TUGAS KELOMPOK MATAKULIAH KAJIAN MEDIA Dosen : Dr. Eny

advertisement
TUGAS KELOMPOK
MATAKULIAH KAJIAN MEDIA
REVIEW BUKU BAB 1 AND 2
MEDIATING THE MESSAGE: THEORIES OF INFLUENCES
ON MASS MEDIA CONTENT
(Oleh Pamela J Shoemaker and Stephen D Reese,
New York : Longman Publisher, Edisi ke-2, 1991)
Dosen :
Dr. Eny Maryani, M.Si
Disusun Oleh :
Gun Gun Heryanto (NPM: 170230087002)
Aep Wahyudin (NPM: 170130087006)
Abdul Halik (NPM: 170130087010)
Qadaruddin (NPM: 170130087011)
Enjang (NPM: 170130087013)
PROGRAM DOKTOR ILMU KOMUNIKASI
UNPAD BANDUNG
TAHUN 2009
BAB I
STUDI PENGARUH DALAM ISI MEDIA
Buku “Mediating The Message” karya Pamela J Shoemaker dan Stephen D Reese ini merupakan buku mengenai isi
media dan berbagai pengaruh yang membentuknya. Perspektif yang digunakan berbeda dari pandangan umum yang
kerap digunakan dalam buku-buku mengenai penelitian komunikasi massa, yang cenderung menggunakan isi media
sebagai point permulaan. Beberapa studi biasanya bertanya: melalui proses apa pesan diterima dan dipahami oleh
audiens? Dampak apa saja yang ditimbulkan media bagi audiens? Dengan mengambil fokus pada isi media, Pamela dan
Reese mempertanyakan: apa saja faktor-faktor inside dan outside dari organisasi media yang mempengaruhi isi media?
Fakta dimana kita mempertanyakan hal ini menunjukkan, bahwa kita tidak mengasumsikan isi media massa dapat
merefleksikan sebuah realitas obyektif. Hal ini tentunya, tidak mencerminkan dunia di sekitar kita. Lebih dari itu, isi
media dibentuk oleh sejumlah faktor yang menghasilkan beragam versi berbeda mengenai realitas.
Gambar 1.1 Kebanyak buku mengenai riset media massa secara umum meliputi studi tentang proses
melalui mana audiens menerima isi media atau tentang efek media bagi seseorang atau masyarakat.
Kita percaya bahwa hal ini juga sama-sama penting untuk memahami pengaruh-pengaruh yang
membentuk isi media.
STUDI PENGARUH ISI
STUDI PROSES DAN EFEK
Pepngaruh
Isi Media
Effect Media
Isi media
Massa Sbg
Massa Bagi
Hal yang ditransmisikan
Seseorang atau
Kepada Khalayak
Masyarakat
Dampak media baik program hiburan maupun berita dan segala aspek informasi berkenaan dengan isi media telah
dipelajari secara luas. Sebagai contoh, penelitian telah mengamati kekerasan yang ditampilkan televisi membuat anak
lebih agresif dan begitu pula proyeksi hasil Pemilu Presiden oleh jaringan televisi berita membuat warga pantai Barat di
AS menjadi kurang minat memilih. Berbagai Hal tersebut, menjadi wilayah studi yang menarik, tetapi kita mengajukan
pertanyaan lebih penting lagi: “mengapa jaringan televisi memproduksi program yang bisa membuat anak-anak lebih
agresif? Mengapa jaringan berita menunjukkan resiko rendahnya pemilih di California? Jawaban-jawabannya, kita
percaya, terdapat dalam faktor-faktor perilaku dan orientasi personal dari para pekerja media, professionalisme,
kebijakan perusahaan, pola kepemilikan perusahaan, lingkungan ekonomi, pengiklan, dan pengaruh-pengaruh ideologi.
BEBERAPA DEFINISI
Mari kita mulai dengan pendefinisian apa yang dimaksud dengan isi media. Melalui content, kita memahaminya
sebagai susunan kuantitatif dan kualitatif yang lengkap mengenai informasi verbal dan visual yang didistribusikan oleh
media massa.
Dengan kata lain, isi media merupakan apapun yang muncul di media. Tingkat kuantitatif informasi meliputi
atribut-atribut isi media yang dapat diukur dan dihitung- sebagai contohnya, jumlah detik dalam berita televisi, atau
jumlah inci kolom di sebuah surat kabar. Kita juga dapat menghitung beberapa hal sebagai sejumlah cerita di suratkabar
dalam rentang waktu tertentu, sejumlah perempuan yang muncul di iklan mobil, sejumlah situasi komedi penyiaran
dalam 10 tahun terakhir, sejumlah photo majalah yang menunjukkan para Senator Amerika, atau sejumlah waktu pada
bagian—bagian dimana penyiar berita olahraga menunjukkan pemain sepakbola kulit hitam.
Ukuran-ukuran tadi dapat menyediakan informasi penting mengenai jumlah liputan dan beberapa sisi yang
menjadi prioritas. Tetapi, mereka tidak dapat menjelaskan pada kita seperti apa liputan itu terjadi—kualitatiflah yang
mencirikan isi. Dua suratkabar mungkin memiliki jumlah inci yang sama persis mengenai berita tentang Israel tetapi
menyediakan substansi sajian berita yang sangat berbeda mengenai apa yang terjadi di negara itu. Pengetahuan tentang
berapa sering seorang penyiar berita olahraga menunjuk atlet kulit hitam tidak dapat menjelaskan apakah liputan
tersebut merefleksikan kejujuran atau prasangka. Mengukur ciri-ciri kualitatif dari isi media sangatlah sulit, tetapi hal ini
kerapkali jauh lebih membuka pikiran daripada pengamatan data kuantitatif semata.
Banyak ilmuan sosial yang studi tentang media berperhatian pada konsep yang rumit tentang obyektivitas.
Seberapa dekat media menghadirkan realitas obyektif? Masalahnya, tentu saja, tidak ada yang dapat menjadi observer
obyektif dari realitas. Semua kita menggunakan pengalaman, kepribadian dan pengetahuan kita untuk menafsirkan apa
yang kita lihat. Hal terbaik yang dapat kita lakukan kemudian adalah membandingkan realitas media dengan realitas
sosial—sebuah pandangan yang diarahkan secara sosial, inilah cerminan dari apa yang masyarakat ketahui mengenai
dirinya (Fishman, 1980).
