemilihan jenis dan
kelengkapan sarana serta penentuan jumlah sarana belajar disesuai
dengan karakteristik pembelajaran multikeaksaraan. Dalam penyediaan
sarana pembelajaran multikeaksaraan fleksibel, yang terpenting adalah
dapat menyenangkan dan memotivasi peserta didik dalam meningkatkan
50
Naskah Akademik
Dalam proses pendidikan keaksaraan seperti itu, Freire dan Macedo (1987),
menekankan pentingnya membawa realitas sosial budaya peserta didik dalam
proses belajar, kemudian menggunakan proses pembelajaran sebagai proses sosial.
Inti pendidikannya adalah pengembangan pengetahuan kritis, dan tujuan ini
dapat dicapai melalui kegiatan: (1) membaca, yakni menafsirkan, merenungkan,
menginterogasi, berteori, menyelidiki, mengeksplorasi, serta mempertanyakan,
dan (2) menulis, yakni berdialog dan bertindak secara transformatif terhadap
lingkungan sosial. Konsep keaksaraan Freire ini digunakan sebagai pendekatan
pedagogis untuk mendukung peserta didik yang tertindas dan terlupakan atau
kurang beruntung karena masalah gender, etnis, atau status sosial-ekonomi.
Dalam pemahaman itu, pendidikan keaksaraan lebih dari capaian sekadar
kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi membedakan antara
keaksaraan sebagai keterampilan dan keaksaraan sebagai praktik budaya dan
sosial. Capaian pendidikan keaksaraan serupa ini yang kemudian dikenal sebagai
kebutuhan belajar esensial - sebagai kontinum pendidikan nonformal dan
pendidikan formal, serta memperluas sasarannya kepada semua orang dan usia
(UNESCO, 2004). Hal itu, tampak sejalan dengan keinginan besar pemerintah
untuk mengembangkan pendidikan multikeaksaraan sebagai kelanjutan dari
pendidikan keaksaraan dasar.
Pendidikan multikeaksaran yang dikenal dengan pasca-keaksaraan (post literacy)
dapat dipandang sebagai konsep, proses dan program (Kusmiadi, 2007). Sebagai
konsep, pendidikan pasca-keaksaraan merupakan bagian dari pendidikan
sepanjang hayat, pendidikan orang dewasa dan pendidikan berkelanjutan.
Tentunya, pendidikan multikeaksaraan sebagai bagian dari pendidikan
berkelanjutan, program pendidikan multikeaksaraan berupaya memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan
potensi belajarnya setelah mengikuti program keaksaraan dasar. Di sisi lain, konsep
pendidikan multikeaksaraan ini selain memberikan keterampilan keaksaraan,
juga secara langsung maupun tidak langsung berusaha mentransformasi peserta
didik menjadi “manusia seutuhnya” yang terdidik, sehingga menjadi aset yang
secara sosio-ekonomi produktif bagi masyarakatnya dan mampu berpartisipasi
aktif dan produktif dalam proses pembangunan bangsanya.
Demikian pula pendidikan multikeaksaraan sebagai program merupakan
kegiatan yang secara khusus dikembangkan untuk mereka yang baru melek
aksara dan dirancang untuk membantunya menjadi melek aksara fungsional serta
menjadi peserta didik yang otonom. Dengan mengingat program pendidikan
Pendidikan Multikeaksaraan
11
multikeaksaraan mencakup semua kesempatan belajar bagi semua orang di
luar pendidikan keaksaraan dan pendidikan dasar, maka program pendidikan
multikeaksaraan (lanjutan) ini merupakan: (a) pendidikan berkelanjutan untuk
orang dewasa; (b) merespon kebutuhan dan keinginan; serta (c) mencakup
pengalaman yang diberikan sub-sistem pendidikan formal, nonformal dan
informal.
Begitu pun pendidikan multikeaksaraan sebagai program berfungsi: (a)
memadukan keterampilan keaksaraan dasar; (b) memungkinkan berlangsungnya
pendidikan sepanjang hayat; (c) meningkatkan pemahaman masyarakat
dan komunitas; (d) menyebarkan teknologi dan ketrampilan vokasional; (e)
memotivasi, mengilhami dan meneguhkan harapan menuju kualitas kehidupan;
dan (f ) menumbuhkembangkan kebahagiaan kehidupan keluarga melalui
pendidikan (Unesco dalam Ade Kusmiadi, 2007). Sedangkan maksud keaksaraan
lanjutan, seperti yang dikemukakan oleh Sakya (dalam UNESCO, 1989), adalah
untuk: (a) meneguhkan keterampilan keaksaraan; (b) mengajarkan keterampilan
ekonomi; (c) mendapatkan akses pada informasi baru untuk memperbaiki
kualitas hidup; (d) menumbuhkan kesadaran kritis tentang peristiwa mutakhir
di lingkungan sekitarnya; (e) membantu mengembangkan sikap rasional dan
ilmiah; (f ) mengorientasikan pada nilai-nilai dan sikap baru yang dibutuhkan
dalam pembangunan; dan (g) untuk hiburan dan kegembiraan.
Pencapaian pendidikan multikeaksaraan seperti itu, berkaitan dengan “Menuju
Tahun 2030: Visi Baru untuk Pendidikan”, yang dicetuskan oleh World Education
Forum (WEF) yang diselenggarakan di Incheon Korea Selatan, Mei 2015, telah
dibangun kesepakatan yang diberi nama “Incheon Declaration” atau “Deklarasi
Incheon”. Peserta berkomitmen terhadap agenda pendidikan yang holistik,
bercita-cita luhur dan aspiratif, tanpa meninggalkan satu orang pun di belakang.
Visi baru tersebut sepenuhnya diterjemahkan dalam Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDG) 4: “Memastikan pendidikan inklusif, adil dan bermutu, dan
mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua” dan target
lainnya yang sesuai. Target ini bersifat transformatif dan universal, hadir untuk
“urusan yang belum selesai” dari agenda PUS dan MDGs bidang pendidikan, dan
menjawab tantangan pendidikan global dan nasional. Target ini juga terinspirasi
oleh visi humanistik pendidikan dan pembangunan berbasis hak asasi manusia,
harkat dan martabat, keadilan sosial, perlindungan, keragaman budaya, dan
tanggung jawab bersama dan akuntabilitas. Komitmennya menegaskan kembali,
bahwa pendidikan merupakan barang publik, hak asasi manusia paling mendasar
12
Naskah Akademik
kependidikan di dalam mengembangkan perasaan positif orang dewasa
terhadap pembelajaran adalah: (a) membantu orang dewasa menggunakan
pengalamannya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan
teknik seperti diskusi, permainan peran, studi kasus, dan sejenisnya; (b)
menyampaikan isi pembelajaran berdasarkan sumber-sumber belajar
yang sesuai dengan tingkat pengalaman orang dewasa; dan (c) membantu
menerapkan hasil belajar ke dalam dunia nyata (transfer of learning). Hal
ini akan membuat belajar lebih bermakna dan terpadu.
Prinsip berikutnya terkait dengan bebas dari ancaman. Kegiatan belajar
bagi orang dewasa lebih mudah dan lebih bermakna apabila terjadi di
dalam suasana bebas dari ancaman. Ancaman yang dimaksud dapat
berasal dari berbagai sumber antara lain perilaku pendidik, evaluasi,
kenaikan kelas, dan kelulusan. Tugas pendidik dan tenaga kependidikan
dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah: (a)
menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan, seperti tempat duduk,
yang kondusif untuk terciptanya interaksi antar peserta didik; (b)
memandang setiap orang dewasa merupakan pribadi yang bermanfaat,
dan menghormati perasaan dan gagasan-gagasannya; dan (c) membangun
hubungan saling membantu antarorang dewasa dengan mengembangkan
kegiatan yang bersifat kooperatif dan mencegah adanya persaingan dan
saling memberikan penilaian.
Berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa itu, menunjukkan
bahwa hal itu termasuk pula sebagai staregi pembelajaran fungsional
yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari peserta didik, selain juga
memperlihatkan strategi pembelajaran praktis tik yang dapat digunakan
sebagai sarana berlatih bagi peserta didik untuk mendengarkan, berbicara,
membaca, menulis, dan berhitung untuk mengomunikasikan teks lisan
dan tulis dengan menggunakan aksara dan angka dalam bahasa Indonesia.
Semua itu untuk meningkatkan kualitas keberaksaraan yang bermanfaat
bagi mengembangkan peran dalam kehidupan bermasyarakat.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menumbuhkan keaksaraan
orang dewasa adalah pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Dalam
arti, metode pembelajaran yang menghormati pengetahuan dan pengalaman
yang dimiliki oleh peserta didik sebagai orang dewasa merupakan metode
pembelajaran yang sangat bermanfaat dalam pembelajaran keaksaraan.
Melalui metode pembelajaran yang memerhitungkan realitas peserta didik
Pendidikan Multikeaksaraan
49
Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan prinsip pertama dalam
pembelajaran orang dewasa, adalah bahwa orang dewasa memutuskan
apa yang akan mereka pelajari. Orang dewasa ingin belajar jika kegiatan
belajar yang akan diikuti memenuhi kebutuhan, keinginan, minat
ataupun fantasinya. Tugas fasilitator dalam hal ini pendidik dan tenaga
kependidikan mengarahkan orang dewasa menjadi orang dewasa yang
dapat: (a) mendorong orang dewasa untuk memenuhi kompetensi
baru; (b) membantu memperjelas aspirasinya guna meningkatkan
kompetensinya; (c) membantu mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi
dengan kinerjanya sekarang; (d) membantu mengidentifikasi masalahmasalah kehidupan yang mereka alami; dan (e) melibatkan orang dewasa
dalam proses merumuskan tujuan belajar dengan mempertimbangkan
kebutuhan orang dewasa yang telah didiagnosis.
Selanjutnya, adalah belajar mengetahui cara-cara belajar sebagaimana
menjadi prinsip kedua, yaitu pembelajaran akan lebih bermakna apabila
mampu menumbuhkan keinginan dan hasrat belajar berkesinambungan
dan mengetahui tentang cara-cara belajar. Tugas pendidik dan tenaga
kependidikan dalam hal ini, membantu orang dewasa mengetahui caracara belajar dengan: (a) memotivasi orang dewasa mempelajari tugas-tugas
belajar yang telah dirancang bersama; dan (b) membantu merancang
pengalaman belajar, memilih bahan belajar, dan metode belajar, dan
melibatkan orang dewasa dalam pembuatan keputusan bersama.
Prinsip selanjutnya dalam pembelajaran orang dewasa adalah belajar
mengevaluasi diri. Evaluasi diri merupakan prasyarat bagi perkembangan
otonomi orang dewasa. Evaluasi yang berkaitan dengan kenaikan kelas,
kelulusan dan sejenisnya diyakini oleh orang dewasa akan menggangu
kegiatan belajarnya. Karena itu, tugas pendidik dan tenaga kependidikan
di dalam kegiatan evaluasi diri pada orang dewasa adalah: (a) melibatkan
orang dewasa dalam mengembangkan kriteria kinerja, dan metode
dalam mengukur kemajuan tujuan belajarnya; dan (b) membantu
mengembangkan dan menerapkan prosedur evaluasi kemajuan belajar.
Begitu pun prinsip yang terkait dengan perasaan. Pendidik orang
dewasa hendaknya memiliki anggapan tidak adanya perbedaan penting
antara aspek kognitif dan afektif dalam pembelajaran. Perilaku pendidik
hendaknya menunjukkan rasa kasih sayang, persaudaraan, menghormati,
menghargai, dan mendukung orang dewasa. Tugas pendidik dan tenaga
48
Naskah Akademik
dan pondasi jaminan perwujudan hak-hak lainnya. Pendidikan penting untuk
perdamaian, pemenuhan hak asasi manusia dan pembangunan berkelanjutan.