KEKAYAAN HISTORIS PENELITIAN
Sosiologi Media
Istilah Sosiologi Media kadang-kadang diterapkan pada studi yang melihat pengaruh-pengaruh isi media, meski
tidak selalu dalam fakta sosiologis. Sejumlah peneliti yang sebelumnya mengkaji efek media, termasuk Shoemaker dan
Reese, sekarang dalam pengamatanya lebih pada pertanyaan mengapa sejumlah efek isi produksi ada dan mulai
berpengaruh. Meskipun penelitian yang berkenaan dengan penjelasan isi media telah ada sejak permulaan abad ini,
penyelidikan ilmiah terhadap pengaruh-pengaruh dalam isi media tidaklah berkembangluas hingga setelah PD II. Studistudi modern dimulai oleh sugesti David Manning White (1950) yang menyatakan bahwa jurnalis bertindak sebagai
gatekeeper pesan media. Dimana mereka menyeleksi mulai dari berbagai kejadian dalam sehari yang akan menjadi
“berita”. Tokoh lain adalah Warren Breed, yang mendeskripsikan bagaimana sosok jurnalis menjadi tersosialisikan ke
pekerjaannya. Sejak itu, sejumlah studi yang fokus pada kajian pekerja media dan para karyawan mereka, sebaik kajian
tentang struktur organisasi dan masyarakat, mempengaruhi isi media. Meskipun sejumlah studi telah berkembang,
hanya sedikit yang memberi perhatian pada hubungan teoritis antara mereka.
Pendekatan Hipotesis
Studi tentang isi yang terlahir 40 tahun terakhir ini telah menyediakan secara substansial lebih banyak data
daripada teori, khususnya sebagai perbandingan dengan studi yang diarahkan pada sisi “efek” sebagaimana tergambar
di gambar 1.1. Sangat sedikit studi yang mendefinisikan dan menguji teori secara spesifik. Peneliti biasanya
mengemukakan deskripsi singat apa yang mereka harapkan untuk menemukan dan menguji satu atau lebih hipotesis,
atau hubungan diantara dua atau lebih variabel yang mensifati beberapa fenomena.
Sebagai contoh sebuah hipotesis: semakin kuat bobot berita sebuah kejadian, semakin akan diliput oleh media
massa secara terkenal. Ada dua variabel dalam contoh ini, yakni event newsworthiness dan coverage prominence. Kedua
variabel itu dapat dihitung. Hipotesis memprediksi bahwa kejadian-kejadian yang secara kuat memiliki bobot berita akan
menerima liputan yang populer, di halaman muka surat kabar atau di permulaan pembacaan berita. Berita yang hanya
memiliki bobot menengah akan tetap diliput, tetapi hanya di halaman dalam surat kabar atau di bagian tengah
pembacaan berita, sementara kejadian yang rendah bobot beritanya tidak akan diliput oleh seluruh media massa.
Perspektif Teoritis
Para sarjana telah membagi penelitian tentang isi media dalam berbagai perspektif teoritis. Gans (1979) dan Gitlin
(1980) mengelompokkan pendekatan-pendekatan ini ke dalam beberapa kategori, yakni:

Isi merefleksikan realitas sosial dengan sedikit distorsi atau tidak ada distorsi. Pendekatan cermin (the
mirror approach) untuk penelitian isi media ini berasumsi bahwa media massa menyampaikan refleksi
yang akurat mengenai realitas sosial kepada khalayak. Pendekatan efek null (The null effects approach)
secara sama menyatakan bahwa isi media merefleksikan realitas, tetapi realitas-realitas isi media yang
dimaksud dilihat sebagai hasil kompromi antara pihak yang menjual informasi kepada media dan siapa
yang membelinya; kekuatan-kekuatan ini bertentangan satu dengan yang lainnya dan memproduksi
suatu laporan kejadian yang objektif.

Isi dipengaruhi sosialisasi dan sikap para pekerja media. Pendekatan yang berpusat pada komunikator
(communicator centered) menyatakan bahwa faktor-faktor intrinsik psikologis dari personel
komunikasi, seperti profesionalitas mereka, personal, dan sikap-sikap politik serta pelatihan
komunikator profesional, mempengaruhi mereka dalam memproduksi suatu realitas sosial yang sesuai
dengan norma-norma kelompok-kelompok sosial, dan dengan mana ide-ide dan perilaku baru
diperlakukan sebagai keanehan yang tidak diinginkan.

Isi dipengaruhi rutinitas media. Pendekatan rutin organisasional menyatakan bahwa isi media
dipengaruhi oleh cara pekerja media dan organisasi perusahaan menyusun pekerjaan. Para reporter
berita diajarkan untuk menulis berita dalam bentuk piramida terbalik, sebagai contoh meletakkan
informasi apa yang dianggap sangat penting disampaikan pertama kali dan disusun menurun
berdasarkan nilai pentingnya berita, dan oleh karenanya para jurnalis menentukan isi berita.

Isi dipengaruhi oleh institusi dan kekuatan sosial lainnya. Pendekatan ini menyatakan bahwa faktorfaktor eksternal dari komunikator dan organisasi—kekuatan ekonomi dan budaya, serta audiens—
mempengaruhi isi. Pendekatan pasar ini, sebagai contoh, menempatkan pengaruh hasrat komunikator
untuk memberi kepada audiens apa yang mereka ingin peroleh untuk meyakinkan khalayak luas bagi
produk sponsor; pendekatan tanggung jawab sosial menempatkan pengaruh komunikator untuk lebih
memberi audiens apa yang mereka butuhkan daripada apa yang mereka inginkan.

Isi merupakan fungsi posisi ideologis dan pengaturan status quo. Hegemoni adalah suatu pendekatan
teoritis yang mengakui bahwa isi media dipengaruhi oleh ideologi yang memiliki kekuatan dalam
masyarakat.
BAB II
DI BALIK PROSES DAN EFEK
Kebanyakan buku-buku teori komunikasi massa berkonsentrasi pada proses melalui mana pesan-pesan diterima
dan dipahami oleh audiens, dan mengenai efek dari pesan-pesan yang mungkin diproduksi. Dalam hal ini, pesan itu
sendiri dalam istilah ilmu sosial adalah variabel independen, atau penyebab. Efek pesan-pesan tersebut baru kemudian
dinggap sebagai variabel dependen. Dalam buku ini Shoemaker juga Reese mendefinisikan pesan-pesan itu sebagai suatu
variabel dependen. Isi media, dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal organisasi media.
FOKUS TRADISIONAL PENELITIAN KOMUNIKASI
Shoemaker & Reese mengelompokkan penelitian berdasarkan dua dimensi: level analisis, dan apa yang
dikaji.
Level Analisis
Level analisis dalam penelitian komunikasi dapat dipandang sebagai pembentukan suatu garis kontinum
dari mikro ke makro—dari unit terkecil pada sebuah sistem ke unit yang terluas. Studi level mikro menguji
komunikasi sebagai suatu aktivitas tersusun yang mempengaruhi individu seseorang; studi level makro
menguji struktur sosial di balik kontrol seseorang—jaringan sosial, organisasi, dan budaya. Level-level itu
berfungsi hirarkis: apa yang terjadi di level bawah dipengaruhi oleh apa yang terjadi di level lebih tinggi.
Apa yang Dipelajari ?
Satu diantara catatan paling awal dan kerapkali dicatat sebagai cara penggambaran proses komunikasi
telah dikemukakan oleh Harold Lasswell (1948), yang mengajukan kerangka : siapa mengatakan apa melalui
saluran apa kepada siapa dengan dampak apa. Studi komunikasi massa telah menguji elemen-elemen
tersebut: komunikator (who), isi media (says what), medium (through wich channel) audiens (to whom) dan
efek (with what effect). Akan tetapi kebanyakan studi terkonsentrasi dalam dua elemen terakhir yakni audiens
dan efek.
Banyak studi yang fokus pada lebih dari satu komponen, tetapi ada juga yang lebih fokus pada satu hal
melebih perhatiannya pada yang lain. Guna memahami bagaimana hal ini bekerja, mari kita pahami sebuah
studi klasik tentang voting yang dipelopori oleh Paul Lazarsfeld dan koleganya di Erie County, Ohio, pada tahun
1949 (Lazarsfeld, Berelson, & Gaudet, 1948). Tiga ribu warganegara telah diwawancarai mengenai kesadaran
voting mereka, karakteristik pribadi, dan perhatian yang mereka berikan terhadap suratkabar serta pesan
radio mengenai bagian kampanye politik. Para peneliti menyimpulkan, bahwa pesan media telah meneguhkan
(tetapi tidak menentukan) carapandang politik masyarakat. Karakteristik anggota audiens ditemukan
menentukan minat terhadap kampanye, dan anggota audiens ditemukan telah menggunakan media secara
selektif untuk menyaring pesan politik yang bersebrangan terhadap sikap politiknya yang sudah ada. Dalam
studi ini sebagaimana banyak juga yang lain, sejumlah komponen telah terlibat (“mengatakan apa”—pesan
kampanye; “melalui saluran apa”—radio dan suratkabar; “kepada siapa”—pemilih; “dengan efek apa”—
peneguhan); bagaimanapun fokus utamanya adalah audiens.
Jika kita gunakan kerangka dan faktor-faktor dari Lasswell ke dalam dimensi level analisis kita, maka kita
dapat membangun sebuah matrix yang menempatkan landmark (petunjuk) studi komunikasi tahun-tahun
sebelumnya. Jelasnya, sejumlah studi terluas (dan dianggap paling berpengaruh) jatuh di kuadran kanan atas
dari matrix-di bawah kolom “to whom” dan “with what effect” serta dalam baris mikro atau individual.
Studi yang kita gunakan dalam gambar 2.1 diidentifikasi oleh Shearon Lowery dan Melvin DeFleur dalam
buku mereka, “Milstones in Mass Communication Research” (1983, 1988, 1995). Catatan, bahwa meskipun
banyak studi makro yang implikasi teoritisnya terhubung dengan problem masyarakat luas, studi-studi itu
diarahkan pada analisis level individual; kita menggunakan pengukuran variabel yang secara nyata dikerjakan
dalam studi, bukan level penteorian mereka, yang menempatkan mereka dalam matrix kita. Hanya tiga dari
studi-studi tersebut yang menguji isi media. Mari kita amati beberapa studi singkat “Milestone” tadi.
SIAPA
(Komunikator)
Mengatakan apa
Melalui Saluran apa
(Isi Media)
Mikro
(individual )
Kepada siapa
Dengan Efek apa
(Audiens)
(Efek)
*The Payne fund studies : motion pictures and
youth, 1933
*The invasion from
* Seduction of the
innocent, 1954
* Violence and the
media, content
analysis,1969
* Television and Social
Behaviour: Media
Content and Control,
1971.
* Television and
Behavior, 1982
Mars, 1940
* Hovland’s
Experiments In mass
Communication,1949
*Radio Research
1942-1943
* Communication and
Persuasion,1953
*The Diffusion of
* Television and Social
Hybred Seed Com,1943 Behavior, 1971
*The People’s Choice, * Television
1948
Behavior, 1982
* Personal Influence 1955
*Television in the Lives * Television and
Of Our Children, 1961
Behavior, 1982
* Violence and the Media,
Audience Survey 1969
* Television and
Social Behavior. 1971
--TV in Day-to-Day Life
Makro/ Sistem
Sosial
* The Flow of the
information, 1948
* The Agenda Setting
Function of the Mass
Media, 1972
Gambar 2.1. Pendekatan Matrik untuk Penggambaran “Miliestone dalam Riset Komunikasi Politik”.
STUDI-STUDI UTAMA KOMUNIKASI
Isi Media
Lowery dan DeFleur mengidentifikasi 3 landmark studi berkenaan dengan isi media dalam buku mereka
edisi tahun 1995. Ketiga studi isi ini telah termasuk dalam edisi 1983 dan 1988, tetapi telah dihapus pada
tahun 1995. The Seduction of the Innocent dari Frederic Wertham yang menyebabkan kegemparan di
masyarakat dengan menghubungkan sebuah analisis isi mengenai seksual dan kekerasan dalam buku komik
dengan asumsi beberapa isi komik yang memiliki efek negatif bagi pembaca, terutama menyebabkan
peningkatan di kalangan anak remaja. Studi ilmiah tentang isi yang lebih baru adalah analisis George Gerbner
mengenai kekerasan dalam laporan sebuah komisi berkenaan dengan penyebab dan pencegahan kekerasan,
Violence and The Media (Baker & Ball, 1969). Studi ini juga termasuk riset media profesional the “who”—
tetapi yang dilaporkan hanya dua dari 11 laporan dalam volume ini. Analisis isi lainnya oleh Gerbner terdapat
dalam bedah laporan umum berikutnya, Television and Social Behavior (Gerbner, 1971). Tahun 1982 sebagai
kelanjutan tahun 1971, studi tentang televisi telah melihat literatur yang dipublikasikan sejak laporan
sebelumnya, termasuk studi yang mendefinisikan konsep “kekerasan” dan penyebabnya mengapa kekerasan
hadir dalam program televisi.
Pada Pemirsa
Kebanyakan studi “Milestone” membahas kategori “to whom” . Yang pertama, The Payne Fund Studies
tahun 1993. Tujuan studi ini termasuk pengukuran isi film dan komposisi audiens, dengan obyek utamanya
penyebab bagaimana film mempengaruhi anak-anak. Hasil penelitian menjembatani kategori “audiens” dan
“efek” dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor asli individual dan situasional memediasi efek
film.