Ada 20 butir kesepakatan penting dari Deklararasi Incheon, yang salah satunya
adalah berkomitmen untuk melaksanakan Kerangka Aksi Pendidikan 2030, untuk
menginspirasi dan membimbing negara dan mitra untuk memastikan agenda
dapat tercapai. Deklarasi tersebut memfokuskan upaya pada akses, keadilan dan
inklusi, mutu dan hasil pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran sepanjang
hayat” (butir no 6). Tentu saja butir-butir deklarasi tersebut patut diapresiasi.
Satu butir deklarasi ini saja nilai yang terkandung di dalamnya sangat tinggi.
Seluruh peserta yang hadir menyampaikan perlunya “pendidikan sepanjang hayat
yang bermutu, inklusif dan adil”.
Pendidikan multikeaksaraan sebagaimana keinginan besar pemerintah untuk
menuntaskan keberaksaraan masyarakat, adalah layanan pendidikan keaksaraan
yang menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik yang telah selesai
melaksanakan pendidikan keaksaraan dasar. Pendidikan multikeaksaraan
diselenggarakan dalam rangka mengembangkan kompetensi bagi warga
masyarakat pasca-pendidikan keaksaraan dasar. Oleh karena itu, tujuan
pendidikan multikeaksaraan, adalah pendidikan keaksaraan yang menekankan
peningkatan keragaman keberaksaraan dalam segala aspek kehidupan.
Sehubungan itu, kompetensi lulusan pendidikan multikeaksaraan harus
memiliki kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup tiga ranah hasil belajar,
yang meliputi: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Itu artinya, kualifikasi
kemampuan pada dimensi:
1. Sikap, berupa dimilikinya perilaku dan etika yang mencerminkan sikap
orang beriman dan bertanggung jawab menjalankan peran dan fungsi
dalam kemandirian berkarya di masyarakat untuk meningkatkan kualitas
hidup. Kompetensi dasar pendidikan multikeaksaraan pada dimensi sikap
mencakup:
a. Meningkatkan rasa syukur dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas potensi diri yang dimiliki;
b. Menunjukkan sikap jujur sebagai dasar dalam membangun hubungan
social;
c. Menunjukkan komitmen untuk membangun kebersamaan dalam
mengembangkan peran dan fungsi kehidupan di masyarakat.
2. Pengetahuan, berupa penguasaan pengetahuan faktual, konseptual, dan
prosedural tentang pengembangan peran dan fungsi dalam kehidupan
Pendidikan Multikeaksaraan
13
di masyarakat dengan memperkuat cara berkomunikasi dalam bahasa
Indonesia dan berhitung untuk meningkatkan kualitas hidup. Kompetensi
dasar pendidikan multikeaksaraan pada dimensi pengetahuan mencakup:
a. Menggali informasi dari teks penjelasan tentang wawasan keilmuan
dan teknologi, kesehatan dan olah raga, seni, budaya, politik dan
kebangsaan sesuai dengan yang diminati, minimal dalam 7 (tujuh)
kalimat sederhana;
b. Menggali informasi dari teks penjelasan tentang pekerjaan, profesi,
atau kemahiran yang dimiliki dan diminati minimal dalam 7 (tujuh)
kalimat sederhana;
c. Menggali informasi dari teks khusus yang berbentuk brosur atau leaflet
sederhana tentang keilmuan dan teknologi, kesehatan dan olah raga,
seni, budaya, politik dan kebangsaan tertentu yang diminati berkaitan
dengan pekerjaan atau profesinta;
d. Mengenal penggunaan operasi bilangan tentang produk teknologi,
kesehatan dan olah raga, seni, budaya, jasa, dan uang yang disesuaikan
dengan kebutuhan;
e. Menggunakan konsep pecahan sederhana dalam melakukan
penjumlahan dan pengurangan pada kehidupan sehari-hari;
f. Menggali informasi dari teks tabel atau diagram sederhana yang
berkaitan dengan kajian keilmuan dan teknologi, kesehatan dan olah
raga, seni, budaya, politik dan kebangsaan serta keterampilan tertentu
yang diminati;
g. Mengidentifikasi pengetahuan keruangan (geometri) sederhana yang
diterapkan dalam kajian keilmuan dan teknologi, kesehatan dan olah
raga, seni, budaya, politik dan kebangsaan tertentu yang diminati dan
digunakan dalam kehidupan sehari-hari;
h. Menggali informasi dari teks petunjuk atau arahan yang berkaitan
dengan pekerjaan, profesi, atau kemahiran yang dimiliki dan diminati
minimal dalam 7 (tujuh) kalimat sederhana;
i. Menggali informasi dari teks narasi yang berkaitan dengan pekerjaan,
profesi, atau kemahiran yang dimiliki dan diminati minimal 7 (tujuh)
kalimat sederhana;
j. Menggali informasi dari teks laporan yang berkaitan dengan pekerjaan,
profesi, atau kemahiran yang diumiliki dan diminati minimal 7 (tujuh)
kalimat sederhana.
14
Naskah Akademik
dewasa telah memiliki pola berpikir dan kebiasaan yang pasti dan karena
itu mereka cenderung kurang terbuka.
Kesiapan belajar. Sebagai akibat dari peranan sosial yang dilakukan, orang
dewasa memiliki masa kesiapan untuk belajar. Havighurts mengidentifikasi
tiga masa kedewasaan dan sepuluh peran sosialnya (Knowles, 1980).
Ketiga masa kedewasaan itu adalah: (a) dewasa awal berlangsung antara
usia 18-30 tahun, (b) dewasa pertengahan berlangsung antara usia 3055; dan (c) dewasa akhir berlangsung pada usia 55 tahun atau lebih.
Sementara itu kesepuluh peranan sosial yang dilakukan oleh orang dewasa
yaitu sebagai pekerja, kawan, orang tua, kepala rumah tangga, anak dari
orang tua yang telah berumur, warga negara, anggota organisasi, kawan
sekerja, anggota keagamaan, dan pemakai waktu luang. Peranan sosial itu
akan selalu berubah sejalan dengan perubahan ketiga masa kedewasaan
tersebut, sehingga mengakibatkan pula perubahan dalam kesiapan belajar.
Orientasi belajar. Orang dewasa cenderung memiliki perspektif untuk
secepatnya menerapkan apa yang telah dipelajari. Mereka terlibat dalam
kegiatan belajar adalah karena adanya respon terhadap apa yang dirasakan
dalam kehidupannya sekarang. Oleh karena itu pendidikan bagi orang
dewasa dipandang sebagai proses peningkatan kemampuan untuk
memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi.
Sejalan dengan konteks itu, untuk melangsungkan program pendidikan
multikeaksaraan pada pembelajaran orang dewasa, pemikiran Knowles,
Holton dan Swanson (2005) tentang lima prinsip pembelajaran orang
dewasa perlu dipahami oleh pendidik program pendidikan multikeaksaraan.
Pertama, orang dewasa mempelajari sesuatu karena adanya kebutuhan atau
masalah yang harus dipecahkan. Kedua, orang dewasa mempelajari caracara memperoleh pengetahuan (learning to learn), adalah lebih penting
dibandingkan dengan perolehan pengetahuan. Ketiga, evaluasi diri (selfevaluation) merupakan tindakan paling bermakna bagi kegiatan belajar.
Keempat, perasaan adalah penting dalam proses belajar, dan belajar tentang
cara-cara merasakan sesuatu (learning to feel), adalah penting sebagaimana
belajar tentang cara-cara memikirkan sesuatu (learning to think). Kelima,
belajar akan terjadi apabila orang dewasa berada di dalam suasana saling
menghormati, menghargai, dan mendukung.
Pendidikan Multikeaksaraan
47
Konsep diri. Perkembangan kedewasaan merupakan aspek normal
menuju proses kematangan, dan proses ini bergerak dari ketergantungan
pada orang lain menuju pada kemandirian. Namun demikian setiap
perkembangan individu memiliki ritme dan irama yang berbeda-beda.
Orang dewasa memandang dirinya mampu mengatur dirinya sendiri.
Oleh karena itu orang dewasa memerlukan perlakuan yang sifatnya
menghargai, terutama dalam bidang pengambilan keputusan. Mereka
akan menolak apabila diperlakukan seperti anak-anak, misalnya diberi
ceramah tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Begitu pula
orang dewasa akan menolak situasi belajar yang kondisinya bertentangan
dengan konsep diri sebagai individu yang mandiri. Di pihak lain apabila
orang dewasa dibawa ke dalam situasi belajar yang memperlakukan mereka
dengan penuh penghargaan, mereka akan melakukan proses belajar
dengan penuh pelibatan diri secara mendalam. Dalam situasi seperti ini
orang dewasa telah memiliki kemauan sendiri untuk belajar. Pendidik
pendidikan orang dewasa hendaknya memperhatikan konsep diri orang
dewasa dan membina kematangan orang dewasa secara optimal sehingga
mereka mampu belajar mandiri.
Peranan pengalaman belajar.
Semakin lama orang dewasa itu hidup, semakin menumpuk
pula pengalaman yang dimiliki dan semakin berbeda pula pengalamannya
dengan orang lain. Pengalaman yang dimiliki oleh orang dewasa adalah
berbeda dengan yang dimiliki oleh anak-anak. Pengalaman yang dimiliki
oleh anak-anak adalah sesuatu yang terjadi pada dirinya. Artinya,
pengalaman itu merupakan suatu stimulus yang berasal dari luar dan
mempengaruhi dirinya - bukan merupakan bagian terpadu dari dirinya.
Sementara itu pengalaman orang dewasa adalah dirinya sendiri. Orang
dewasa merumuskan dan menciptakan identitas dirinya atas dasar
seperangkat pengalaman yang dimiliki secara unik. Perbedaan pengalaman
yang dimiliki oleh anak-anak dan orang dewasa itu memiliki konsekuensi
dalam belajar. Pertama, sebagai akibat dari pengalaman diri sebagai
sumber belajar, orang dewasa memiliki kesempatan lebih banyak untuk
memberikan kontribusi di dalam proses belajar. Kedua, orang dewasa
memiliki pengalaman yang lebih kaya yang berkaitan dengan pengalaman
baru, sehingga dalam mempelajari sesuatu baru mereka cenderung
mengambil makna dari pengalaman yang telah dimiliki. Ketiga, orang
46
Naskah Akademik
3. Keterampilan, berupa kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dan
keterampilan berhitung secara efektif dalam melakukan pengembangan
peran dan fungsi untuk kemandirian berkarya di masyarakat serta
meningkatkan kualitas hidup. Pencapaian kompetensi dasar pendidikan
multikeaksaraan pada dimensi keterampilan mencakup:
a. Mengolah informasi dari teks penjelasan tentang pekerjaan, profesi,
atau kemahiran yang dimiliki dan diminati dalam bahasa Indonesia
minimal 5 (lima) kalimat sederhana secara lisan dan tertulis;
b. Mengolah teks penjelasan tentang wawasan keilmuan dan teknologi,
kesehatan dan olah raga, seni, budaya, politik dan kebangsaan serta
keterampilan tertentu dalam bahasa Indonesia minimal 5 (lima)
kalimat sederhana secara tertulis;
c. Mengolah teks khusus yang berbentuk brosur atau leaflet sederhana
tentang ilmu dan teknologi, kesehatan, dan olah raga, seni, budaya,
politik dan kebangsaan tertentu yang diminati berkaitan dengan
pekerjaan atau profesi;
d. Mempraktikkan pengetahuan dan kreativitas yang dimiliki dan
diminati menjadi produk teknologi sederhana, kesehatan dan olah
raga, seni, budaya yang inovatif dengan memanfataatkan peluang dan
sumber daya yang ada di sekitarnya;
e. Menggunakan sifat operasi hitung dalam menyederhanakan atau
menentukan hasil penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
pembagian bilangan;
f. Menggunakan uang atau jenis transaksi lainnya dalam kehidupan
sehari-hari;
g. Memperkirakan kebutuhan komponen produk teknologi, kesehatan
dan olah raga, seni, budaya yang inovatif yang sedang dikerjakan,
dimiliki dan diminati untuk menentukan biaya yang diperlukan;
h. Menerapkan pecahan sederhana ke bentuk pecahan desimal dan persen
pada perhitungan yang berkaitan dengan uang dan produk teknologi
sederhana, kesehatan dan olah raga, seni, budaya yang inovatif dan
diminati;
i. Menggunakan satuan pengukuran panjang, waktu, berat, atau satuan
lainnya yang diperlukan pada kegiatan menciptakan produk teknologi
sederhana, kesehatan dan olah raga, seni, budaya yang inovatif;
Pendidikan Multikeaksaraan
15
j. Menggunakan hasil pengolahan dan penafsiran data dalam bentuk
tabel, diagram, dan grafik sederhana mengenai kajian imu dan
teknologi, kesehatan dan olah raga, seni, budaya, politik dan
kebangsaan serta keterampilan tertentu yang diminati;
k. Mengolah informasi dari teks narasi yang berkitan dengan pekerjaan,
profesi, atau kemahiran yang dimiliki dan diminati dalam 5 (lima)
kalimat sederhana secara lisan dan tertulis;
l. Mempraktikkan kemitraan dalam mengembangkan produk teknologi
sederhana, kesehatan dan olah raga, seni, budaya secara inovatif yang
diminati di wilayahnya;
m. Mengolah informasi teks laporan yang berkitan dengan hasil produk
teknologi sederhana, kesehatan dan olah raga, seni, budaya, secara
inovatif yang diminati;
n. Mengomunikasikan ide dan produk inovatif berkaitan dengan ilmu
dan teknologi, kesehatan dan olah raga, seni, budaya yang diminati.