The invasion from Mars (Cantril, 1940), lebih mudah untuk menempatkan hal ini dalam kategori
“audiens” pada matrik kita. Cantril menelaah faktor audiens yang terhubung dengan prilaku panik melalui
wawancara personal dengan audiens yang merupakan anggota dari siaran radio terkenal Orson Welles.
The People’s Choice. Ini merupakan studi di Erie County mengenai studi pemilih (Lazarsfeld et.al, 1948),
menguji bentuk keputusan pemilihan, yang fokus utamanya pada kategori-kategori sosial dan predisposisi
audiens. Peneliti memulai dengan asumsi bahwa pemilih yang mengubah pilihan secara sadar antara Mei
hingga November disebabkan kampanye komunikasi, tetapi studi tidak menunjukkan membuktikkan asumsi
itu. Personal Influence (Katz & Lazarsfeld, 1955). Secara sama juga berpengaruh dalam fokus ini. Para peneliti
telah mensurvey wanita yang menyebabkan pada siapa mereka meletakkan sejumlah bentuk informasi. Studi
ini terdapat dalam analisis level makro yang mengeksplorasi jaringan hubungan, akan tetapi pengukurannya
dibatasi pada responden individual.
Menggunakan beberapa data dari studi tentang personal influence dan data lain yang dikumpulkan oleh
kantor Penelitian Radio Universitas Columbia di tahun 1940an, Herta Herzog menguji cara audiens
menggunakan media massa. Studi ini merupakan pendahuluan bagi pendekatan uses and gratification,
sebuah penelitian yang sangat terkenal hingga sekarang. Di tahun 1943, wilayah kajian subur lainnya telah
mulai berjalan—the diffusion of innovations and of Informations. Bryce Ryan dan Neal Gross
mempublikasikan suatu studi dalam “The Diffusion of Hybrid Seed Corn in Two Iowa Communities” dalam
jurnal Rural Sociology.
Studi dari Schramm, lyle dan Parker mengenai audiens anak-anak, “Television in The lives of Our
Children” (1961) merupakan penyelidikan pertama dalam skala luas mengenai anak dan televisi. Hal ini
berdasarkan perbandingan antara individu-individu anak. Penulis fokus pada anak sebagai audiens aktif,
penggunaan media televisi oleh anak, dan dalam hal fungsi televisi melayani anak-anak. Laporan The Violence
and The Media (1969) menyebutkan studi lebih umum tentang audiens terkait dengan kekerasan media.
Survey berkonsentrasi pada norma audiens mengenai kekerasan dan kebiasaan media.
TV in Day-to-Day Life: Patern of Use (Comstock & Rubintein, 1971), hal keempat dalam 4 seri volume
dalam televisi dan prilaku yang diisukan oleh Kantor Ahli Bedah Umum Amerika, memberi penjelasan lebih
tentang audiens dalam hal penggunaan televisi. Studi terakhir dalam kategori “to whom” mendekatinya dalam
analisis level makro. The Flow of Information (DeFluer, Larsen, 1948) menguji bagaimana informasi mengalir
melalui sistem sosial. Penulis mempelajari bagaimana slogan termasuk dalam leaflets dijatuhkan dalam
komunitas yang terdistorsi oleh audiens.
Dalam Efek
Studi efek yang terkenal termasuk yang dikembangkan oleh ahli psikologi Carl Hovland selama Perang
Dunia II ( Hovland, Lumsdaine & Sheffield, 1949), yang secara sistematik isi, menyebakan pesan yang sangat
persuasif. Meskipun komponen lain dalam deksripsi Lasswell mengenai proses komunikasi termasuk dalam
studi ini (misalnya kredibilitas komunikator dan struktur argumen dalam pesan), hal-hal itu menarik hanya
dalam istilah efek yang diproduksi. Studi lanjutan oleh Hovland mengenai peran sentral persuasi
mempengaruhi penelitian komunikasi (Hovland, Janis, Keller, 1953).
Studi akhir dalam matrix kita (McCombs & Shaw, 1972), menguji agenda setting media. Peneliti
menemukan, media berpotensi memiliki dampak persuasif kognitif melalui penekanan sebuah agenda isu yang
mengatakan kepada masyarakat bukan apa yang dipikirkan, tetapi apa yang dipikirkan tentang sesuatu.
Textbook
Ada tiga buku yang dapat dijadikan contoh menarik, yakni Mass Communication Theories and Reasearch
(Tan, 1985), Mass Media Processes and Effect (Jeffres, 1986), dan Communication Theories: Origins, Methodes,
and Uses in The Mass Media (Severin & Tankard, 1992).
Ketiga buku teks memulai dengan bab yang berkenaan dengan sifat alami teori dan penelitian secara
umum dan kemudian mencurahkan perhatian mereka mayoritas pada wilayah kajian audiens dan penelitian
efek. Tan memilih bagian komunikasi dan persuasi efek, audiens dan kebutuhannya, sosialisasi, serta media
dan perubahan sosial (hal ini merupakan pendekatan level makroanalisis). Hanya 6 persen dari buku yang
membahas komunikator dan lingkungannya. Jeffers, memilih riset efek—bahasan bab tentang sosial, politik,
ekonomi dan efek budaya. Hanya satu bab yang membahas audiens, dan isi lain, tetapi banyak tulisan
diarahkan pada persepsi audiens mengenai isi media. Kurang lebih 15 persen dari isi buku terdiri dari informasi
mengenai industri media, masyarakat, dan organisasi. Severin dan Tankard memilih bagian luas dari teks yang
ditulis yakni mengenai metode dan model ilmiah, persepsi dan isu-isu bahasa, pendekatan psikologi-sosial,
dan efek media serta penggunaannya. Hanya satu bagian utama yang ada di bagian akhir, berhubungan
dengan media sebagai isntitusi. Termasuk bab-bab mengenai kepemilikan media dan media di masyarakat
modern. Di bab-bab berikut , bagaimana pun diskusi mengenai peran dan fungsi media masih terhubung
dengan efek media, tetapi dalam skala sosial yang lebih besar.
MENGAPA FOKUS KEPADA TRADISIONAL?
Kebanyakan arah dari fokus teori komunikasi secara tradisional membahas “kepada siapa” dan “dengan efek apa”
dan kebanyakan level analisa sudah mengarah kepada level analisis individual atau mikro. Shoemaker & Reese mengajak
agar kita memperhatikan masalah yang kedua: mengapa hal tesebut menjadi kasus ?