16
Naskah Akademik
menjadi pemimpin di dalam proses pembelajaran itu.
Hasil akhir dari kegiatan perencanaan program pembelajaran, adalah
perencanaan yang dapat diimplementasikan. Walaupun demikian, tidak
seorang pun percaya bahwa keterlibatan peserta didik merupakan salah
cara untuk mencapai tujuan pendidikan, karena masih banyak cara yang
dapat digunakan. Brower (1964) dalam analisisnya tentang dilema filosofis
tentang pendidik orang dewasa, mengidentifikasi empat pendekatan
alternatif dalam pengembangan program, yaitu: (1) pendekatan akademik,
di mana otoritas profesional menjadi pertimbangan utama dalam
pembuatan keputusan; (2) pendekatan akar rumput di mana peserta didik
menjadi aktor dalam pembuatan keputusan; (3) pendekatan pendidikan
yang realistis di mana pendidik dan peserta didik saling terlibat di dalam
mengembangkan program; dan (4) pendekatan propaganda, di mana
program itu dikembangkan oleh pihak ketiga, misalnya agensi yang
menjual gagasan kepada masyarakat.
Dengan demikian, upaya yang patut dilakukan dalam merancang
program pembelajaran pendidikan multikeaksaraan yang baik, adalah
dengan cara melibatkan peserta didik agar mereka dapat mengidentifikasi
kebutuhan belajarnya sendiri. Hal itu dilakukan agar pengembang
program pembelajaran: (1) mampu menyeleksi peserta didik yang akan
mengikuti program pembelajaran; dan (2) peserta didik dapat berfungsi
sebagai kelompok pemecah masalah secara efektif.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran
pendidikan multikeaksaraan menggunakan strategi pembelajaran
andragogis, fungsional, praktis, dan metode pembelajaran dengan
memanfaatkan bahan ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar
peserta didik juga sesuai dengan tuntutan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya.
Strategi pembelajaran andragogis yang dilaksanakan sesuai dengan prinsip
pembelajaran orang dewasa. Karena itu, dalam pengembangan kurikulum
dan pembelajaran orang dewasa, pengembang kurikulum dan pendidik
multikeaksaraan perlu memahami karakteristik orang dewasa dalam
mengiktui pendidikan. Knowles (1979), Knowles (1980), Knowles,
Horton dan Swanson (2005) merumuskan beberapa karakteristik orang
dewasa belajar berkenaan dengan konsep diri, peranan pengalaman belajar,
kesiapan belajar, dan orientasi belajar.
Pendidikan Multikeaksaraan
45
dan (g) alokasi waktu yang terkait dengan lingkungan dan potensi
masyarakat. Karena pembelajaran multikeaksaraan mengarah pada
penggalian pengalaman peserta didik dari lingkungan lokalitasnya,
sehingga bermanfaat langsung bagi peserta didik dalam melangsungkan
perannnya yang berkualitas pada masyarakatnya. Dengan perencanaan
seperti itu, pembelajaran pendidikan multikeaksaraan dapat dilaksanakan
setelah pendidik menyiapkan sumber atau bahan belajar yang terdiri atas:
(a) modul pembelajaran; (b) akses sumber informasi; (c) media cetak; (d)
kejadian/fakta; (e) pengalaman belajar dari pendidik atau peserta didik;
dan (f ) sumber belajar lainnya.
Dengan perkataan lainnya, bahwa pelaksanaan pembelajaran itu, pendidik
dituntut memerhatikan: (1) proses partisipatif, yaitu pembelajaran yang
melibatkan peserta didik secara aktif memanfaatkan keterampilan yang
sudah dimiliki; (2) konteks lokal, yaitu mempertimbangkan kebutuhan
belajar dan minat peserta didik, latar belakang sosial budaya, agama,
kondisi geografis, termasuk didalamnya masalah kesehatan, mata
pencaharian, pekerjaan peserta didik; (3) desain lokal, yaitu proses
pembelajaran merupakan respons terhadap kebutuhan belajar dan minat
peserta didik yang dirancang sesuai dengan situasi dan kondisi masingmasing kelompok belajar; dan (4) fungsionalisasi hasil belajar, yaitu hasil
belajar mampu meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan sikap
positif terhadap mutu kehidupan dan penghidupan peserta didik, serta
dapat meningkatkan kualitas peran dari capaian pembelajarannya di
dalam kehidupan bermasyarakat.
Terkait dengan hal tersebut, sedikitnya ada tiga anggapan yang dilontarkan
oleh para ahli pendidikan yang mendasari konsep pelibatan peserta didik di
dalam pengembangan program pendidikan orang dewasa. Ketiga anggapan
itu, adalah sebagai berikut: (1) keputusan tentang kebutuhan pendidikan
peserta didik itu akan lebih akurat dan peluang program pendidikan itu
akan tercapai apabila peserta didik terlibat dalam pembuatan keputusan.
Diyakini bahwa, apabila peserta didik dihadapkan pada masalah nyata,
mereka akan mengidentifikasi masalah secara kritis; (2) keterlibatan peserta
didik akan mempercepat proses perubahan. Hal ini, sejalan bahwa orangorang yang terlibat di dalam program akan membantu menyebarkan dan
melegitimasi program pendidikan berikutnya; dan (3) keterlibatan dalam
pengembangan program merupakan pengalaman belajar. Peserta didik
akan memperoleh informasi dan benar-benar mereka dipersiapkan untuk
44
Naskah Akademik
BAB III
PENDIDIKAN MULTIKEAKSARAAN
DALAM MASYARAKAT
A. Arah dan Strategi Pendidikan Multikeaksaraan
Dalam rangka mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, Pemerintahan Kabinet
Kerja telah menetapkan Visi Pembangunan 2014 – 2019 dalam Nawacita
serta didasari juga Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2025,
yaitu “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan
yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”. Sebagai suatu usaha
yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas,
maju, mandiri dan modern. Pembangunan pendidikan merupakan bagian
penting dari upaya menyeluruh dan sungguh-sungguh untuk meningkatkan
harkat dan martabat bangsa. Keberhasilan dalam membangun pendidikan
akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan
nasional secara keseluruhan. Dengan demikian, pembangunan pendidikan
itu mencakup berbagai dimensi yang sangat luas yang meliputi dimensi sosial,
budaya, ekonomi, dan politik.
Dalam perspektif sosial, pendidikan akan melahirkan insan-insan terpelajar
yang mempunyai peranan penting dalam proses perubahan sosial di dalam
masyarakat. Pendidikan menjadi faktor determinan dalam mendorong
percepatan mobilitas masyarakat yang mengarah pada pembentukan formasi
sosial baru. Formasi sosial baru ini terdiri atas lapisan masyarakat terdidik
yang menjadi elemen penting dalam memperkuat daya rekat sosial (social
cohesion). Pendidikan yang melahirkan lapisan masyarakat terdidik itu menjadi
kekuatan perekat yang menautkan unit-unit sosial di dalam masyarakat:
keluarga, komunitas, perkumpulan masyarakat, dan organisasi sosial yang
kemudian menjelma dalam bentuk organisasi besar berupa lembaga negara.
Dengan demikian, pendidikan dapat memberikan sumbangan penting pada
upaya memantapkan integrasi sosial.
Pendidikan Multikeaksaraan
17
Dalam perspektif budaya, pendidikan merupakan wahana penting dan
medium yang efektif untuk mengajarkan norma, menyosialisasikan nilai,
dan menanamkan etos di kalangan warga masyarakat. Pendidikan juga dapat
menjadi instrumen untuk memupuk kepribadian bangsa, memerkuat identitas
nasional, dan memantapkan jati diri bangsa. Bahkan, peran pendidikan
menjadi lebih penting lagi ketika arus globalisasi demikian kuat membawa
pengaruh nilai-nilai dan budaya yang acapkali bertentangan dengan nilainilai dan kepribadian bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, pendidikan dapat
menjadi wahana strategis untuk membangun kesadaran kolektif (collective
conscience) sebagai warga bangsa dan mengukuhkan ikatan-ikatan sosial,
dengan tetap menghargai keragaman budaya, ras, suku-bangsa, dan agama
sehingga dapat memantapkan keutuhan nasional.
Dalam perspektif ekonomi, pendidikan akan menghasilkan manusiamanusia yang handal untuk menjadi subjek penggerak pembangunan
ekonomi nasional. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan
lulusan-lulusan bermutu yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi,
dan mempunyai keterampilan teknis dan kecakapan hidup yang memadai.
Pendidikan juga dapat menghasilkan tenaga-tenaga terampil yang memiliki
kemampuan kewirausahaan, yang menjadi salah satu pilar utama aktivitas
perekonomian nasional. Bahkan, peran pendidikan menjadi sangat penting
dan strategis untuk meningkatkan daya saing nasional dan membangun
kemandirian bangsa, yang menjadi prasyarat mutlak dalam memasuki
persaingan antarbangsa di era global.
Di era global, berbagai bangsa di dunia telah mengembangkan ekonomi
berbasis pengetahuan yang mensyaratkan dukungan manusia berkualitas.
Karena itu, pendidikan mutlak diperlukan guna menopang pengembangan
ekonomi berbasis pengetahuan (education for the knowledge economy).
Dengan demikian, lembaga pendidikan harus pula berfungsi sebagai pusat
pengembangan sumber daya manusia unggul yang memiliki kemampuan
kompetitif yang mendukung pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan. Di
samping itu, ketersediaan manusia bermutu sangat menentukan kemampuan
bangsa dalam memasuki kompetensi global dan ekonomi pasar bebas, yang
menuntut daya saing tinggi. Dengan demikian, pendidikan keaksaraan
diharapkan dapat mendukung bangsa Indonesia meraih keunggulan dalam
persaingan global.
18
Naskah Akademik
lain; (4) dalam belajar mengutamakan pada bahan belajar yang digali dari
lingkungan hidup peserta didik itu sendiri yang memiliki karakteristik
beragam; dan (5) proses belajar perlu didesain agar responsif dan relevan
dengan konteks sosial-kultural peserta didik dan lingkungan tempatnya
melangsungkan kehidupan.
Dalam konteks itu, kurikulum pendidikan multikeaksaraan sepatutnya
mengandung makna, bahwa: (1) penyelenggaraan pendidikan
multikeaksaraan perlu sesuai dengan minat dan kebutuhan belajar
peserta didik; (2) relevan dengan fungsi dan tujuan diselenggarakannya
pembelajaran multikeaksaraan, dan (3) terdapat jaminan bahwa hasil
pembelajaran dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas peran peserta
didik dalam kehidupan bermasyarakat.
Kurikulum pendidikan multikeaksaraan dirancang agar dapat diterapkan
pada masyarakat yang mengalami kendala mengikuti pendidikan formal
karena faktor geografis, seperti masyarakat yang hidup di daerah tertinggal,
terdepan, dan terluar, atau komunitas adat terpencil/khusus, tetapi juga
karena faktor kemiskinan dan daerah padat yang memerlukan layanan
dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan. Dalam latar sosial
dan budaya seperti itu, pendidikan multikeaksaraan selayaknya mampu
memberikan layanan yang berorientasi pada pendidikan akademik, artinya
melalui pendidikan multikeaksaraan, peserta didik dapat melanjutkan
pada pendidikan kesetaraan, dan layanan yang berorientasi pendidikan
multikeaksaraan yang terintegrasi dengan pengembangan kemampuan
warga masyarakat untuk meningkatkan peran yang berkualitas kehidupan
dan penghidupannya.
4. Pembelajaran
Proses pembelajaran pada pendidikan multikeaksaraan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan dapat
memotivasi peserta didik dalam membentuk sikap, mengembangkan
pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan. Proses pembelajaran
dimaksud meliputi: (a) perencanaan pembelajaran; (b) pelaksanaan
pembelajaran dan pendampingan; serta (c) penilaian.
Dalam perencanaan program pendidikan multikeaksaraan perlu
memperhatikan: (a) identitas lembaga dan rombongan belajar; (b)
kompetensi dasar; (c) materi pembelajaran; (d) indikator pencapaian
kompetensi; (e.) langkah-langkah kegiatan pembelajaran; (f ) penilaian;
Pendidikan Multikeaksaraan
43
melainkan juga menggunakan pengetahuan yang berkaitan, misalnya
teknologi, politik, demografi, geografi, ekonomi, dan budaya. Demikian
pula, orang dewasa yang sedang berbelanja di pasar, dia bukan hanya
menggunakan keterampilan menjumlahkan ketika membandingkan
harga di tempat pedagang satu dengan lainnya, melainkannya juga
memperhatikan pengalaman yang telah dimilikinya, misalnya kesukaan
keluarganya, merek produk yang akan dibeli, dan sebagainya.
Pendidikan multikeaksaraan terjadi dalam latar sosial dan budaya tertentu,
sehingga penting untuk memahami strategi pembelajaran yang akan dipilih
dalam proses pembelajaran. Masyarakat memiliki pemahaman tentang
cara-cara belajar, memiliki teori-teori tentang keaksaraan, berhitung
dan pendidikan dan menggunakan strategi tertentu dalam mempelajari
hal-hal baru. Pemahaman terhadap multikeaksaraan merupakan aspek
penting terhadap seseorang dalam melakukan kegiatan belajar, dan teoriteori yang mereka pergunakan, walaupun tidak secara eksplisit mereka
menggunakannya.
Program pendidikan multikeaksaraan merupakan salah satu bentuk layanan
pendidikan bagi masyarakat yang ingin memiliki kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung yang bermanfaat bagi kehidupannya. Peserta didik
multikeaksaraan tidak hanya memiliki kemampuan membaca, menulis
dan berhitung, melainkan juga berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
agar dapat berperan dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus juga dapat
beradaptasi dan bertahan hidup dalam kehidupan yang terus berubah.
Pengertian tersebut memberikan gambaran, bahwa kurikulum pada
pendidikan multikeaksaraan berupa program pembelajaran dengan
pendekatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terpadu yang
fungsional. Pendekatan TIK terpadu yang fungsional dalam konteks itu
terintegrasi dengan kehidupan keseharian peserta didik, yang meliputi ilmu
pengetahuan dan teknologi, kesehatan dan olah raga, pengembangan seni
dan budaya, sosial-politik, kebangsaan, profesi-keahlian, dan pekerjaan, serta
keagamaan. Itu artinya, dengan pendekatan pendidikan multikeaksaraan
tersebut, mendorong penyelenggaraan pendidikan multikeaksaraan
memerhatikan hal-hal sebagai berikuti: (1) mengembangkan kemampuan
baca, tulis, dan hitung dengan menekankan pada kemampuan menulis,
membaca aktif dan berhitung; (2) menekankan keterlibatan peserta didik
secara aktif dan kreatif; (3) membangun pengetahuan, pengalaman dengan
memperhatikan tradisi lisan peserta didik (bahasa ibu) dan keaksaraan
42
Naskah Akademik
Dalam perspektif politik, pendidikan harus mampu mengembangkan kapasitas
individu untuk menjadi warga negara yang baik (good citizens), yang memiliki
kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Pendidikan dapat melahirkan individu yang
memiliki visi dan idealisme untuk membangun kekuatan bersama sebagai
bangsa. Visi dan idealisme itu haruslah merujuk dan bersumber pada paham
ideologi nasional, yang dianut oleh seluruh komponen bangsa.
Dalam jangka panjang, pendidikan niscaya akan melahirkan lapisan
masyarakat terpelajar, kemudian mengembangkan masyarakat berpikir dan
berkesadaran kritis yang menjadi elemen pokok dalam upaya membangun
masyarakat madani. Dengan demikian, pendidikan merupakan usaha besar
untuk meletakkan landasan sosial yang kokoh bagi terciptanya masyarakat
demokratis, yang bertumpu pada golongan masyarakat kelas menengah
terdidik agar menjadi pilar utama masyarakat madani, yang menjadi salah
satu tiang penyangga bagi upaya perwujudan pembangunan masyarakat
demokratis.
Untuk mencapai hal itu, diperlukan penekanan strategi pendidikan keaksaraan
yang memberdayakan bagi penduduk usia muda yang masuk dalam kelompok
usia produktif. Masalah ini muncul sebagai akibat dari tingginya angka putus
sekolah, terbatasnya akses ke pendidikan, dan pelatihan di berbagai wilayah
daerah terpencil, tertinggal, terdepan, dan terluar, serta kurang efektifnya
pendidikan-pendidikan kecakapan hidup yang diselenggarakan di lembaga
pendidikan formal.
Berkenaan dengan hal itu, dalam rangka pengembangan pendidikan keaksaraan
yang relevan dengan kebutuhan belajar kelompok sasaran, latar sosial budaya
masyarakat, serta tuntutan pembangunan manusia, diperlukan kebijakan
pendidikan multikeaksaraan yang mengarah pada kurikulum yang berbasis
kebutuhan belajar peserta didik, dan sosial budaya masyarakat. Dengan
kebijakan seperti itu, mewujudkan kurikulum yang mampu mendorong
invensi sebagai bagian dari daya cipta yang sanggup menggerakkan, dan
merangsang inspirasi bagi terjadinya transformasi sosial.
Tentunya, untuk menyusun kebijakan pendidikan multikeaksaraan tidak
bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan kebijakan pendidikan nasional
sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, tahun 2015-2019, yakni “Pendidikan untuk Semua”. Itu
Pendidikan Multikeaksaraan
19
artinya, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat
dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan
kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Pendidikan harus
dapat diakses oleh setiap orang dengan tidak dibatasi oleh usia, tempat, dan
waktu, pemerintah harus menjamin keberpihakan kepada peserta didik yang
memiliki hambatan fisik, mental, ekonomi, sosial, ataupun geografis”.
Sumber: Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud, 2014
Grafik 2. Perbandingan Persentase Buta Aksara terhadap Persentase Kemiskinan
Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan keaksaraan, persoalan yang
terkait dengan hambatan-hambatan tersebut menjadi hal yang perlu
mendapat perhatian, bukan saja dari sisi penyelenggara di satu pihak, tetapi
juga dari sisi peserta didik itu sendiri di lain pihak. Hal itu seperti tampak
pada perbandingan persentase buta aksara dan persentase kemiskinan pada
daerah-daerah di seluruh Indonesia, antara kemiskinan dan buta aksara
seolah-olah menjadi kausalitas, semakin tinggi tingkat kemiskinan di suatu
daerah semakin tinggi pula tingkat buta aksara penduduknya. Itulah yang
disebut masalah keaksaraan, karena penduduk yang menyandang kemiskinan
bukan saja tidak tertarik pada peningkatan keaksaraan, tetapi juga keperluan
pemenuhan kebutuhan pokok menjadi hal yang utama untuk melangsungkan
kehidupan.
20
Naskah Akademik
3. Kurikulum
Dengan arah kebijakan dan strategi pendidikan multikeaksaraan
sebagaimana telah digambarkan pada Bab III di atas, menunjukkan
bahwa melek aksara yang dimaksudkan bukan hanya bisa baca tulis
dan berhitung, tetapi lebih jauh dari hal itu, adalah memperlihatkan
kemampuan membaca, menulis dan berhitung untuk mengelola
informasi, sekaligus dapat menyampaikan gagasan dan pendapat, serta
membuat keputusan dalam memecahkan masalah baik di lingkungan
keluarga maupun masyarakat dan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Dalam konteks arah kebijakan dan strategi tersebut, melek aksara akan
memberikan implikasi, bahwa: (a) seseorang menjadi melek aksara
dan mampu berhitung tidak hanya memiliki keterampilan mekanik
enkoding dan decoding, melainkan juga pengetahuan dan keterampilan
serta pemahaman yang memungkinkan mereka melakukannya sebagai
individu, keluarga, masyarakat dan melakukan pekerjaan di lingkungan
kerja; (b) bidang kehidupan dan latar sosial dimana membaca dan
berhitung itu digunakan akan menentukan bahan belajar yang harus
dipelajari oleh seseorang; dan (c) keaksaraan dan kemampuan berhitung
selalu digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya memecahkan masalah
atau membuat keputusan, dalam latar tertentu. Karena itu, penggunaan
kemampuan membaca dan berhitung berkaitan erat dengan kehidupan
sosial dimana seseorang itu berada.
Pembelajaran yang terjadi dengan latar kehidupan sosial (insidental) itu sama
pentingnya dengan program pembelajaran yang dirancang (intensional).
Dengan kata lain, pembelajaran keaksaraan dan berhitung tidak dapat
dilepaskan dari latar sosial seseorang, sehingga proses pembelajaran
multikeaksaraan harus memperhatikan bahasa dan budaya lokal.
Beberapa kegiatan multikeaksaraan seringkali berlangsung dalam
kehidupan sehari-hari, seperti membayar hutang, membaca berita di
koran atau kegiatan membaca yang berkaitan dengan pekerjaan. Kegiatan
multikeaksaraan adalah terpadu dengan keterampilan dan pemahaman
yang diorganisir di dalam latar tertentu dan nilai-nilai yang dimiliki oleh
seseorang dalam melakukan kegiatan. Kegiatan membaca dan menulis
merupakan kegiatan kognitif yang kompleks dan tergantung pada
pengetahuan yang bersifat kontekstual. Misalnya, seseorang membaca
berita di dalam surat kabar, dia bukan saja menerjemahkan kata-kata,
Pendidikan Multikeaksaraan
41
action learning adalah merupakan proses pendidikan dan pembelajaran
terhadap persoalan yang menghadapkan peserta didik pada masalah nyata,
kompleks dan menekan untuk mencapai perubahan yang diinginkan.