Koteks Ilmu Sosial
Jurnalisme dan ilmu sosial keduanya merupakan sistem pengumpulan informasi dan keduanya memiliki banyak
kesamaan. Keduanya merupakan aktivitas yang mencoba menghadirkan dunia sebenar mungkin. Keduanya mengklaim
obyektivitas, dan karena kealamiahan keduanya menghadirkan sebuah cara pandang yang terbatas. Keduanya tidak
dapat dipahami terpisah dari budaya yang memproduksi dan mendukungnya.
Ilmu Sosial dan jurnalisme memiliki rutin— kebiasaan, pola prosedur yang diterima sebagai acuan bagi para
praktisi. Bagi jurnalis, termasuk perannya dalam menjaga informasi, sistem pertahanan, keseimbangan diantara isu
cerita, dan kenyataan di dalam sumber yang memiliki otoritas. Untuk ilmu pengetahuan sosial, mereka mencakupi
sistem obsevasi, formula hipotesis, dan pengujian data. Cara-cara tersebut dikembangkan untuk membantu para praktisi
di dalam mempraktekkan ilmunya guna menafsirkan situasi yang tidak jelas (tuchman,1977,1979; kidder & judd, 1986).
Rutinitas membantu jurnalis menyatakan akurasi dan obyektivitas sementara peneliti menyatakan realibilitas
dan validitas ilmiah. Jurnalis mewawancarai sumber yang terpercaya, dan mencegah ekspresi yang melebihi pendapat.
Ilmuan sosial menggunakan metode duplikasi.
Baik jurnalis maupun ilmuan sosial tentu saja memiliki kelemahan. Misalnya memiliki kecenderungan untuk
memiliki bias. Kenyataanya, tidak ada sistem informasi yang secara lengkap dapat memuaskan. Sebagai gantinya, kita
bisa mempercayai apa yang Kuhn (1962) katakan sebagai paradigma cara mewakilkan kenyataan berdasarkan luasnya
asumsi yang dipertukarkan tentang bagaimana cara mengumpulkan dan mengartikan informasi . Paradigma ini tidak
menyediakan kebenaran, melainkan memberi kita informasi berguna melalui cara yang dapat diterima.
Ilmu pengetahuan ilmiah, terutama di dalam bidang sosial, juga termasuk ilmu yang disaring. Ini hanya terfokus
kepada pertanyaan yang dianggap penting dalam paradigma yang dimilikinya.Terdapat peningkatan kesadaran yang ada
di dalam ilmu sosial sebagaiman juga dalam bidang jurnalisme, jawaban yang kita temukan tergantung pada pertanyaan
yang kita tanyakan.
Fokus pada Individu
Terdapat tiga bias budaya Amerika yang memberi masukan pada orientasi level mikro penelitian komunikasi
massa, yakni : budaya, metodologi, dan teoritis.
Individualisme sebagai Bias Budaya
Ilmu sosial di Amerika berbagi prioritas budaya negara ini secara lebih besar. Satu diantaranya individu lebih
utama dari kolektivitas. Yang diidealkan oleh budaya Amerika menekankan pada individualisme. Idealnya paham
individualism ini lebih mementingkan kepercayaan diri, aktualisasi diri, dan kebebasan. Orang yang bergantung disebut
lemah dan secara psikologis tidak berkembang. Jika tidak dalam hal praktis, hal ini memberi nilai pada pemikir
independen atas organisasi. Individualisme tentu juga tergambar dari agama dan norma yang terdapat di Amerika.
Penganut agama protestan yang dominan di AS, menekankan pada hubungan personal dengan Tuhan, umumnya orangorang AS menginginkan rumah single-family dengan halamannya begitu pun orang-orang di sekitarnya.
Individualisme sebagai Bias Metodologi
Metode yang kita kembangkan untuk mengkaji prilaku juga kuat dipengaruhi bias individu dan bekerja berlawanan
dengan studi pada struktur sosial yang lebih luas. Teknik statistik yang kita gunakan untuk menganalisis data biasanya
didasarkan pada survey responden individual, dengan demikian tiap-tiap orang dapat menjadi kasus. Individu adalah
unit analisis.
Pertumbuhan metode statistik, berbarengan dengan tumbuhnya profesionalisme ilmu sosial setelah Perang Dunia
ke-II, mengarahkan pada hasrat untuk menyusun prosedur penelitian yang lebih terstandarisasi secara “ilmiah”.
Sosiologi yang kerapkali disebut sebagai “tool maker” bagi ilmu-ilmu sosial, secara khusus memiliki perhatian dengan
pengukuran respon individual melalui survey skala besar dan analisis variabel. Meskipun pendekatan ini memberi
pengukuran yang lebih presisi berkenaan dengan beberapa prilaku manusia, hal ini memiliki kesulitan lebih besar dalam
menangkap kualitas penelitian mengenai kelompok dan komunitas.
Individualisme sebagai Bias Teoritis
Kita berteori secara lebih mudah, yakni mengenai hal-hal yang dapat kita ukur. Konsekuensinya, bias-bias
metodologi kita mungkin hanya mengembangkan teori pada level mikro. Beberapa pengembangan teori lebih rumit,
faktanya bahwa banyak perilaku individual yang secara umum memiliki banyak penyebab. Teoritisi Amerika memiliki
kebiasaan pada penjelasan yang sifatnya individual, muncul beberapa kritik hal tersebut sebagai hal yang restriktif.
Setalah Perang Dunia II, penelitian komunikasi mendapat masukan sangat berarti dari bidang psikologi sosial,
termasuk kelompom dinamik, norma, hubungan interpersonal, dan perilaku—serta menggunakan mereka untuk
menjelaskan bagaimana komunikasi massa dimediasi oleh audiens (Delia, 1987). Bagaimana pun psikologi sosial
cenderung menjelaskan hal sosial dengan referensi psikologis lebih dari cara-cara lain. Tiga bidang yang terkenal dari
penelitian psikologi sosial yakni: androgyny, konsistensi kognitif dan agresi menunjukkan secara lebih jelas hal ini.
Androgyny, merupakan kehadiran gangguan kepribadian individu baik untuk laki-laki maupun wanita dan diasumsikan
untuk mendefinisikan “sebuah standar kesehatan psikologis” (Bem, 1974) . Konsistensi Kognitif, individu-individu
biasanya memiliki cara pandang tentang perilaku secara konsisten, dan ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu yang
dia pikirkan akan menghasilkan tingkat ketidaknyamanan atau disonansi. Ahli psikologi sosial juga melihat faktor
individual yang menyebabkan prilaku agresi. Dalam satu garis penelitian yang populer, misalnya, seseorang ditemukan
merespon secara lebih agresif jika mereka frustasi, lebih tepatnya kita katakan, jika frustasi dilihat sebagai “arbitrary”.
Kita butuh memahami bahwa: karena kita dapat mengukur prilaku individual, kita jangan menyimpulkannya
bahwa faktor-faktor individual sebagai perilaku penyebabnya.