Formula yang digunakan dalam action learning, adalah L = (P = Q). L adalah
learning, sedangkan P adalah pengalaman masa lalu (past experience) dan Q
adalah pertanyaan (questioning) yang membukakan wawasan. Ringkasnya,
dengan formula ini proses pembelajaran dalam multikeaksaraan akan
berlangsung dengan menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki dan mengajukan pertanyaan mengenai relevansi, asumsi dan aplikasi
pengetahuan pada situasi tertentu. Implikasi dari pendekatan pembelajaran
action learning dan fasilitasi ini perlu penataan waktu yang baik agar kegiatan
tidak terbatas sekali waktunya sehingga pengaturan dan kerjasama dengan
tenaga pengelola (kependidikan) lainnya menjadi penting.
Demikian juga, peran yang tidak kalah pentingnya dalam penyelenggaraan
program pendidikan multikeaksaraan, adalah tersedianya tenaga
kependidikan. Dalam hal ini, tenaga kependidikan adalah anggota
masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang
penyelenggaraan pendidikan keaksaraan. Karena itu, peran tenaga
kependidikan dalam program pendidikan multikeaksaraan, adalah
bertanggungjawab untuk mendukung dan membantu kelancaran
penyelenggaraan serta pengelolaan pendidikan sesuai dengan tujuan
penyelenggaraan pendidikan multikeaksaraan.
Ringkasnya, pendidik multikeaksaraan sebagaimana disebutkan di atas,
memiliki kualifikasi dan kompetensi antara lain: (a) pendidikan minimal
SMA/sederajat; (b) kemampuan membantu membelajarkan peserta didik;
(c) kemampuan keaksaraan; (d) pengetahuan dasar tentang substansi
yang akan dibelajarkan; dan (e) kemampuan mengelola pembelajaran
dengan kaidah-kaidah pembelajaran orang dewasa. Selain pendidik yang
memiliki kualifikasi tersebut, juga bertempat tinggal atau dekat dengan
lokasi pembelajaran, dan dapat bertanggungjawab untuk merencanakan,
melaksanakan, menilai, dan mengendalikan proses pembelajaran yang
mengacu pada tujuan penyelenggaraan dan pengelolaan pembelajaran
pendidikan multikeaksaraan. Demikian pula, tenaga kependidikan
diharapkan selain dapat membatu melancarkan aktivitas pembelajaran,
juga bertempat tinggal di sekitar peserta didik, agar dapat mengetahui
dengan berbagai kebutuhan belajar peserta didik.
40
Naskah Akademik
Gambar 1. Arah Kebijakan dan Strategi dalam Pendidikan Multikeaksaraan
Berkenaan dengan penyusunan kebijakan pendidikan keaksaraan, persoalan
kemiskinan dan persoalan aksesibilitas warga masyarakat yang memerlukan
jangkauan layanan pendidikan penting diperhatikan. Bahkan, sudah
seharusnya kedua persoalan itu dijadikan strategi pendidikan keaksaraan yang
terkait pengembangan kurikulum multikeaksaraan sebagai bagian dari aksirefleksi atas situasi kemiskinan dan aksesibilitas warga. Hal itu, sebagaimana
tampak pada Gambar 1 di atas. Arah Kebijakan dan Strategi dalam Pendidikan
Multikeaksaraan.
Dalam konteks itu, pembelajaran dan pemberdayaan perlu menjadi
strategi untuk menyusun rancangan kurikulum multikeaksaraan. Artinya,
dengan perancangan kurikulum seperti ini akan menciptakan suasana yang
Pendidikan Multikeaksaraan
21
berkembang sehingga dapat menguatkan daya yang dimiliki kemauan bukan
saja untuk melindungi atas situasi persaingan, dan eksploitasi dari sesama
peserta didik tetapi juga dari situasi luaran yang dapat menghambat program
pendidikan multikeaksaraan. Karena program pembelajaran disusun sesuai
dengan tingkat kebutuhan belajar mereka.
B. Pemberdayaan Peserta Didik
Pemberdayaan masyarakat, adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi
yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru
pembangunan, yakni yang bersifat people-centered, participatory, empowering,
and sustainable (Chambers, 1995). Konsep ini lebih luas dari hanya sematamata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme
untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net), yang pemikirannya
belakangan ini banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap
konsep-konsep pertumbuhan di masa lalu. Konsep ini berkembang dari upaya
banyak ahli dan praktisi untuk mencari apa yang dikatakan oleh Friedman
(1992) disebut alternative development yang menghendaki inclusive democracy,
appropriate economic growth, gender equality and intergenerational equity.
Dalam kerangka berpikir seperti itu, upaya memberdayakan peserta didik
sebagai peserta didik, dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu: (1) menciptakan suasana
atau iklim yang memungkinkan potensi peserta didik berkembang (enabling);
(2) memperkuat potensi atau daya (empowering) yang dimiliki oleh peserta
didik; dan (3) memberdayakan yang mengandung pula arti melindungi
(Rifai, 2005). Dalam proses pemberdayaan, yang harus dicegah adalah yang
lemah menjadi bertambah lemah, disebabkan oleh kekurangberdayaan dalam
menghadapi yang kuat. Dengan demikian, perlindungan dan pemihakan
kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan
peserta didik. Melindungi dilihat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya
persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah.
Itulah sebabnya, pemberdayaan peserta didik bukan membuat mereka menjadi
makin bergantung pada berbagai program pemberian (charity). Karena, pada
dasarnya setiap apa yang dinikmati, harus dihasilkan atas usaha sendiri, dan
hasilnya dapat dipertukarkan dengan pihak lain. Dengan demikian, tujuan
akhirnya adalah memandirikan peserta didik, memampukan, dan membangun
kemampuan untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara
bersinambungan.
22
Naskah Akademik
Seorang pendidik yang berkualitas, dituntut memiliki kepribadian dan
keterampilan yang mampu mendorong peserta didik terlibat aktif di
dalam pendidikan. Oleh karena itu, beberapa kemampuan personal yang
perlu dimiliki adalah: (1) bersikap sebagai pembelajar yang baik, tidak
menggurui dan tidak mendudukkan diri sebagai orang yang serbatahu;
(2) menciptakan suasana yang membuat peserta didik terlibat di dalam
pengkajian, perumusan simpulan serta tindak lanjut dari pendidikan;
(3) menggunakan contoh-contoh berdasarkan pengalaman peserta didik
atau hal yang dekat dengan kehidupan peserta didik; (4) menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Jika terpaksa harus
menggunakan bahasa yang tidak biasa didengar peserta didik, jelaskan
secara gamblang dalam bahasa keseharian peserta didik; (5) bersikap adil,
memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk mengungkapkan
pendapatnya; (6) mendorong peserta didik yang pasif untuk urun
pendapat, dan memberi pengertian pada peserta didik yang dominan
mengenai pentingnya memberi kesempatan kepada peserta didik lain; (7)
menghindari perdebatan terbuka antarpendidik atau antara pendidik dan
peserta didik yang tidak jelas arahnya; (8) pandai mengelola pembicaraan
peserta didik yang keluar jalur, tanpa menyinggung atau membuatnya
merasa tidak dihargai: (9) kreatif dalam menggali inspirasi peserta didik
dan menggunakan pertanyaan untuk mengembangkan daya analitis dan
inspirasi peserta didik; (10) memiliki keterampilan menggunakan media
visual dalam bentuk gambar, bagan atau permainan peran;
yang senada dengan materi yang
disampaikan yang memudahkan peserta didik mencerna makna dari
materi pembelajaran yang disampaikan; (12) berbicara dengan nada suara
berirama yang menyenangkan dan tegas; (13) peka dengan situasi peserta
didik dan cekatan mengeluarkan kreativitas ketika menghadapi peserta
didik yang kurang bersemangat, tidak cukup aktif atau terlalu aktif; dan
(14) terampil dalam mengajukan pertanyaan, mengelola belajar dalam
kelompok kecil dan perseorangan, dan mengelola variasi penggunaan
media dan sumber belajar.
Dengan demikian, pendidik yang berkualitas seperti itu dapat
mengembangkan suatu model pedekatan pembelajaran sebagai alternatif
dalam proses pembelajaran pada program multikeaksaraan. Suatu model
pendekatan pembelajaran yang menempatkan pendidik sebagai fasilitator,
adalah model “Action Learning”. Revans, Ball (2004), menyatakan bahwa
Pendidikan Multikeaksaraan
39
peserta didik, dan berakhlak mulia; (3) kompetensi profesional, yakni
kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam
yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar
kompetensi; dan (4) kompetensi sosial, yakni kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, dan
masyarakat sekitar. Dari keempat kompetensi yang terpadu itu, tugas
pendidik dapat dikelompokkan menjadi tugas kemanusiaan, tugas profesi,
dan tugas kemasyarakatan.
Dalam konteks itu, tugas pendidik, adalah bukan hanya mengajar atau
melatih, melainkan juga mendidik. Mendidik berarti memberikan
bimbingan kepada peserta didik agar dapat berkembang seoptimal
mungkin dan dapat meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai
kehidupan. Pendidik sebagai pembimbing memberi tekanan pada tugas
pemberian bantuan kepada peserta didik di dalam memenuhi kebutuhan
belajar dan memecahkan masalah yang dihadapi. Tugas ini merupakan
tugas mendidik sebab tugas pendidik di samping menyampaikan ilmu
pengetahuan dan teknologi, juga mengembangkan kepribadian dan
pembentukan nilai-nilai pada peserta didik.
Mengajar berarti mengelola kondisi lingkungan agar peserta didik, belajar
optimal dan memperoleh tujuan yang diharapkan. Tugas utama pendidik
dalam pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan pembelajaran
dengan berhasil. Oleh karena itu, di samping menguasai materi
pembelajaran, pendidik juga dituntut memiliki seperangkat pengetahuan
dan keterampilan teknik pembelajaran. Kemudian, agar pendidik mampu
menjalankan tugas profesinya, dia dituntut selalu mencari gagasan baru
dalam menyempurnakan pelaksanakan pendidikan dan pembelajaran,
mencoba berbagai metode pembelajaran, mengupayakan pembuatan dan
penggunaan media pembelajaran.
Untuk menjadi pendidik yang berkualitas, seseorang harus mampu dan
mau mendengarkan, mengelola gagasan, mengemas sumbangsaran yang
mengarah pada pencapaian tujuan yang telah menjadi kebutuhan belajar
peserta didik. Kemampuan berkomunikasi yang membuat peserta didik
merasa nyaman, adalah menjadi kunci utama efektivitas pendidik, selain
kepekaan dalam menangkap situasi peserta didik. Oleh karena itu, belajar
sambil bekerja (learning by doing) merupakan pengalaman terbaik untuk
menambah keterampilan memfasilitasi aktivitas belajar orang dewasa.
38
Naskah Akademik
Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan, adalah bahwa peserta didik
tidak dijadikan objek dari berbagai proses pembelajaran, tetapi merupakan
subjek pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan konsep demikian, pemberdayaan
peserta didik harus mengikuti pendekatan sebagai berikut: Pertama, upaya
itu harus terarah (targetted). Ini yang secara populer disebut pemihakan. Ia
ditujukan langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang
untuk mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhan belajarnya. Kedua,
program ini harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh
masyarakat yang menjadi sasaran. Mengikutsertakan masyarakat yang akan
dibantu mempunyai beberapa tujuan, yakni supaya bantuan tersebut efektif
karena sesuai dengan kehendak dan kemampuan serta kebutuhan belajar
mereka. Selain itu, sekaligus meningkatkan keberdayaan (empowering) peserta
didik dengan pengalaman dalam merancang, melaksanakan mengelola, dan
mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri. Ketiga, menggunakan
pendekatan kelompok karena secara sendiri-sendiri peserta didik miskin
sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Juga lingkup
bantuan menjadi terlalu luas kalau penanganannya dilakukan secara individu.
Pendekatan kelompok inilah yang lebih efektif dan jika dilihat dari penggunaan
sumber daya juga lebih efisien. Di samping itu, kemitraan usaha antara
kelompok tersebut dan kelompok yang lebih maju harus terus-menerus dibina
dan dipelihara secara saling menguntungkan dan memajukan. Selanjutnya,
untuk kepentingan analisis, pemberdayaan peserta didik harus dapat dilihat
baik dengan pendekatan komprehensif rasional maupun instrumental.
Dalam pengertian pertama, dalam upaya ini, diperlukan perencanaan
berjangka, serta pengerahan sumber daya yang tersedia dan pengembangan
potensi yang ada secara nasional, yang mencakup semua peserta didik. Dalam
upaya ini, perlu dilibatkan semua peserta didik, baik pemerintah maupun
dunia usaha dan lembaga sosial dan kemasyarakatan, serta tokoh-tokoh dan
individu-individu yang mempunyai kemampuan untuk membantu. Dengan
demikian, programnya harus bersifat nasional, dengan curahan sumber daya
yang cukup besar untuk menghasilkan dampak yang berarti.
Dengan pendekatan kedua, perubahan yang diharapkan tidak selalu harus
terjadi secara cepat dan bersamaan dalam derap yang sama. Kemajuan dapat
dicapai secara bertahap, langkah demi langkah, mungkin kemajuan-kemajuan
kecil, juga tidak selalu merata. Pada satu sektor dan sektor lainnya dapat berbeda
percepatannya, demikian pula antara satu wilayah dan wilayah lain, atau suatu
Pendidikan Multikeaksaraan
23
kondisi dan kondisi lainnya. Dalam pendekatan ini, desentralisasi dalam
pengambilan keputusan dan pelaksanaan teramat penting. Tingkat pengambilan
keputusan haruslah didekatkan sedekat mungkin kepada masyarakat.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan terutama oleh Lembaga
Swadaya Masyarakat adalah advokasi. Pendekatan advokasi pertama
kali diperkenalkan pada pertengahan tahun 1960-an di Amerika Serikat
(Davidoff, 1965). Model pendekatan ini mencoba meminjam pola yang
diterapkan dalam sistem hukum, di mana penasihat hukum berhubungan
langsung dengan klien. Dengan demikian, pendekatan advokasi menekankan
pada pendamping dan kelompok masyarakat dan membantu mereka untuk
membuka akses kepada pelaku-pelaku pembangunan lainnya, membantu
mereka mengorganisasikan diri, menggalang dan memobilisasi sumber daya
yang dapat dikuasai agar dapat meningkatkan posisi tawar (bargaining position)
dari kelompok masyarakat tersebut. Pendekatan advokasi ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa pada hakekatnya masyarakat terdiri dari kelompokkelompok yang masing-masing mempunyai kepentingan dan sistem nilai
sendiri-sendiri.
Masyarakat pada dasarnya bersifat majemuk, di mana kekuasaan tidak
terdistribusi secara merata dan akses keberbagai sumber daya tidak sama
(Catanese and Snyder, 1986). Kemajemukan atau pluralisme inilah yang perlu
dipahami. Menurut paham ini, kegagalan pemerintah sering terjadi karena
memaksakan pemecahan masalah yang seragam kepada masyarakat yang
realitanya terdiri atas kelompok-kelompok yang beragam. Ketidakpedulian
terhadap heterogenitas masyarakat mengakibatkan individu-individu tidak
memiliki kemauan politik dan hanya segelintir elit yang terlibat dalam proses
pembangunan. Dalam jangka panjang, diharapkan dengan pendekatan
advokasi, masyarakat mampu secara sadar terlibat dalam setiap tahapan
dari proses pembangunan, baik dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, pelaporan, dan evaluasi. Seringkali pendekatan advokasi
diartikan pula sebagai salah satu bentuk penyadaran secara langsung kepada
masyarakat tentang hak dan kewajibannya dalam proses pembangunan.
Terkait dengan pendidikan nonformal dan
pendidikan sepanjang
hayat, termasuk di dalamnya multikeaksaraan, Kindervatter (1979:46)
mengemukakan, bahwa pendekatan pendidikan nonformal adalah proses
pemberdayaan (nonformal education as empowering proccess), yang meliputi:
pendekatan berdasarkan kebutuhan (need oriented), pendekatan berdasarkan
24
Naskah Akademik
(1981), menyatakan bahwa peserta didik berpartisipasi dalam program
pembelajaran, adalah karena berorientasi pada tujuan. Mereka memiliki
masalah untuk dipecahkan, seperti keinginan untuk memperoleh
pekerjaan yang lebih baik, belajar menjadi ahli di bidang tertentu. Peserta
didik yang berorientasi pada tujuan itu sangat responsif terhadap tekanan
yang dihadapi dan tekanan itu menjadi pemicu atau pemrakarsa belajar.
Oleh karena itu, peserta didik yang menghadapi masalah pelik dalam
kehidupannya akan memiliki motivasi tinggi dalam belajar.
Di samping terdapat berbagai alasan peserta didik untuk mengikuti
program pembelajaran, juga ada beberapa alasan untuk tidak mengikuti
program pembelajaran. Beberapa alasan itu bersifat: (1) situasional, seperti
tidak ada biaya, waktu, sarana transportasi, tempat untuk praktik, dan
untuk belajar bersama; (2) institusional, seperti tidak suka belajar penuh
waktu, waktu belajar terlalu lama, waktu belajar tidak sesuai dengan waktu
yang dimiliki, tidak memeroleh informasi tentang program pembelajaran,
tidak memenuhi persyaratan dalam mengikuti program pembelajaran,
dan persyaratan kehadiran sangat kaku; dan (3) disposisional, seperti
terlalu tua untuk belajar, tidak percaya akan kemampuannya, tenaga sudah
berkurang, tidak dapat menikmati kegiatan belajar, bosan mengikuti
pembelajaran, dan tidak mengetahui apa yang harus dipelajari.
2. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidik, adalah tenaga pengajar yang berkualifikasi dan memiliki
kompetensi sebagai pamong belajar, tutor, instruktur, fasilitator, dan
sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan multikeaksaraan. Itu artinya, yang dapat
disebut sebagai pendidik multikeaksaraan, ialah mereka yang memiliki
kompetensi dengan kemampuan yang dapat diandalkan, berdaya guna
dan berhasil guna dalam melayani dan membantu peserta didik di dalam
proses pembelajaran multikeaksaraan.
yakni kemampuan mengelola pembelajaran peserta
didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan
dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya; (2) kompetensi kepribadian, yakni kemampuan kepribadian
yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi
Pendidikan Multikeaksaraan
37
pengetahuan dan sikap pada dimensi keterampilan berupa kemampuan
menggunakan bahasa Indonesia dan keterampilan berhitung secara efektif
dalam pengembangan peran dan fungsi untuk kemandirian berkarya di
masyarakat serta meningkatkan kualitas hidup.
Kelompok belajar multikeaksaraan terdiri atas 10 peserta didik.
Pengelompokan ini untuk efisiensi, mempermudah pengelolaan, dan
memotivasi kelompok belajar. Namun, jika hal tersebut sulit dilakukan,
pendidik dapat melakukan pengelompokan sesuai dengan jumlah peserta
didik yang ada.
Pengorganisasian kelompok belajar harus memerhatikan, bahwa: (1) bahasa
Indonesia bukan merupakan mata pelajaran khusus melainkan sebagai
bahasa pengantar yang terintegrasi dengan proses belajar membaca, menulis
dan berhitung serta keterampilan fungsional; (2) penilaian kemampuan
membaca, menulis dan berhitung dimulai dari awal pembelajaran, selama
proses, dan akhir pembelajaran, dan (3) kemampuan fungsional perlu
dikuasai oleh peserta didik dan diusahakan yang menyangkut hal-hal seperti
kesadaran bernegara dan berbangsa serta meningkatkan mutu kehidupan
dan penghidupan, sedangkan keterampilan fungsionalnya disesuaikan
dengan kebutuhan, minat, dan potensi lokal untuk meningkatkan
pendapatan atau taraf hidup peserta didik.
Kualitas belajar yang terjadi di dalam kelompok dipengaruhi oleh
kelompok itu sendiri. Dengan kata lain, kelompok itu bukan saja sebagai
instrumen yang menyediakan kegiatan belajar terorganisir bagi orang
dewasa, melainkan juga menyediakan lingkungan yang memperlancar
aktivitas belajar orang dewasa. Oleh karena itu, kelompok itu hendaknya
sebagai suatu sumber belajar.
Para pakar pendidikan orang dewasa menempatkan tekanan pada
pentingnya menciptakan lingkungan yang edukatif di kelompok yang
dapat membantu orang dewasa melakukan aktivitas belajar. Lingkungan
yang edukatif itu ditandai oleh beberapa karakteristik, yaitu adanya: (1)
sikap saling menghormati, (2) partisipasi di dalam pengambilan keputusan,
(3) kebebasan berekspresi dan tersedia informasi, (4) tanggung jawab
bersama dalam menetapkan tujuan, merencanakan dan melaksanakan
kegiatan, dan evaluasi. Pendeknya, lingkungan yang edukatif ialah
lingkungan yang terdapat budaya demokratis. Dengan cara ini, peserta
didik akan mampu berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran Cross
36
Naskah Akademik
keadaan setempat (indigenous), pendekatan berdasarkan rasa terciptanya
percaya diri dan kemandirian (self reliant), pendekatan yang mengutamakan
aspek lingkungan (ecological sound), dan pendekatan yang berorientasi
transformasi struktural (based on structural transformation).
C. Relevansi Pendidikan Multikeaksaraan
Keaksaraan merupakan hak bagi setiap orang. Konsep ini berkaitan dengan asas
manfaat, yakni pendidikan keaksaraan memberikan manfaat bagi individu,
keluarga, masyarakat dan bangsa. Dalam masyarakat modern, kecakapan
keaksaraan menjadi penting dalam pembuatan keputusan berbasis informasi,
pemberdayaan personal, dan partisipasi aktif dalam komunitas lokal dan
global (Stromquist, 2005). Namun, manfaat keaksaraan itu akan dirasakan
apabila hak setiap individu dan kerangka kerja pembangunan dilaksanakan
secara efektif.
Manfaat bagi individu, misalnya, makin bertambah apabila materi tertulis
tersedia bagi aksarawan baru, dan manfaat ekonomi terjadi apabila
mempertimbangkan manajemen makro ekonomi, investasi infrastruktur,
dan kebijakan pembangunan yang menunjang. Secara sama, manfaat
lain seperti pemberdayaan lulusan akan berhasil apabila lingkungan sosial
mengakomodasi aksarawan baru. Berikut dijelaskan secara ringkas tentang
relevansi pendidikan multikeaksaraan terhadap individu, politik, kultural,
sosial dan ekonomi.