Fokus pada Audiens dan Efek
Sebagai identifikasi dalam alasan-alasan umum yang telah disampaikan matrik pada level mikro atau individual,
kita selanjutnya mengidentifikasi beberapa faktor yang cenderung membatasi topik studi dalam riset teori komunikasi.
Sebagaimana kita lihat, fokus dominan secara tradisional terdapat dalam bahasan proses dan efek isi komunikasi
sebagaimana digunakan oleh audiens, daripada organisasi, institusi dan akar budaya dari isi media itu.
Ilmu Sosial yang Tidak Kritis
Riset komunikasi massa sama halnya dengan riste ilmu sosial lainnya dalam pegembangannya telah gagal menguji
secara kristis sistem dimana ia telah dikembangkan. Kelemahan ilmu sosial diamati oleh Robert Lynd (1939) dan
berlanjut hingga menjadi masalah hari ini. Para ahli ekonomi menghabiskan waktu hanya untuk menguji operasionalisasi
sistem ekonomi terkini dan mengevaluasi cara-cara untuk keselarasannya, daripada mengamati sistem alternatif. Begitu
pun dengan ilmu politik, cenderung menyelidiki hal-hal minor dari sistem politik, daripada pengamatan tentang sesuatu
yang memiliki dampak luas pada sistem, lagi-lagi juga tidak pada kemungkinan-kemungkinan alternatif.
Kritik lynda mengenai ilmu ekonomi dan politik juga dialami oleh penelitian komunikasi massa, yang hingga saat ini
hanya terkonsentrasi pada operasionalisasi media sehari-hari dan jarang bertanya soal institusi medianya sendiri. Tentu
saja, ilmuan sosial di segala disiplin melakukan fungsi yang berguna dengan bantuan mereka untuk memahami proses
berbagai hal yang terdapat dalam ilmu sosial.
Ketidakkritisan dalam penerimaan status quo ini makin nyata dalam tahun-tahun terakhir ini seiring dengan
pertumbuhan penting institut riset berorientasi kebijakan dari “kelompok pemikir” yang mengupah dan
mempromosikan pekerjaan analis riset sosial mereka sendiri. Hal ini menimbulkan bias politik dan mereka semakin
dekat dengan elit mapan Amerika. Publik bisa melihat para ahli dalam bidang televisi merepresentasikan diri mereka
sebagai kelompok pemikir beberapa pusat studi dan strategi internasional yang menerima pendanaan utama dari
yayasan konservatif dan kontraktor pertahanan. Dalam analisisnya mengenai pertumbuhan para “ahli” ini, James Smith
mengatakan :”mereka harus berbicara kekuasaan dalam konteks politik dan birokratik. Dan mereka harus berbicara
kebenaran yang berguna. Klaim mereka untuk berbicara kebenaran harus selalu dilihat secara terang dalam
hubungannya mereka dengan kekuasaan”. Maka, keahlian para analis ini tergantung tidak pada kecerdasan
intelektualnya, tetapi pada statusnya sebagai orang dalam pemerintahan dan keakrabannya dengan “para pemain”.
Masa Awal Patronase Institusional
Para ilmuan komunikasi massa dan lembaga-lembaga yang mereka teliti adalah saling-berhubungan erat.
Perhatian akademis seringkali pada lembaga-lembaga media besar, dan sejarah awal penelitian komunikasi massa
adalah terinspirasi dari sejarah media massa. Salah satu figur utama sebelumnya dalam penelitian komunikasi massa,
sosiolog Paul Lazarsfeld, mempelopori Bureau of Applied Research di Univeritas Columbia, dan kata applied (praktis)
tidak dipilih dengan mudah. Biro secara aktif mencari pendanaan korporat untuk studi-studi awal mengenai konsumen
dan pemilih dari pengguna media, sebaliknya studi-studi tersebut menyediakan pengetahuan “praktis” kepada para
sponsornya.
Robert Lynd dan C. Wright Mills, juga berasal dari Fakultas Sosiologi di Columbia. Lynd merupakan orang pertama
kemudian Wright Mills yang menyerang model baru penelitian yang melihat pola hubungan aliansi akademik-korporat.
Ketergantungan uang kepada pihak luar universitas merupakan masalah. Patronase institusional berpengaruh dalam
komunikasi dengan mempromosikan bentuk penelitian yang dilabeli secara administratif. Gitlin menyatakan (1978):
Paradigma dominan dalam bidang Ilmu sejak Perang Dunia Ke-II secara jelas menjadi kelompok pemikiran, metode
dan penemuan yang diasosiasikan pada Paul F Lazasfeld dan alirannya. Pencarian untuk hal yang spesifik, terukur,
jangka-pendek, individual, mengenai sikap dan prilaku “efek dari isi media, dan kesimpulan bahwa media tidak begitu
penting dalam informasi opini publik.
Masalah yang ditunjukkan oleh penelitian administratif—dalam istilah lain, penelitian yang perhatian utamanya
berkenaan dengan organisasi media besar—fokus pada apa yang audien lakukan terhadap produk media. Pada
pertengahan tahun 1930an Lazarsfeld bekerja dalam penelitian radio dengan Frank Stanton, kemudian menjadi Direktur
Riset CBS. Pemerintah yang juga menginginkan informasi mengenai efek media. Test eksperimen awal Carl Hovland
mengenai persuasi melalui media massa telah didanai oleh Pemerintah AS yang memiliki kebutuhan membangkitkan
semangat berjuang para tentara melawan Jerman dan Jepang selama Perang Dunia II. DeFleur and Larsen mengenai
“Alur Informasi juga telah didanai pemerintah AS (tepatnya oleh Angkatan Udara AS)untuk mengukur efektivitas
propaganda .
Pola Hubungan Dewasa Ini
Organisasi media terus menyediakan bantuan bagi ilmuan untuk mengarahkan penelitian, dan profesional media
terus melayani sejumlah kampus dan universitas. Banyak professor di Departemen Studi Komunikasi (dengan beragam
sebutannya seperti jurnalis, komunikasi massa, telekomunikasi, radio-TV-Film dll.) telah bekerja di media dan membawa
nilai media tersebut ke dalam pengajaran dan riset mereka.
RINGKASAN
Seperti kita lihat, sejumlah faktor yang mengombinasikan penelitian di matrik yang dibahas di atas, cenderung
melalui sebuah pendekatan individual atau level mikro serta berkenaan dengan audiens dan efek media. Teori dan
penelitian, secara keseluruhan, tidak berada di ruang vakum. Semua itu merupakan aktivitas manusia, yang dibentuk
oleh sejumlah kekuatan budaya yang mempengaruhi aktivitas manusia lainnya. Pertumbuhan substansial lembaga riset
dalam organisasi, sosial, ekonomi dan akar budaya dari isi media telah dihadirkan oleh framework teoritis yang
teroganisir.