Individu sebagai Peserta didik. Beberapa literatur menyatakan, bahwa
keaksaraan memiliki manfaat terhadap peningkatan bagi penghargaan diri
(self-esteem), pemberdayaan, kreativitas, dan refleksi kritis bagi individu yang
berpartisipasi dalam proram pendidikan keaksaraan. Manfaat lainnya, adalah
bahwa keaksaraan menjadi instrumen dalam meningkatkan penghargaan diri dan
pemberdayaan diri bagi peserta didik. Laporan tentang penyelenggaraan program
keaksaraan di Brasil, India, Nigeria, Amerika Serikat, beberapa negara Afrika dan
Asia Selatan diperoleh informasi adanya perubahan perilaku orang dewasa sebagai
dampak dari pendidikan keaksaraan, bahwa peserta didik memiliki kepercayaan
diri dalam menghadapi lingkungannya (UNESCO, 2006).
Keaksaraan juga memberdayakan peserta didik, terutama wanita, baik secara
individual maupun kolektif dalam berbagai kegiatan seperti kerumahtanggaan,
di tempat kerja, dan masyarakat. Dalam hal ini, program keaksaraan dirancang
dan dilaksanakan agar orang dewasa menulis materi pembelajarannya sendiri,
Pendidikan Multikeaksaraan
25
mengembangkan pengetahuannya, dan menjadi mitra dialog tentang
kehidupannya sendiri. Di samping itu, progam keaksaraan juga dapat
memberikan kontribusi terhadap proses pemberdayaan sosial ekonomi.
Demikian pula, dalam penelitian yang dilakukan oleh Lind (1996) di
Namibia memperoleh informasi, bahwa orang dewasa ingin memeroleh
kesadaran diri dan mengendalikan situasi kehidupan sehari-hari. Jalal et al
(2005), menyatakan bahwa pendidikan keaksaraan dapat meningkatkan
angka keaksaraan di antara orang dewasa memiliki manfaat yang signifikan
terhadap peningkatan harapan hidup.
Politik. Program keaksaraan dapat meningkatkan partisipati politik dan
selanjutnya memberikan kontribusi terhadap kualitas kebijakan publik dan
demokrasi. Hannum dan Buchmann (2003), menyatakan adanya hubungan
antara pendidikan dan partisipasi politik. Artinya, masyarakat terdidik lebih
bersikap toleran dan memiliki nilai-nilai demokratis. Partisipasi masyarakat
dalam program keaksaraan juga berkorelasi dengan meningkatnya partisipasi
dalam kegiatan masyarakat dan politik. Orang dewasa dalam program keaksaraan
di Amerika Serikat dilaporkan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi
terhadap pembangunan masyarakat dan meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam pemilihan umum (Becker et al, 1976). Lulusan program keaksaraan
di Kenya lebih banyak berpartisipasi dalam pemilihan umum dan lembaga
pedesaan dibandingkan dengan mereka yang buta huruf (Carron et al, 1989).
Perluasan pendidikan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan
demokrasi. Penelitian the International Association for the Evaluation of
Educational Achievement (IEA), mengatakan kelas yang dikelola secara
demokratis merupakan sarana paling efektif dalam mengembangkan
pengetahuan kewarganegaraan dan keterlibatan peserta didik bermusyawarah
dalam pengambilan keputusan.
. Program multikeaksaraan juga
memiliki manfaat positif terhadap perdamaian dan rekonsiliasi masyarakat
pascakonflik. Dalam laporan yang disampaikan oleh Pro-Literacy Worldwide
(2004), dinyatakan, bahwa organisasi kemasyarakatan di Kolumbia
menyelenggarakan program keaksaraan di Medellin, menggunakan pendekatan
26
Naskah Akademik
6. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Pengertian ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) adalah berbagai
cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan
yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
menyeluruh, atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi
kesejahteraan masyarakat, kemajuan bangsa, keamanan dan ketahanan
bagi perlindungan negara, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pelestarian
nilai luhur budaya bangsa, serta peningkatan kehidupan kemanusiaan
(UU No. 18 Tahun 2002).
Dalam konteks penerapan program pendidikan multikeaksaraan, cakupan
IPTEK dimaksud meliputi:
a. Literasi teknologi
b. Pengetahuan umum
c. Teknologi tepat guna
d. Literasi keuangan*
e. Mitigasi Bencana
C. Manajemen Pelaksanaan
1. Peserta Didik – Kelompok Belajar
Peserta didik, adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran pada program pendidikan
multikeaksaraan. Dalam pembelajaran multikeaksaraan peserta didik
berhimpun dalam kelompok belajar. Kelompok belajar multikeaksaraan,
adalah sekumpulan warga masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri dan saling membelajarkan pengalaman dan kemampuan
dalam rangka meningkatkan mutu dan taraf kehidupannya.
Kelompok belajar multikeaksaraan menyelenggarakan pendidikan bagi
warga masyarakat untuk: (1) memperoleh kemampuan pada dimensi sikap
dengan dimilikinya perilaku dan etika yang mencerminkan sikap orang
beriman dan bertanggung jawab menjalankan peran dan fungsi dalam
kemandirian berkarya di masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup;
(2) memiliki kemampuan pada dimensi pengetahuan berupa penguasaan
pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tentang pengembangan
peran dan fungsi dalam kehidupan di masyarakat dengan memperkuat
cara berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan berhitung untuk
meningkatkan kualitas hidup; dan (3) mengembangkan kemampuan
Pendidikan Multikeaksaraan
35
menata kelakuan dalam mengatur kehidupan bersama yang dilakukan
secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Dalam konteks penerapan program pendidikan multikeaksaraan, cakupan
pengembangan seni budaya dimaksud meliputi:
a. Kearifan budaya lokal, tradisi, bahasa ibu, dan tatakrama*
b. Seni tari
c. Seni suara
d. Cerita rakyat
e. Permainan tradisional
4. Sosial, Politik, dan kebangsaan
Pengertian sosial, politik, dan kebangsaan dalam konteks ini, adalah
wahana strategis untuk membangun kesadaran kolektif (collective
conscience) sebagai warga bangsa yang dapat mengukuhkan ikatan-ikatan
sosial dengan tetap menghargai keragaman budaya, ras, suku-bangsa,
dan agama, sehingga dapat memantapkan keutuhan nasional yang
berlandaskan wawasan kebangsaan.
Dalam konteks penerapan program pendidikan multikeaksaraan, cakupan
sosial, politik, dan kebangsaan dimaksud meliputi:
a. Organisasi dan Kelembagaan
b. Perdamaian
c. Wawasan kebangsaan*
d. Cinta tanah air
e. HAM
5. Kesehatan dan Olah Raga
Pengertian kesehatan dan olahraga, adalah upaya menjaga kesehatan diri
dan lingkungan guna meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat
kesehatan sedini mungkin dengan memanfaatkan aktivitas fisik agar
memperkuat daya tahan tubuh dan kebugaran yang diperlukan untuk
melakukan berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks penerapan program pendidikan multikeaksaraan, cakupan
kesehatan dan olah raga dimaksud meliputi:
a. Kesehatan Lansia*
b. Kesehatan diri
c. Kesehatan Lingkungan
d. Olahraga tradisional
e. Kesegaran jasmani
34
Naskah Akademik
teks, di mana peserta didik menulis teks berdasarkan pada pengalamannya
sendiri. Peserta didik sebanyak 900 laki-laki dan perempuan. Mereka
bermigrasi ke Medellin dari daerah pedesaan yang diakibatkan oleh konflik
angkatan bersenjata, berpartisipasi dalam projek keaksaraan orang dewasa yang
kuncinya adalah pendidikan perdamaian dan pendidikan kewarganegaraan.
Dengan memobilisasi kapasitas masyarakat untuk kesadaran, peserta didik
menulis pengalamannya sendiri dan berbagi pengalaman dengan orang lain
ternyata dapat membantu mereka untuk mengatasi trauma dan mengubah
mereka untuk melakukan tindakan konstruktif (Hanemann, 2005).
Budaya. Program keaksaraan dapat memfasilitasi transmisi nilai-nilai dan
sekaligus mengembangkan transformasi nilai-nilai, sikap dan perilaku
melalui refleksi kritis. Mereka juga memberikan akses terhadap budaya tulis,
di mana aksarawan baru dapat menggali secara mandiri terhadap orientasi
kulturalnya ketika mengikuti program keaksaraan. Karena itu, program ini
menjadi instrumen dalam memelihara dan mengembangkan keterbukaan
dan keragaman budaya. Dalam konteks itu, pendidikan keaksaraan dapat
mengembangkan pola-pola sikap dan perilaku kultural peserta didik.
Jenis pendidikan keaksaraan yang menggunakan pendekatan transformasi
budaya ini merupakan pendekatan yang digunakan oleh Paulo Freire yang
bertujuan untuk mengembangkan kecakapan refleksi kritis. Pendekatan
ini juga digunakan oleh Mezirow (1996) dengan menerapkan pendekatan
experiental learning atau learning by doing. Pendidikan multikeaksaraan
ini, juga bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai kesetaraan, inklusi,
menghormati keragaman budaya, perdamaian, dan demokrasi.
Sosial. Pendidikan multikeaksaraan dapat berperan dalam meningkatkan
kemampuan masyarakat menjaga kesehatan yang baik dan mutu kehidupan,
belajar sepanjang hayat, mengendalikan perilaku reproduksi, dan mengasuh
anak. Di samping itu, meningkatnya tingkat keaksaraan juga memiliki
Pendidikan Multikeaksaraan
27
manfaat sosial sangat besar, seperti peningkatan harapan hidup, penurunan
angka kematian anak, dan peningkatan kesehatan anak.
Penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi manfaat pendidikan
keaksaraan terhadap kesehatan menunjukkan mandat yang sama seperti
dalam pendidikan pada umumnya dan dalam beberapa kasus, manfaatnya
lebih besar dibandingkan dengan pendidikan pada umumnya. Misalnya,
penurunan tingkat kematian bayi. Hal ini ditunjukkan dalam penelitian
pada ibu-ibu di Nikaragua yang berpartisipasi dalam kampanye keaksaraan
orang dewasa dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikutinya, dan
penurunan tingkat kematian itu lebih besar pada mereka yang melek huruf
melalui pendidikan keaksaraan dibandingkan dengan mereka yang melek
huruf melalui pendidikan di sekolah dasar (Sandiford et al, 1995). Penelitian
kualitatif di Nigeria menemukan, bahwa keaksaraan memengaruhi budaya
masyarakat yang pada gilirannya memengaruhi kesehatan (Egbo, 2000).
Keaksaraan juga memiliki manfaat di bidang peningkatan pendidikan
masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan kenyataan, bahwa orang tua yang
berpendidikan, baik melalui pendidikan sekolah atau program pendidikan
orang dewasa, lebih banyak menyekolahkan anak mereka dan lebih mampu
membantu anak-anak dalam mengikuti pendidikan.
Ekonomi. Pendidikan secara konsisten terbukti menjadi faktor penentu
pendapatan individu, di samping pengalaman profesional. Ini berarti bahwa
multikeaksaraan memiliki dampak positif pada pendapatan seseorang.
Penelitian tentang hubungan antara keaksaraan dan pertumbuhan ekonomi,
menurut Barro (1991), yang menggunakan data lintas negara pada tahun
1960-1985, menemukan bahwa tingkat keaksaraan orang dewasa, serta tingkat
partisipasi sekolah, memiliki dampak positif pada pertumbuhan ekonomi.
Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian Bashir dan Darrat (1994),
yang menemukan hubungan yang sama pada periode yang sama di tiga puluh
dua negara berkembang.