Strategi Jitu menjinakan media
Di negara demokrasi barat seperti Australia , Inggris dan Amerika Serikat para eksekutif korporasi dan
organisasi besar tidak dapat lagi bersembunyi dari wartawan dibelakang kata “no comment” . Media spesialis
dam umum memeriksa seluruh wilayah bisnis, perdagangan, industri dan profesi. Diam hanya melahirkan
kecurigaan.
Jika anda tidak memberitahukan sisi anda terhadap suatu cerita,bagaimanapun juga, media akan tetap
memuat cerita tersebut. Sebagai gantinya mereka akan berbicara dengan kompetitor anda. Dan biasanya, anda
dan organisasi anda akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan karena menolak berkomentar.
Ketika mewawancarai juru bicara organisai dan bisnis, media sering menyesali kurangnya “talenta yang baik “.
Istilah media untuk juru bicara yang dapat memberikan informasinya secara singkat dan jelas dengan cara yang
akan menarik audiens. Sangat sering juru bicara berbicara tanpa tujuan dengan penjelasan panjang lebar dan
istilah-istilah teknis yang berjalan ke kepala orang biasa. Untuk berhasil dalam wawancara media, anda perlu
memahami bagaimana cara mengemas infomasi anda untuk media dan audiens.
Dengan memahami media dan menjadi akrab dengan dan mahir dalam teknik wawancara , juru bicara dapat
menyambut wawancara media dengan gembira dan menggunakannya sebagai peluang yang positif untuk
komunikasi. Di zaman yang kompetitif saat ini, perusahaan, organisasi, dan bahkan instansi atau departement
pemerintah seperti “kepolisian” harus dapat berkomunikasi secara koheren dan efektif dengan pemegang saham
mereka dan masyarakat umum.
Profesor C. Nortcote Parkinson, yang terkenal karena “Hukum Parkinson”nya, mengatakan pada konferensi
media di Sydney selama kunjungannya ke Australia :
“Di dunia saat ini, anda tidak memiliki peluang jika terus berdiam diri. Ada masanya dimana orang-orang
yang sangat berdiam diri tidak berhasil memberitahukan pandangan mereka. Sekarang, jika anda tidak
berbicara, orang lain akan berbicara dan tidak menguntungkan anda. Orang harus mengatakan pendapatnya
dan mengatakannya secara lebih efektif dari lawannya”.(Macnamara, 1984:10)
Bertahun-tahun melatih juru bicara menghadapi media dan menganalisis wawancara, kini terungkap tiga alasan
utama mengapa wawancara tidak berhasil ditinjau dari sudut mengkomunikasikan apa yang ingin dikatakan
oleh orang yang diwawancarai :
1. Sikap
2. Ketidakseimbangan
3. Kurang persiapan
Untuk berurusan dengan media, anda terlebih dahilu harus memiliki sejumlah pengetahuan tentang mereka.
Sejak dari awal, pemahaman anda terhadap kebutuhan, fungsi, peranan media, dan prosedur kerjanya membetuk
sikap anda terhadap wartawan dan editor. Sikap, pada gilirannya, secara signifikan akan mempengaruhi
wawancara yang anda berikan dan hubungan anda selanjutnya denga media. Jika anda tidak mempercayai atau
tidak menyukai wartawan, biasanya ini akan muncul dan akan mempengaruhi urusan anda dengan media. Iklim
kecurigaan tidak kondusif bagi hubungan baik atau keberhasilan komunikasi.
Salah satu pemilik media Australia, Kerry Packer, sendiri tidak memiliki penggemar wartawan. Packer
mengatakan :
“ketika media dikritik, reaksinya seketika adalah menyalibkan kritik tersebut. Menyerang si pembawa berita.
Oleh karena itu tidaklah mengejutkan semakin lama semakin sedikit orang yang tertarik berdiri melawan orang
media yang sering mengganggu. Pertama itu tidak menghasilkan apa-apa dan, kedua, hanya menarik perhatian
kepada anda sendiri yang dinegara ini bukan sesuatu yang ibgin anda lakukan. Sialnya, banyak orang
Australia ingin menghancurkan siapa saja yang berhasil. Tidak terkecuali wartawan. Mereka telah menjadi
hukum pada diri mereka sendiri. Yang benar adalah wartawan, seperti orang lain, harus bertanggung jawab
pada seseorang”.(Kelly,1995:28)
Peranan media bervariasi secara meluas diseluruh dunia. Di negara komunis, peranan media adalah berfungsi
sebagai “agen negara” . Para pendiri komunisme Stalinis dan Marxis melihat media sebagai alat yang esensial
untuk menyepuh dukungan politik dan “mendidik rakyat”. Di sejumlah negara yang sering berkembang seperti
di Asia Tenggara, media melakukan peranan yang dilukiskan sebagai “agen pembangunan”. Di Indonesia,
misalnya pemerintah melihat media sebagai sumbar daya yang kritis untuk membantu dalam
mengkomunikasikan pendidikan dan informasi yang vital mengenai isu yang mendasar seperi kesehatan,
furifikasi air, pengendalian kelahiran kepada 180 juta penduduk bangasa ini yang tinggal di lebih dari 13.000
pulau. Media diharapkan membantu pemerintah dalam tugasnya mempersatukan dan membangun bangsa, serta
meliput peristiwa masional.
Dalam demokrasi yang pluralistic, media telah mengadopsi peranan “penyanggah” (devil’s advocate). Sangat
bermanfaat jika memahami sal istilah “penyanggah”karena istilah tersebut menerangkan perilaku media dalam
banyak situasi. Istilah ini berasal dari proses penyucian orang suci dalam gereja katolik. Ketika seorang
dianggap pantas untuk dinyatakan sebagai orang suci, sekelompok kardinal atau pejabat Gereja ditunjuk untuk
mempertimbangkan kasus itu. Guna memastikan keseimbangan dan setiap kesalahan terungkap, seorang
kardinal atau seorang yang terkemuka diangkat sebagai “penyanggah”tanpa memandang pandangan pribadinya
mengenai kesucian atau dalam hal lain tentang calon peranannya adalah secara keras mencari pelanggaran,
kekurangan,atau kesalahan.
Apa itu berita?
Jurnalisme berasal dari kata Perancis du jour yang berarti “harian”. Jurnal adalah notasi tentang apa yang
terjadi selama satu hari yang dikumpulkan dan ditulis oleh reporter, disebut dengan Jurnalis.
Jurnalisme barat yang modern meninggalkan latar belakang partisan di abad ke-19, ketika para reporter tanpa
malu-malu mengangkat tunjuan bahkan secara memihak, partai politik khusus. Apa yang berubah, Saya
mendengar anda bertanya ? meskipun tidak mungkin media akan kembali ke gaya Amerika di tahun 1700-an.
Misalnya, surat khabar Wasington yang pertama, National Intelligencer didirikan sebagai alat untuk partai
Jefferson setelah presiden terpilih Thomas Jefferson memberikan gagasannya kepada editor Samuel Harrington
Smith. Penulis dan analis media Amerika, Michael Nelson, juga menjelaskan bagaimana Globe didirikan oleh
Andrew Jackson dan diedit oleh lingkaran penasehatnya.(Nelson,1982)
Menghindari sifat depensif
Jika mendekati media dengan sikap curiga, yang mempercayai bahwa wartawan dan editor dengan sengaja
dibiaskan dan merugikan anda, maka anda akan memiliki peluang sedikit bagi keberhasilan hubungan
media.”sikap defensif” meningkatkan permusuhan. Dan ini menciptakan sikap mengalah yang mulai
membayangkan bias dalam setiap cerita. Juga terdapat konsep yang disebut “jurnalisme klik” yang
menghasilkan apa yang tampaknya menjadi ideolodi bersama dan konspirasi terorganisir dalam media.
Meskipun bukan sesuatu yang seharusnya dibanggakan media, “jurnalisma Klik” lebih banyak merupakan
faktor sifat manusia daripada konspirasi terorganisir. Wartawan seperti professional lain, cenderung mengikuti
pemimpin. Jadi ketika seorang reporter atau media yang berpengaruh mengangkat sebuah isu atau mengambil
sikap, orang lainnya cenderung mengikuti apa yang kadang-kadang berakhir menjadi “pengejaran sesuatu oleh
kelompok” media.
Jaringan surat kabar, media, dan televisi terkunci dalam persaingan sengit. Juga, sebagian besar wartawan dan
editor cenderung menjadi individu independen. Media tidak merugikan anda. Ketika menghadapi media, anda
menghadapi institusi yang tidak sempurna bukan tentara yang terorganisir.
Apa perbedaan antara wawancara pers, radio dan televisi ?
Wawancara pers
Wawancara pers dapat jauh lebih santai dan pernyataan dapat lebih panjang. Artikel featur surat khabar dan
majalah akan meliput isu secara lebih dalam dan memberikan lebih babyak ruang kepada anda. Sebagian besar
wawancara pers memiliki persyratan yang sama dengan media elektronik ditinjau dari sudut kesingkatan dan
nilai berita. Sifat wawancara pers yang tampaknya santai dibandingkan dengan wawancara media elektronik
dengan mikrofon, kabel, lampu serta rasa urgensi dan ketegangannya seyogianya tidak menidurkan anda
kedalam rasa keamanan yang salah. Wartawan pers mungkin memiliki gaya santai, tetapi mereka sama
tajamnya dan persyratan mereka sama menuntutnya seperti kolega media elektonik mereka yang lebih glamour.
wawancara televisi
Televisi dilihat sebagai tantangan besar oleh sebagian besar orang yang diwawancarai dan kebanyakan takut
akan wawancara TV. TV lebih menuntut dalam arti audiens melihat anda dan mengejar anda. Bahasa tubuh,
pakaian, latar belakang, dan gerakan anda semuanya memberikan konstribusi pada komukasi dengan audiens.
Jika kata muncul dengan benar, tetapi anda banyak berkeringat, anda kelihatan tidak dapat dipercaya. Anda
harus mengeluarkan suara dan melihat dengan benar. Jika seekor lalat bergerak perlahan dihidung anda, pemirsa
akan kehilangan semua yang anda katakana karena mereka terlalu tersita melihat gerakan lalat tersebut.
Penampilan termasuk pakaian, rambut dan ekspresi muka penting di TV.
wawancara radio
Radio seyogianya tidak dipandang sebagai “televisi tanpa gambar”. Radio memiliki karakteristik dengan
manfaat komunikasi yang tidak dapat ditandingi oleh TV. Radio mengudara 24 jam sehari disebagian besar kota
dengan berita setiap jam serta banyak kesempatan bagi anda untuk berbicara kepada audiens dalam acara “ talk
show” dan “ talk back”. Radio menawarkan ruang lingkup lebih banyak dalam waktu penuh yang tersedia
disebagian besar keadaan. Transmisi radio telah berkembang 3 kali lipat dalam 25 tahun silam dengan lebih dari
satu miliar radio penerima didunia. Kira-kira satu untuk setiap 4 orang di bumi. Orang mendengar radio ketika
mereka sedang berjalan, jogging, melakukan pekerjaan rumah tangga, di pantai, mandi di pancuran dan
bercinta.(Deakin University, 1985:5).
Radio adalah apa yang terjadi sekarang. Bahkan wawancara yang direkam akan mengudara dalam
beberapa jam paling lama. Radio memberikan ilusi hubungan “satu untuk satu”. Ini dibuktikan dengan pasti
dalam hal dimana pendengar telah jatuh cinta dengan penyiar dan kaget mengetahui bahwa orang lain membagi
hubungan yang sama. Satu teks menguraikan bahwa radio “Sesungguhnya merupakan piranti kita untuk
menguping percakapan yang terjadi diantara 2 orang“. (King dan Robert, 1973: 24-32)
Meskipun demikian, pesan radio merupakan momen suara yang berlalu dengan cepat. Radio bukan
medium untuk penjelasan yang kompleks atau daftar fakta dan statistik. Radio dapat sangat intim, mediun yang
hangat. Sedangkan media cetak dingin.
Kejujuran, kehalusan dan keharuan
Ada tiga unsur vital lain dari seluruh wawancara media, kejujuran, ketulusan, dan keharuan atau empati.
Anda sebaiknya selalu jujur terhadap media. Ini tidak berarti harus memberitahukan segala hal kepada
wartawan. Tetapi seyogianya menceritakan kebenaran dalam apa yang anda katakan. Juga sebaiknya tidak
bersifat menghindar dalam menjawab pertanyaan. Dalam media elektronik, audiens akan dapat mendengar atau
melihat hal ini dan akan percaya anda sedang menyembunyikan sesuatu yang buruk. Wartawan akan menyadari
dan menghampiri untuk menghantamnya..
Sebagian besar wartawan sudah terlatih dalam teknik bertanya. Apakah seseorang menceritakan kebenaran.
Beberapa orang terganggu jika ditanyakan pertanyaan serupa atau sama beberapa kali. Pertanyaan yang diulangulang dengan segala dalam bentuk sudut berbeda hanya merupakan salah satu cara memeriksa konsistensi
dalam jawaban.
You might also like:
Download