28
Naskah Akademik
1. Keagamaan
Pengertian keagamaan dalam konteks ini, adalah suatu sistem yang
mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa
serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia, manusia
dengan lingkungannya yang terkait oleh ajaran agama dan Kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam konteks penerapan program pendidikan multikeaksaraan, cakupan
keagamaan dimaksud meliputi:
a. Rasa syukur dan keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa
b. Sikap jujur
c. Komitmen untuk membangun kebersamaan dalam kehidupan
bermasyarakat
2. Pekerjaan, Keahlian, dan profesi
Pekerjaan adalah suatu aktivitas antar-manusia untuk saling memenuhi
kebutuhan dengan tujuan tertentu. Tujuan tertentu yang dimaksudkan
di sini adalah memperoleh uang. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan
pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan dan keterampilan
tingkat menengah diklasifikasikan sebagai keahlian. Sedangkan profesi
adalah pekerjaan yang menuntut kompetensi tingkat tinggi serta
pengakuan keprofesian.
Dalam konteks penerapan program pendidikan multikeaksaraan, cakupan
pekerjaan, keahlian, dan profesi dimaksud meliputi bidang:
a. Tata Boga
b. Kesehatan
c. Pendidikan
d. Jasa
e. Pertanian*
f. Kelautan
g. Kehutanan
h. Peternakan
i. Perikanan
3. Pengembangan Seni dan Budaya
Pengertian pengembangan seni dan budaya, adalah segala sesuatu
ciptaan manusia yang berkembang bersama pada suatu kelompok yang
mengandung unsur kebiasaan, norma, dan keindahan (estetika) untuk
Pendidikan Multikeaksaraan
33
kompetensinya. Perbedaan antara hasil identifikasi dari para pakar dan
tingkat kompetensi yang dimiliki oleh para profesional itu menjadi dasar
untuk memilih isi pendidikan dan pengembangan rancangan peserta didik.
Prosedur yang digunakan adalah, sebagai berikut: (a) mengembangkan
model kompetensi. Ini dapat dikembangkan melalui data yang diperoleh
dari penelitian, pendapat pakar, analisis tugas, dan partisipasi kelompok;
(b) asesmen tingkat kinerja sekarang. Ini dapat dilakukan melalui kegiatan
diagnosis diri sendiri untuk memperoleh informasi yang akurat. Satu hal
yang perlu diperhatikan adalah mendorong peserta didik agar merasa bebas
di dalam menilai kemampuan diri sendiri; dan (c) asesmen kebutuhan
belajar. Ini dilakukan dengan cara mengakses kesenjangan antara model
perilaku yang diinginkan dengan tingkat kinerja yang dimiliki.
6. Percakapan informal. Pendidik orang dewasa umumnya memiliki
kegiatan harian, mereka banyak kontak dan berkomunikasi dengan
peserta didik dan koleganya. Kontak tersebut dapat memberi masukan
berkenaan dengan kebutuhan belajar peserta didik. Kebutuhan belajar
yang diidentifikasi dengan cara ini dapat diklarifikasi dan dispesifikasi
dengan cara membicarakannya dengan orang-orang tertentu seperti
pemimpin masyarakat dan orang lain yang memiliki kepedulian terhadap
program. Pendidik itu sebaiknya menjadi pendengar yang baik di dalam
masyarakat karena masyarakat kadang-kadang mendiskusikan isu-isu atau
berbagai masalah yang sedang dihadapi. Kegiatan ini apabila dilakukan
dengan sungguh-sungguh akan memperoleh manfaat yang sangat besar.
Di dalam pelatihan, misalnya, reaksi dari peserta didik, kotak saran yang
disediakan di luar ruang pelatihan, pertanyaan yang muncul selama
pelatihan merupakan reaksi yang dapat menggambarkan kebutuhan
belajar peserta didik.
B. Area Program Pendidikan Multikeaksaraan
Cakupan area program pendidikan multikeaksaraan, adalah bersumber dari
konteks lokal, agar peserta didik mampu memahami dan mendayagunakan
sumberdaya lokal untuk digunakan sebagai sarana memperoleh pengetahuan,
membentuk sikap dan mengembangkan keterampilan. Area program yang
dapat dijadikan materi pembelajaran dalam pendidikan multikeaksaraan,
adalah merujuk pada konteks lokal dan tuntutan kebutuhan lokalitasnya itu
sendiri untuk meningkatkan kualitas peran dalam kehidupan yang lebih luas.
Hal itu sebagaimana dinyatakan di bawah ini.
32
Naskah Akademik
BAB IV
PROGRAM PENDIDIKAN
MULTIKEAKSARAAN
A. Asesmen Kebutuhan Belajar
Kebutuhan belajar bagi manusia merupakan suatu konsep yang kompleks,
penting, dan memiliki implikasi jauh ke depan dalam perancangan peserta
didik terutama bagi orang dewasa. Kebutuhan belajar merupakan suatu
kondisi antara apa yang senyatanya dan apa yang seharusnya, atau apa yang
senyatanya dan apa yang diinginkan (Knowles, 1980). Kebutuhan belajar
merupakan pendorong perilaku sehingga menciptakan keadaan tidak
seimbang. Jadi, kebutuhan belajar dapat mencerminkan ketidakseimbangan
atau kesenjangan antara situasi yang ada dan keadaan yang seharusnya dan
baru atau perubahan seperangkat kondisi yang diasumsikan menjadi lebih
diinginkan. Dalam konteks pendidikan, kebutuhan belajar dapat bersifat
nyata yang diekspresikan melalui bentuk pengetahuan, sikap, keterampilan,
dan perilaku peserta didik.
Boyle (1981), menyusun formula dalam rangka mengidentifikasi kebutuhan
belajar manusia dengan menggunakan kerangka kerja perbandingan.
yakni situasi sekarang dengan apa yang seharusnya, yakni
kondisi yang diinginkan. Hasil dari perbandingan itu kemudian menjadi
deskripsi tentang kesenjangan atas pemenuhan kebutuhan. Kaufman (1971)
menyatakan, bahwa kebutuhan belajar merupakan kesenjangan antara
berada dimanakah kita sekarang (where are we now) dan berada di manakah
kita seharusnya (where are we to be). Identifikasi kebutuhan belajar, berarti
menspesifikasi kesenjangan antara dua arah tersebut. Kegiatan ini sangat
kritis untuk memperoleh rancangan pendidikan yang baik, sehingga data
yang diperoleh dalam identifikasi itu harus benar-benar sahih (valid) dan
representatif.
Ritter (Long, 1983) memandang kebutuhan dan tujuan memiliki acuan yang
sama, namun penggunaannya berbeda, untuk membedakan antara kondisi
lingkungan yang menentukan arah interaksi seseorang dengan lingkungannya
Pendidikan Multikeaksaraan
29
(tujuan) dan fokus penentuan arah personal (kebutuhan). Lebih jauh Ritter
menyatakan, tujuan merupakan penguatan dari lingkungan untuk memenuhi
perilaku yang diarahkan secara personal yang diidentifikasi sebagai kebutuhan.
Perilaku, kebutuhan, dan tujuan seseorang adalah tidak bersifat independen,
namun ketiganya menjadi bagian dari sistem yang terkait secara fungsional.
Oleh karena itu, istilah kebutuhan dapat disamakan dengan motif.
Kebutuhan yang masih bersifat potensial itu mungkin menjadi lemah atau
kuat sesuai dengan dua komponen utama, yaitu nilai kebutuhan dan harapan.
Dari kedua nilai itu, nilai harapan merupakan komponen yang mengubah
kekuatan kebutuhan untuk dipenuhi (Long, 1983). Misalnya, peserta didik
memiliki harapan tinggi untuk memperoleh tujuan yang dinilai tinggi
meningkatkan potensi kebutuhan belajar dan perilaku untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Sebaliknya, peserta didik yang memiliki harapan rendah
untuk memeroleh tujuan yang dinilai rendah akan menghasilkan potensi
kebutuhan yang rendah, dan perilaku peserta didik dalam belajar tidak akan
konsisten. Demikian pula adanya situasi yang rumit dan individu memiliki
harapan sedang terhadap tujuan yang dinilai tinggi, perilaku peserta didik itu
akan bersifat ambivalen.
Kebutuhan belajar memiliki tiga unsur pokok. Pertama, serangkaian perilaku
yang diarahkan pada tujuan yang sama atau tujuan yang sama yang berkaitan.
Perilaku ini disebut kebutuhan belajar potensial. Istilah ini mengacu pada
kekuatan potensial perilaku tertentu, yakni kemungkinan potensi itu muncul
dalam situasi tertentu. Kedua, berkaitan dengan harapan, bahwa perilaku
tertentu mengarahkan pada hasil yang berharga bagi individu. Ketiga,
nilai yang melekat pada tujuan itu sendiri, yakni derajat kesukaan individu
terhadap salah satu dari berbagai tujuan yang dicapai.
Kebutuhan belajar dalam pendidikan, adalah segala sesuatu yang harus
dipelajari oleh peserta didik untuk kebaikannya sendiri, untuk kebaikan
organisasi, ataupun untuk kebaikan masyarakat. Kebutuhan belajar itu
merupakan kesenjangan antara tingkat kompetensi sekarang dan tingkat lebih
tinggi yang diperlukan bagi kinerja yang efektif seperti yang ditetapkan oleh
dirinya sendiri. Kebutuhan belajar dalam pendidikan merupakan kesenjangan
antara apa yang diinginkan oleh peserta didik, organisasi ataupun masyarakat
dengan apa yang mereka miliki. Makin konkret individu mengidentifikasi
aspirasi dan mengakses tingkat kompetensinya, makin tepat pula mereka
menetapkan kebutuhan pendidikannya, dan makin intensif pula mereka
30
Naskah Akademik
termotivasi untuk belajar. Kemudian, makin sesuai kebutuhan belajar
individu dengan aspirasi organisasi dan masyarakatnya, makin efektif pula
kegiatan belajar yang ada di masyarakat.
Unsur penting yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam mengidentifikasi
kebutuhan belajar, adalah keterampilan dan kepekaan dalam membantu
kelompok masyarakat dalam mengakses kebutuhan pendidikan individu,
organisasi dan masyarakat; menegosiasikan berbagai kesesuaian kebutuhan
tersebut, kemudian merangsang penerjemahan kebutuhan belajar kedalam
minat. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa kebutuhan belajar merupakan
kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa yang telah dimiliki. Setiap
peserta didik mengikuti didikan baru telah membawa berbagai macam
kebutuhan belajar, dan setiap peserta didik memiliki kebutuhan belajar yang
berbeda-beda.
Untuk mengetahui keragaman kebutuhan belajar itu, diperlukan asesmen
dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Asesmen kebutuhan belajar
dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa di antaranya adalah, sebagai
berikut:
1. Dari peserta didik. Banyak peserta didik yang menyadari kebutuhan belajar
untuk pengembangan dirinya. Beberapa teknik dapat digunakan antara
lain: (1) kuesioner proyektif, yakni meminta responden memproyeksikan
dirinya ke dalam situasi tertentu dan menyatakan apa yang mereka
rasakan; dan (2) kuesioner melengkapi kalimat, yakni meminta responden
melengkapi kalimat yang telah disediakan.
2. Dari orang-orang yang membantu peserta didik. Cara ini dapat dilakukan
dengan cara mewawancarai atau memberikan kuesioner kepada penilik,
pendidik, atau penyelenggara program keaksaraan.
3. Dari media massa. Cara ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji penting yang ada di dalam media massa.
4. Dari hasil survai masyarakat. Cara ini dapat dilakukan dengan cara
mengkaji hasil survai yang berkaitan dengan kondisi masyarakat atau
organisasi, sehingga dapat ditemukan kebutuhan belajar individu.
5. Model kompetensi. Model ini acapkali digunakan sebagai dasar untuk
merancang program bagi para profesional. Model ini menggunakan
informasi dari para pakar di bidang-bidang tertentu untuk mengidentifikasi
kompetensi minimum atau kompetensi yang diharapkan untuk dimiliki
oleh para profesional. Peserta didik diuji untuk menentukan tingkat
Pendidikan Multikeaksaraan
31
Download